Monthly Archives: March 2007

Malam jumat kemarin ada kejadian tentang dua orang pemuda yang tewas terbawa arus di Sungai Opak, Yognyakarta. Kedua pemuda tersebut terpeleset ketika hendak menyelamatkan bapaknya yang terjatuh.

Yang menarik buat saya adalah ketiga orang tersebut baru saja selesai menjalani ritual “kungkum” atau berendam di Sungai Opak. Ritual kungkum bagi sebagian masyarakat di Jawa Tengah memang dipercaya membawa berkah bagi orang yang melakukannya. Berkah tersebut bisa berbentuk jodoh, kelancaran dalam karir, kedudukan atau bahkan pangkat dalam suatu organisasi.

Dalam kasus ini, bukannya kesuksesan atau berkah yang mereka dapat, tetapi musibah yang mereka dapat. Kedua pemuda tersebut tewas secara konyol atau sia-sia.

Pertanyaan yang sering saya dengungkan dalam hati, mengapa mereka begitu mempercayai hal klenik atau okultisme? Mengapa mereka tidak mau berusaha secara wajar dan rasional dalam mengejar suatu impian?

Inilah potret masyarakat kita yang masih mempercayai animisme dan dinamisme. Segala hal berbau okultisme masih diyakini dan bahkan dijadikan panutan dalam mencapai suatu hal. Inilah tanda bahwa sebagian masyarakat kita masih terbelakang dalam pola pikir dan mengalami krisis percaya diri. Bukankah kita harus berusaha dalam mencapai tujuan? Bukankah kita memiliki Tuhan? Mengapa masih saja menduakan Tuhan?

By: Budy Snake

Social Observer

Hari ini saya terkejut agak terkejut ketika mendapat kabar bahwa Chrisye telah meninggal dunia. Meskipun hal ini sudah saya duga sebelumnya, mengingat kondisi terakhir sudah sangat kritis. Empat tahun lalu, Chrisye divonis dokter mengidap kanker paru-paru stadium lanjut.

Saya merupakan salah satu pengagum beliau sejak kecil. Chrisye memiliki karakter vokal yang unik. Beberapa lagu ciptaan Guruh Soekarno Putra bahkan hanya cocok dan bagus apabila dibawakan oleh Chrisye. Saya rasa bukan hanya diri saya saja yang kehilangan Chrisye, seluruh rakyat Indonesia pun kehilangan sang penyanyi legendaris ini.

Chrisye mengeluarkan album perdana sejak era tahun 70-an, bahkan beberapa penghargaan internasional pernah disabetnya. Album terakhir yang diluncurkannya adalah album Senyawa di akhir tahun 2004, semua lagunya diciptakan oleh para penyanyi-penyanyi generasi muda yang saat itu sedang ngetop di Indonesia. Dalam album tersebut Chrisye pun berkolaborasi dalam menyanyikan setiap lagunya.

Ada beberapa lagu yang sangat berkesan buat saya, diantara yang berjudul Pergilah Kasih. Inilah lirik dari lagu ini:

Tak pernah kusangka ini terjadi
Kisah cinta yang suci ini
Kau tinggalkan begitu saja
Sekian lamanya kita berdua
Tak kusangka begitu cepat berlalu
Tuk mencari kesombongan diri
Lupa segala yang pernah kau ucapkan
Kau tinggalkan daku…
Pergilah kasih kejarlah keinginanmu
Selagi masih ada waktu
Jangan hiraukan diriku
Aku rela berpisah demi untuk dirimu
Semoga tercapai segala keinginanmu…

Dalam lagu yang memiki makna mendalam tersebut berisi tentang kisah seseorang yang merelakan kekasihnya pergi untuk menggapai impian.

Selamat jalan Mas Chrisye….

By: Budy Snake
Social Observer

Dalam tulisan saya yang berjudul Penggunaan Obat Generik telah ditegaskan bahwa kandungan yang terdapat pada obat generik sama dengan obat paten maupun obat bermerek.

Perlu dijelaskan juga mengapa harga obat generik jauh lebih murah dibanding obat bermerek? Perlu diketahui ada dua faktor utama yang menyebabkan mahalnya harga obat bermerek adalah promosi dan kemasan obat.

