Monthly Archives: April 2007

Malam ini tidak bisa tidur, entah mengapa mata sulit dipejamkan. Akhirnya saya memutuskan untuk membuka peti-peti kardus saya yang berisi koleksi alat sulap close up dan beberapa alat sulap panggung atau stage. Banyak sekali alat sulap yang sudah lama saya tidak permainkan sampai-sampai ada beberapa yang lupa bagaimana mengoperasikannya. Memang sudah lama saya tidak membuka koleksi lama alat sulap saya. Banyak pula produk-produk impor yang belum laku terjual karena menyimpannya terlalu rapi dan saya kira sudah terjual habis. :)

Tidak terasa waktu sudah menunjuk pk 04.00 pagi dan perut terasa sangat lapar. Akhirnya saya merebus dua butir telur, membuat segelas susu hangat, dan merebus air untuk membuat oatmeal instan. Selama menunggu proses makanan siap disajikan saya menulis blog ini. Hanya dalam waktu 15 menit semua sudah siap tersaji dan saya segera nikmati dan habiskan semua.

Sekarang sudah kenyang dan setelah selesai posting tulisan ini saya kan segera tidur. Siang ini saya harus kembali beraktivitas dan malam nanti akan bertemu dengan klien.

Tidur dulu ah…ZZZzzzzzz…

By: Budy Snake

Magician & Snake Charmer

Beberapa hari ini saya tidak mengikuti pola aturan makan yang benar. Seperti sudah diduga oleh saya sebelumnya, maka kemarin siang saya mulai merasakan rasa tidak enak pada tenggorokan saya. Wah, radang tenggorokan pikir saya!

Belum lagi jadwal padat yang akan saya jalani kemarin malam yaitu menghadiri magic meeting di Magic Cafe Cinere Mal. Yang saya lakukan hanya makan yang banyak dan minum air putih hangat yang banyak. Pada saat acara malam kemarin pun saya hanya meminta air putih panas. Mungkin terasa aneh apabila di sebuah cafe kita hanya memesan minum air panas hangat, seperti di warung tegal saja.

Acara selesai sampai tengah malam dan saya merasa masih perlu makan untuk jaga kondisi badan jangan sampai turun lagi. Maka sebelum pulang ke rumah saya putuskan untuk mencari makanan dulu di Jl. Muwardi Raya, Jakarta Barat. Ketika melintas di depan Pasar Grogol, tepatnya di dekat pintu masuk halaman pasar ada penjual sea food. Saya pun mencoba untuk membeli udang goreng saus tiram karena hanya itu yang membuat saya berselera. Setelah menunggu hidangan pun siap disantap, rasanya tidak enak menurut saya, tetapi tetap saya makan tanpa banyak pikir lagi, yang penting badan cepat pulih. Namun yang membuat saya agak terkejut ketika ingin membayar ternyata totalnya Rp 27.000,00. Menurut saya harga tersebut terlalu mahal untuk makanan dengan kelas pinggir jalan dan dengan rasa yang tidak enak pula. Saya katakan mahal karena saya coba bandingkan dengan penjual seafood pinggir jalan sejenis yang rasanya pun jauh lebih baik. Kesimpulannya sea food yang saya coba semalam tidak layak untuk direkomendasikan.

Sampai dirumah saya menyempatkan diri untuk minum vitamin dan cek mail sebentar sesaat sebelum tidur. Akhirnya saya putuskan tidur sesudah minum banyak air putih hangat.

Bangun tidur tadi pagi badan terasa masih kurang sehat namun tidak lebih parah dibandingkan dengan kemarin. Memang sangat menyebalkan apabila terserang radang tenggorokan. Semoga saya segera pulih dan selalu menjaga kondisi badan agar tidak terserang radang lagi seperti ini.

By: Budy Snake

Magician & Snake Charmer

Kemarin malam bertempat di Magic Cafe diadakan magic meeting yang dihadiri oleh sebagian besar anggota The Society of Indonesian Magician (SIM). Pada pertemuan kali ini kami kedatangan tamu pesulap dari IBM Ring Surabaya yaitu Mr. Sucahyo, Mr. Paulus (Didi), dan Mr. Andre. Selain ketiga pesulap lokal dari Surabaya, kami pun kedatangan pesulap dari Malaysia yaitu Mr. Vincent.

