Topik ini saya angkat karena didasari rasa keprihatinan tentang kondisi bandara Soekarno-Hatta yang semakin semrawut. Maka timbul di pikiran saya akan bandara impian. Bandara Soekarno-Hatta (Soekarno-Hatta International Airport) adalah satu-satunya bandara internasional terbesar yang dimiliki Indonesia. Mengingat letaknya berada di Jakarta yang merupakan ibu kota negara Indonesia, maka bandara ini pun sebagai simbol pintu gerbang utama untuk masuk negara Indonesia.
Namun menurut saya untuk saat ini bandara Soekarno Hatta sudah tidak pantas lagi dijadikan simbol pintu gerbang negara Indonesia. Bandara yang mulai beroperasi tahun 1985 tersebut memang sudah tergolong tua. Belum lagi kapasitas yang kecil bila dibandingkan dengan peningkatan jumlah penumpang yang fantastis dalam 5 tahun terakhir. Meningkatnya jumlah penumpang tersebut karena banyaknya maskapai penerbangan swasta yang menawarkan tiket murah.
Dasar pemikiran saya adalah bandara Soekarno-Hatta sudah tidak memenuhi syarat dalam melayani peningkatan jumlah penumpang yang meningkat terus. Hal tersebut karena jumlah penumpang meningkat, namun luas terminal tetap, sehingga menjadi sesak dan terkesan semrawut.
Saya coba bandingkan dengan negara Asean yang pernah beberapa kali saya kunjungi. Seperti negara tetangga kita Malaysia yang memiliki Bandara Internasional Kuala Lumpur atau yang sering disebut KLIA (Kuala Lumpur International Airport) bahkan ketika saya kembali berkunjung ke Malaysia akhir tahun 2006 saya melihat adanya perluasan wilayah lagi dengan pembangunan terminal baru khusus Air Asia. Walaupun untuk biaya pembuatannya menggunakan dana dari perusahaan Air Asia, namun artinya pihak bandara siap dengan adanya perluasan wilayah. Berbeda dengan bandara Soekarno-Hatta yang hingga kini masih saja berkutat dengan pembebasan tanah, belum lagi masyarakat sekitar yang makin nekat membangun perumahan liar di sekitar bandara.
Yang paling kontras apabila saya bandingkan dengan bandara yang baru di Thailand. Nama bandaranya adalah Suvarnabhumi Airport di Bangkok, Thailand. Bandara yang baru dibuka bulan September 2006 lalu, terletak di 25 km sebelah timur kota Bangkok menggantikan Donmuang International Airport. Ketika saya berkunjung ke Suvarnabhumi, bandara tersebut baru saja beroperasi beberapa bulan. Namun segala fasilitas sudah berfungsi dan layak digunakan. Kesan yang saya lihat dan rasakan ketika sampai di Suvarnabhumi adalah luas, artistik, bersih dan dingin. Walau temperatur di Bangkok tergolong panas namun tidak terasa panas karena adanya sistem pendingin udara yang canggih, silakan rasakan apabila anda ke Suvarnabhumi Airport.
Bandara Suvarnabhumi bukan hanya menjadi sekadar tempat bagi orang yang hendak bepergian dengan pesawat, tetapi juga sekaligus sebagai tempat berbisnis dan rekreasi. Bentuk bangunan yang artistik dengan konstruksi besi menambah kesan modern. Hampir tidak ada bedanya dengan mal apabila dilihat dengan banyaknya toko-toko, cafe, restoran, dan duty free shop di sepanjang lokasi menuju ruang tunggu pesawat.
Simpulan saya adalah Bandara Internasional Soekarno Hatta sudah tidak layak lagi menjadi bandara internasional yang notabene menjadi pintu gerbang utama negara Indonesia. Saya merasa malu dengan negara lain seperti Malaysia dan Thailand yang sama-sama negara berkembang di Asean namun mereka jauh lebih maju dibanding Indonesia. Saya tidak bisa membayangkan kesan pertama para investor asing atau turis yang pertama kali menjejakan kaki di Jakarta ketika melihat bandara Soekarno Hatta yang semrawut, terkesan tua, dan jauh dari kesan modern. Belum lagi permasalahan kebersihan seperti yang Sdr. Tedy paparkan dalam tulisannya yang berjudul Tikus di Soekarno Hatta yang menceritakan tentang kejadian yang menggelitik.
Kapan negara Republik Indonesia yang kita cintai ini memiliki bandara internasional yang bisa dibanggakan? Itulah pertanyaan yang selalu saya tanyakan setiap melihat bandara internasional negara lain yang pernah saya kunjungi. Kapan ya?…
By: Budy Snake
Social Observer