Obat generik tidak menggunakan iklan dalam berpromosi, oleh sebab itu bebas biaya promosi. Lalu untuk kemasan pun obat generik tidak dikemas mewah atau dengan desain kemasan yang memerlukan biaya desain yang mahal. Kemasannya hanya ala kadarnya saja, hanya dimaksudkan untuk melindungi obat agar tidak turun mutunya selama pengangkutan dan penyimpanan sebelum dikonsumsi.

Sebaliknya obat bermerek selalu dipromosikan, baik melalui iklan di media cetak maupun elektronik. Bahkan yang biasanya yang terjadi bukan dalam bentuk iklan di televisi, namun dengan cara lain yang justru membutuhkan biaya lebih besar. Misalnya promosi di suatu acara yang berskala besar. Bahkan ada yang sampai menunjuk seseorang artis untuk menjadi duta. Contohnya: Enervon C yang memilih artis muda Donna Agnesia untuk menjadi Duta Enervon C. Bisa dibayangkan berapa besarnya dana untuk membayar sang duta. Untuk membayar bintang iklan itu kan ratusan juta rupiah, apalagi sampai ditunjuk menjadi duta.

Disamping itu hampir semua obat bermerek dikemas dengan kemasan yang mewah dan dengan desain yang elegan. Desainnya pun memerlukan biaya yang besar untuk membayar jasa desainer dan biasanya disesuaikan dengan segmentasi pasar. Misalnya: vitamin C untuk anak-anak dikemas dengan botol yang unik dan nuansa anak-anak.

Ada lagi yang disebut obat paten yang memiliki tambahan biaya yang sangat mahal untuk hak patennya. Semua biaya untuk kemasan yang mewah, promosi dan paten akan dibebankan kepada konsumen maka dari itu harga secara otomatis akan menjadi mahal. Bisa 20 kali, 40 kali atau bahkan kabarnya ada yang sampai 200 kali mahalnya bila dibanding dengan obat generik.

Jelas sudah mengapa obat generik harganya jauh lebih murah. Jangan ragu untuk meminta resep obat generik kepada dokter anda. Apakah anda mau mencobanya?

By: Budy Snake

Social Observer

Saya tetap mengajar sulap, tetap melakukan show sulap maupun show ular. Hobi tetaplah hobi, walaupun terkadang ada rasa jenuh. Itu yang saya rasakan dalam menekuni hobi sulap. Saya menekuni hobi sulap sejak kecil hingga sekarang. Saya selalu belajar setiap trik sulap yang membuat saya tertarik. Sudah 15 tahun lebih saya bergelut di bidang seni sulap ini. Dalam waktu yang lama tersebut saya mengalami naik turunnya masa jenuh dan masa semangat.

Walaupun order show sedang tinggi namun terkadang masa jenuh tetap ada. Mungkin karena saya bosan memainkan trik-trik yang saya tampilkan :) Tapi hal itu selalu saya siasati dengan selalu belajar, belajar, dan belajar terus. Hal ini dilakukan agar mengurangi rasa jenuh dan mengasah kemampuan dalam dunia sulap. Walaupun saya bukan pesulap profesional namun saya mengajar sulap privat untuk mulai kelas pemula untuk close up (jarak dekat). Untuk hal ini saya tetap belajar agar pengetahuan saya tetap up to date.

Tujuan saya menekuni seni sulap selain karena hobi juga untuk membuka pandangan masyarakat tentang seni sulap yang sesungguhnya. Karena selama ini sulap selalu dihubungkan dengan hal klenik, gaib, dan mistis. Hal ini tentunya perlu diluruskan agar masyarakat kita menjadi cerdas dan tidak mudah dibodohi dengan hal-hal gaib, okultisme, animisme, dinasmisme, dan sebagainya.

Bagi yang berminat belajar sulap dan menekuninya, dapat menghubungi saya melalui Artrick Magic Studio.

Untuk info lebih lanjut tentang paket belajar sulap privat atau melihat DEMO GRATIS secara langsung di tempat saya? Anda bisa kirim email ke:

mertanus@cbn.net.id

By: Budy Snake
Magician & Snake Charmer

Topik ini saya angkat karena didasari rasa keprihatinan tentang kondisi bandara Soekarno-Hatta yang semakin semrawut. Maka timbul di pikiran saya akan bandara impian. Bandara Soekarno-Hatta (Soekarno-Hatta International Airport) adalah satu-satunya bandara internasional terbesar yang dimiliki Indonesia. Mengingat letaknya berada di Jakarta yang merupakan ibu kota negara Indonesia, maka bandara ini pun sebagai simbol pintu gerbang utama untuk masuk negara Indonesia.