Acara pertemuan kali ini sengaja diadakan di Magic Cafe karena Pak Victor Pudjiadi selaku pemilik memberikan fasilitas gratis untuk tempat dan konsumsi. Sehingga anggota yang datang hanya perlu membayar iuran untuk uang kas SIM.

Acara yang seharusnya dimulai pukul 19.00 malam terpaksa harus mundur dari jadwal. Hal itu dikarenakan keempat pesulap tamu tersebut datang terlambat, mengingat jalan menuju Magic Cafe Cinere dari Jakarta sekitar 20 km ditambah kemacetan yang luar biasa. Bayangkan saja waktu yang diperlukan saya pribadi menuju Magic Cafe memerlukan waktu sekitar 2 jam. Luar biasa bukan? Tetapi kemarin saya yang berangkat bersama Pak Eddy dan Mr. Lee (sekretaris SIM) tidak terlambat karena kita telah belajar dari pengalaman yang lalu.

Acara tetap dimulai Pk 19.00 wib dimulai dengan acara makan dan saling berbincang antar anggota SIM. Nampak sudah hadir Pak Winanto selaku ketua SIM, Pak Howard selaku wakil ketua SIM, beberapa dewan pengurus SIM, dan para anggota dari SIM. Walau acara mundur dari jadwal namun mereka tetap setia menunggu untuk melihat sang bintang tamu untuk tampil. Sedangkan saya sendiri sebagai seksi dokumentasi tetap sibuk dengan kamera yang selalu saya bawa dan terus mengambil gambar setiap momen yang nanti akan digunakan sebagai dokumentasi SIM.

Akhirnya 21.30 wib para pesulap dari luar tersebut datang dan langsung menuju backstage untuk mempersiapkan penampilannya. Tidak lama kemudian acara dimulai dengan penampilan dari Mr. Andre, lalu disusul dengan Mr. Paulus (Didi), lalu juga dilanjut dengan penampilan Mr. Sucahyo, dan ditutup oleh penampilan Mr. Vincent from Malaysia. Selain menunjukan penampilan sulap dan sedikit memberikan lecture, Mr. Vincent juga mengumumkan tentang magic competition di Malaysia.

Setelah keempat pesulap tersebut tampil maka acara dilanjutkan dengan pengundian doorprize dan ditutup oleh Pak Winanto selaku ketua SIM. Setelah acara ditutup maka ada sesi foto bersama. Setelah selesai semua, satu persatu tamu mulai meninggalkan Magic Cafe dengan membawa suvenir alat sulap Color Vision yang dibagikan oleh dr. Victor langsung. Sesaat kemudian saya pun bersama Mr. Lee mohon pamit dan segera pulang mengingat waktu yang sudah larut malam dan kondisi badan saya yang kurang sehat. Demikian tulisan saya mengenai aktifitas saya kemarin malam pada acara pertemuan sulap.

By: Budy Snake
Magician & Snake Charmer

Sering saya mendengar di radio maupun televisi dari seseorang yang diwawancara oleh reporter mengatakan kata “analisa” padahal yang baku dan tepat sesuai kaidah bahasa Indonesia adalah “analisis”.

Analisis merupakan kata serapan dari bahasa Inggris yaitu analysis. Ketentuannya adalah kata serapan dari bahasa Inggris yang memiliki akhiran bunyi yang sama ditulis sama dengan pengucapan dalam bahasa aslinya.

Yang sangat saya sayangkan, kekeliruan tersebut acapkali dilakukan oleh pejabat publik dan pembawa acara yang seyogyanya dapat memberikan teladan bagi pendengarnya.