Namun menurut saya untuk saat ini bandara Soekarno Hatta sudah tidak pantas lagi dijadikan simbol pintu gerbang negara Indonesia. Bandara yang mulai beroperasi tahun 1985 tersebut memang sudah tergolong tua. Belum lagi kapasitas yang kecil bila dibandingkan dengan peningkatan jumlah penumpang yang fantastis dalam 5 tahun terakhir. Meningkatnya jumlah penumpang tersebut karena banyaknya maskapai penerbangan swasta yang menawarkan tiket murah.

Dasar pemikiran saya adalah bandara Soekarno-Hatta sudah tidak memenuhi syarat dalam melayani peningkatan jumlah penumpang yang meningkat terus. Hal tersebut karena jumlah penumpang meningkat, namun luas terminal tetap, sehingga menjadi sesak dan terkesan semrawut.

Saya coba bandingkan dengan negara Asean yang pernah beberapa kali saya kunjungi. Seperti negara tetangga kita Malaysia yang memiliki Bandara Internasional Kuala Lumpur atau yang sering disebut KLIA (Kuala Lumpur International Airport) bahkan ketika saya kembali berkunjung ke Malaysia akhir tahun 2006 saya melihat adanya perluasan wilayah lagi dengan pembangunan terminal baru khusus Air Asia. Walaupun untuk biaya pembuatannya menggunakan dana dari perusahaan Air Asia, namun artinya pihak bandara siap dengan adanya perluasan wilayah. Berbeda dengan bandara Soekarno-Hatta yang hingga kini masih saja berkutat dengan pembebasan tanah, belum lagi masyarakat sekitar yang makin nekat membangun perumahan liar di sekitar bandara.

Yang paling kontras apabila saya bandingkan dengan bandara yang baru di Thailand. Nama bandaranya adalah Suvarnabhumi Airport di Bangkok, Thailand. Bandara yang baru dibuka bulan September 2006 lalu, terletak di 25 km sebelah timur kota Bangkok menggantikan Donmuang International Airport. Ketika saya berkunjung ke Suvarnabhumi, bandara tersebut baru saja beroperasi beberapa bulan. Namun segala fasilitas sudah berfungsi dan layak digunakan. Kesan yang saya lihat dan rasakan ketika sampai di Suvarnabhumi adalah luas, artistik, bersih dan dingin. Walau temperatur di Bangkok tergolong panas namun tidak terasa panas karena adanya sistem pendingin udara yang canggih, silakan rasakan apabila anda ke Suvarnabhumi Airport.

Bandara Suvarnabhumi bukan hanya menjadi sekadar tempat bagi orang yang hendak bepergian dengan pesawat, tetapi juga sekaligus sebagai tempat berbisnis dan rekreasi. Bentuk bangunan yang artistik dengan konstruksi besi menambah kesan modern. Hampir tidak ada bedanya dengan mal apabila dilihat dengan banyaknya toko-toko, cafe, restoran, dan duty free shop di sepanjang lokasi menuju ruang tunggu pesawat.

Simpulan saya adalah Bandara Internasional Soekarno Hatta sudah tidak layak lagi menjadi bandara internasional yang notabene menjadi pintu gerbang utama negara Indonesia. Saya merasa malu dengan negara lain seperti Malaysia dan Thailand yang sama-sama negara berkembang di Asean namun mereka jauh lebih maju dibanding Indonesia. Saya tidak bisa membayangkan kesan pertama para investor asing atau turis yang pertama kali menjejakan kaki di Jakarta ketika melihat bandara Soekarno Hatta yang semrawut, terkesan tua, dan jauh dari kesan modern. Belum lagi permasalahan kebersihan seperti yang Sdr. Tedy paparkan dalam tulisannya yang berjudul Tikus di Soekarno Hatta yang menceritakan tentang kejadian yang menggelitik.

Kapan negara Republik Indonesia yang kita cintai ini memiliki bandara internasional yang bisa dibanggakan? Itulah pertanyaan yang selalu saya tanyakan setiap melihat bandara internasional negara lain yang pernah saya kunjungi. Kapan ya?…

By: Budy Snake
Social Observer

Siang ini saya menggunakan fasilitas setor tunai di ATM BCA untuk pertama kalinya. Kesan saya setelah menggunakan alat tersebut adalah canggih dan praktis. Hanya saja sensornya terlalu sensitif terhadap uang kertas yang kondisinya agak kusam sehingga mesin menolaknya.

Sore ini saya pun mencobanya kembali untuk menyetor uang tunai, ketagihan nih  Ternyata saya baru mengetahui apabila mesin setor tunai pun ada limitnya. Untuk Paspor BCA yang saya gunakan hanya bisa menyetor maksimal Rp 5.000.000,00 per hari.

Akhirnya saya berpikir bagaimana untuk mengakali sistem ini. Akhirnya rekan saya meminjamkan kartu ATM –nya untuk melakukan transaksi ini dan langsung disetor ke rekening saya. Sekali lagi saya katakan, canggih dan praktis.

Bagi anda pemegang Paspor BCA saya sarankan untuk mencoba menggunakan fasilitas dari BCA ini. Jangan setiap kali menggunakan Paspor BCA hanya untuk mengambil uang saja, tapi setor uang juga perlu 

Selamat Mencoba…

By: Budy Snake
Social Observer

Baru saja saya mendengarkan acara Talk Show di Radio Sonora yang membahas mengenai obat generik. Tamu yang diundang adalah Dr. Marius Widjajarta SE, Ketua dari Yayasan Pemberdayaan Konsumen Indonesia dan Ibu Rini dari Tabloid Gaya Hidup Sehat. Dialog tersebut membahas seputar kurangnya sosialisasi tentang penggunaan obat generik. Dari dialog tersebut saya jadi semakin yakin dan dapat disimpulkan bahwa obat generik itu memiliki kandungan kimia yang sama dengan obat bermerek. Proses pembuatan obat generik pun harus mengikuti standar internasional. Hanya saja yang menjadi permasalahan di Indonesia adalah regulasi mengenai harga untuk obat bermerek yang tidak diatur ketat alias bebas. Sehingga para produsen dapat memberikan harga yang sangat mahal dan cenderung lebih menjual merek atau brand dibanding menjual obat itu sendiri.

Saya sangat setuju bahwa konsumen Indonesia memang saat ini seringkali dibodohi dengan pendapat bahwa kandungan kimia yang terdapat di dalam obat generik tidak sama dengan yang terkandung di obat bermerek. Di Indonesia sudah terbentuk imaji di masyarakatnya bahwa obat generik adalah obat murah yang kurang manjur. Memang murah karena harganya lebih murah jika dibandingkan dengan obat bermerek. Saya sangat terkejut ketika dr. Marius memberikan pernyataan bahwa perbedaan harga antara obat bermerek dengan obat generik mencapai 40 kali, 80 kali, bahkan ada yang 200 kali lebih mahal.

Obat generik sampai sekarang memang kurang populer atau kurang sosialisasi karena memang dari dokternya sendiri terkadang memang tidak menyarankan konsumen untuk menggunakan obat generik dan selalu menuliskan resepnya dengan obat-obat bermerek. Hal ini pun terjadi pada saya ketika dokter memberikan obat, yang direkomendasikan hampir selalu obat bermerek.

Ya, dokter memang manusia juga kan? Ketika sebuah produsen obat menawarkan bonus tertentu yang biasanya sangat besar, maka oknum dokter tersebut akan menempuh berbagai cara sampai dengan cara menyesatkan yang melanggar undang-undang perlindungan konsumen. Memang ada beberapa oknum dokter yang sengaja menyesatkan konsumen dengan pernyataan bahwa kandungan obat generik itu tidak sama dengan obat bermerek, sehingga efek obat tersebut akan lama dan kurang manjur. Hal ini tentunya sangat merugikan masyarakat, khususnya para pasien yang menjadi konsumennya.

Tentunya dari pihak produsen tidak ada masalah sama sekali dengan pemberian bonus yang besar kepada para oknum-oknum dokter tersebut mengingat keuntungan yang sangat fantastis dari penjualan obatnya yang diproduksi. Sehingga dalam hal ini antara produsen dan dokter akan sama sama mengalami keuntungan secara finansial namun di pihak lain konsumen sangat dirugikan dan disesatkan pola pikirnya terhadap obat generik.

Kita sebagai konsumen berhak untuk meminta kepada dokter untuk diberi resep obat generik. Apabila ada oknum yang mencoba melanggar atau menyesatkan pandangan mengenai obat generik perlu dilaporkan dan dapat dituntut secara hukum. Menurut penuturan dr. Marius pihaknya pernah memenangkan somasi sampai dengan denda 2 milyar rupiah.

Untuk segala macam pelanggaran dapat anda laporkan ke:
Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia
Jl. Senayan 39 Blok S Kebayoran Baru
Jakarta 12180
Telepon: 021 – 7244808

Laporan berupa surat tertulis berisi kronologis lengkap dan ditandatangani diatas materai Rp 6000,00. Pelaporan tersebut GRATIS dan tidak dipungut biaya apapun.

Jadi pertanyaannya:
Apakah anda masih meragukan obat generik?
Apakah anda masih ingin tetap membeli merek?

Mari kita sosialisasikan penggunaan obat generik.

By: Budy Snake
Social Observer

Kemarin setelah saya membaca dan memberikan komentar salah satu tulisan di blog Bapak Budi Rahardjo. Judul yang saya komentari adalah Antara “v” dan “f” yang pada intinya beliau bertanya tentang penulisan yang benar untuk kata yang rancu dalam penggunaan huruf “v” dan “f”. Beliau memberikan contoh: mana yang benar antara kreatifitas atau kreativitas. Dalam tulisan tersebut, saya memberikan komentar bahwa yang tepat sesuai kaidah EYD, yang benar adalah kreativitas. Komentar lengkapnya bisa dilihat langsung di link di atas.

Memang dalam bahasa Indonesia banyak hal yang terkadang membingungkan baik dalam penulisan maupun pelafalan.

Dibawah ini adalah satu tulisan saya di blog saya yang terdahulu, saya pernah membahas tentang kesalahan penulisan kata dalam bahasa Indonesia yang saya beri judul “Menganggap Remeh Hal Detil” Namun blog tersebut sudah tidak dipergunakan lagi, maka saya posting ulang tema ini.

Bulan Februari 2007 lalu, saya mendapat kiriman sebuah buku kecil dari Bapak JS. Kamdhi. Beliau adalah mantan guru SMU saya di Cirebon. Buku tersebut berjudul Otodidak 25 Tahun Mengabdi Pendidikan di Kota Wali. Setelah saya baca halaman demi halaman namun saya sedikit terkejut ketika banyak melihat kesalahan dalam penulisan kata-kata yang tidak sesuai dengan kaidah tata bahasa yang baik dan benar. Terkejut karena sang penulisnya adalah seorang guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang sangat teliti dalam penggunaan bahasa. Namun segera saya berpikir bahwa ini bukan kesalahan pada penulisnya melainkan kesalahan pada editor percetakan. Analisis saya mengatakan bahwa editor tidak teliti atau memang tidak mengerti tentang kata baku yang benar. Ada salah satu kesalahan pengetikan yang menggelitik buat saya, yaitu penulisan kata “berpikir” yang selalu diketik “berfikir.” Saya anggap ini bukan editornya yang tidak teliti namun memang kesalahan pemahaman. Mengapa? Karena kesalahan ini diulang beberapa kali, setelah saya baca dari awal hingga akhir semua pengetikannya “berfikir” tidak satupun yang diketik dengan benar. Sangat jelas bahwa ini faktor salah pemahaman bukan tidak teliti. Sangat disayangkan sebenarnya hal tersebut bisa terjadi. Memang seperti itulah keadaan mayoritas masyarakat Indonesia yang kurang peduli dan menganggap remeh hal detil. Dalam penggunaan bahasa seringkali pun demikian, tidak ingin tahu, bahkan tidak peduli dengan kaidah yang benar. Analisis saya mengenai kesalahan dalam pengetikan kata “berfikir” yang seharusnya diketik “berpikir”, bersimpulan bahwa editor mungkin menganalogikan kata tersebut dengan kesalahan pelafalan Bahasa Indonesia oleh sebagian masyarakat kita khususnya yang berada di Jawa Barat yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa daerahnya. Kesalahan yang terjadi dalam pelafalan bunyi “F” dan “V” yang seringkali diucapkan dengan bunyi “P” Contoh pelafalan yang sering dilakukan oleh masyarakat kita: *Dufan dibaca dupan *Fanta dibaca panta *Ventilasi dibaca pentilasi *Sertifikat dibaca sertipikat *Verifikasi dibaca peripikasi, dan lain sebagainya. Dari contoh-contoh tersebut mungkin saja editor berpendapat bahwa yang benar adalah “berfikir” padahal yang benar sesuai dengan ketentuan Ejaan Yang Disempurnakan yang tepat adalah “berpikir” hal ini sesuai dengan yang ada pada Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga.

Oleh: Budy Snake

Pengamat Bahasa Indonesia

Kalau kita berbicara tentang Nyepi pasti akan identik dengan Pulau Bali yang mayoritas penduduknya pemeluk agama Hindu Bali. Hari Raya Nyepi di Bali sangat terasa sekali nuansanya. Bisa dibayangkan sebuah kota yang dalam satu hari penuh tidak ada aktivitas apapun. Tidak ada suara gaduh, tidak ada lampu atau api. Hal ini memang sesuai dengan nama “nyepi” itu sendiri yang artinya sepi.

Tradisi NYEPI dilakukan oleh masyarakat Hindu. Dalam Nyepi ada 4 pantangan, yaitu:
1. Tidak boleh bekerja.
2. Tidak boleh menyalakan lampu atau api.
3. Tidak boleh menikmati kesenangan.
4. Tidak boleh berpergian.

Dengan adanya 4 pantangan tersebut maka Pulau Bali yang mayoritasnya pemeluk agama Hindu Bali mendadak menjadi sepi dan tidak ada aktivitas. Semua tempat tempat umum menjadi sepi bahkan Bandara Udara Ngurah Rai pun ditutup total selama Nyepi. Saya pikir bandara ini merupakan bandara internasional satu-satunya di dunia yang melakukan penutupan atau libur total.

Hanya hotel saja yang mendapat dispensasi untuk dapat tetap menyalakan lampu. Namun itu semua hanya dilakukan di dalam wilayah hotel dan para tamu hotel pun tidak boleh keluar dari area hotel.

Bali sungguh luar biasa memiliki budaya yang unik, pemeluk agama yang taat, dan solidaritas yang kuat. Ada cerita lagi tentang keunikan budaya Bali, yaitu perayaan Omed-omedan yang dilakukan satu hari setelah Nyepi. Perayaan Omed-omedan adalah budaya sakral yang dilakukan dengan saling tarik, berangkulan bahkan berciuman massal antar muda mudi yang dilakukan di depan umum. Tentunya ini adalah tradisi turun temurun sejak puluhan tahun lalu, bukan pornoaksi.

Selamat Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1929.

By: Budy Snake
Social Observer

Belum genap tiga bulan kita lalui tahun 2007 namun berbagai kasus penyalahgunaan senjata api terus terjadi. Sangat disayangkan hal ini dilakukan oleh oknum anggota Polri.

Kisah yang akan saya paparkan di sini dimulai dengan
*Kasus penembakan kepada pasutri di Medan yang dilakukan oleh Iptu Oloan yang dilatarbelakangi dendam dan sakit hati. Kejadian ini diakhiri dengan kematian sang pelaku karena bunuh diri.
*Kasus di Bangkalan Madura penembakan seorang oknum polisi kepada istri, ibu mertua, pria idaman sang istri, dan seorang pria rekan pacar sang istri. Kejadian ini pun diakhiri dengan kematian oknum polisi karena bunuh diri.
*Kasus yang menghebohkan di bulan Maret ini adalah penembakan perwira Polri di Semarang oleh anak buahnya sendiri. Korban adalah AKBP Lilik Purwanto yang menjabat sebagai Wakapolwiltabes Semarang. Pelaku adalah Briptu Hance yang dikabarkan ada motif kecewa dengan rencana mutasinya ke Polres Kendal. Akhirnya sang pelaku pun tewas setelah diterjang peluru sniper dari Tim Resmob karena dinilai sangat berbahaya dan mengancam nyawa orang lain.

Dari ketiga kisah yang saya tulis diatas, saya berpikiran bahwa sepertinya para oknum tadi telah gagal mengontrol emosi dan berpikiran pendek dalam menghadapi persoalan hidup. Hal ini tentunya perlu ditanggapi serius oleh Polri untuk meneliti apa motif penyebab di balik tragedi memilukan tersebut. Apakah faktor kesejahteraan menjadi salah satu pemicu depresi para oknum tersebut?

By: Budy Snake
Social Observer