Oleh: Budy Snake

Pengamat Bahasa Indonesia

 Malam itu, waktu di jam tangan saya tepat menunjuk pukul 10.00 malam. Diiringi hujan gerimis dan sejuknya udara kota Bandung. Bersama rekan saya, singgah di sebuah warung kecil, kami memesan makanan yang merupakan favorit kami. Kami menunggu lama hanya untuk satu porsi makanan, sambil menunggu saya berusaha kontak dengan rekan di Jakarta untuk memantau kondisi kota Jakarta yang statusnya siaga 1 dalam bencana banjir. Namun nada sibuk selalu terdengar walaupun sudah dicoba berkali-kali. Akhirnya saya coba hubungi lewat jalur komunikasi lain dan berhasil kontak dengan rekan saya. Menurut informasi dari rekan saya, situasi saat itu terpantau cerah namun kondisi jalan masih tergenang. Menurutnya selama tidak hujan, maka permukaan air tidak akan naik. Namun informasi yang diterima oleh rekan saya adalah pemadaman listrik kemungkinan besar akan dilakukan oleh pihak PLN.
Bingung!
Itu yang kami rasakan, belum lagi lapar yang semakin menjadi. Hati kecil saya tetap ingin ke Jakarta walaupun kondisinya kurang kondusif. Pertimbangan saya apabila air di jalan mulai naik maka akan saya pindahkan mobil saya ke tempat yang lebih tinggi, aman. Tetapi bagaimana dengan listrik yang kemungkinan akan dipadamkan apabila air terus naik dan membanjiri gardu listrik? Tidak ada aliran listrik berarti tidak ada air karena kebutuhan air kami sementara ini hanya bergantung kepada pompa air listrik. PDAM pun sudah menghentikan aliran airnya sejak 3 hari sebelum banjir menyerang Jakarta.
Benar saja dugaan saya, kurang lebih pukul 10:30 rekan saya memberi informasi bahwa hujan mulai mengguyur lagi walaupun tidak lebat. Belum sampai 10 menit rekan saya mengirimkan SMS yang isinya menyatakan bahwa listrik baru saja dipadamkan. Berarti kondisi akan gelap gulita dan tidak ada air!

Dalam situasi sambil menunggu makanan kami saling terdiam. Saya berdoa, bertanya pada Yesus apa yang harus saya lakukan? Apakah benar kata suara hati saya yang mengatakan akan aman apabila tetap pulang ke Jakarta?

Setelah menunggu selama 45 menit sambil terus berpikir akhirnya makanan yang kami pesan pun dihidangkan, kami pun makan dengan santai dan tetap berdiskusi tentang apa dan bagaimana menghadapi persoalan ini.

Selesai makan kami pun bergegas pergi untuk mencoba mencari ransum yang akan kami bawa apabila kami tetap ke Jakarta. Namun, karena sudah malam, toko yang kami tuju sudah tutup. Saya pun bingung, sembari terus menjalankan mobil saya secara perlahan mengelilingi salah satu sudut kota Bandung Barat.
Sampai dengan pukul 12:00 tengah malam blm ada keputusan pasti, akhirnya saya pun memacu mobil saya menuju tol, sesaat sebelum persimpangan antara Cileunyi dan Padalarang. Saya bertanya salah satu rekan saya, “Jadi, kemana kita akan pergi?” lalu secara spontan rekan saya menjawab, “Terserah, kemana pun kamu pergi saya ikut.” Detik itu pula saya putuskan untuk mengikuti kata hati yang sejak tiga jam lalu berkata untuk pergi ke Jakarta dengan segala risikonya.

Perjalanan menuju ke Jakarta melalui Tol Cipularang sangat lancar dengan waktu tempuh 1 jam 25 menit walaupun hujan lebat sempat menyertai perjalanan kami. Kami masuk Kota Jakarta tepat pukul 1.30 kondisi jalan masih basah namun tidak ada hujan. Mobil saya tetap melaju perlahan sambil terus melihat situasi setiap sudut yang saya lewati. Saya mulai mendekat ke area tempat tinggal saya, jalan utama yang menghubungi ke rumah saya masih ditutup oleh polisi, pertanda ada genangan air yang dalam dan tidak bisa dilalui kendaraan. Saya pilih jalan lain dengan melawan arus, terus melaju perlahan, makin dekat dengan komplek tempat tinggal saya. Ternyata di dekat komplek pun ada genangan air sedalam 25cm yang terpaksa harus dilalui. Perlahan saya lewati genangan sejauh 100meter tersebut, aman. Tepat pukul 1.45 saya sampai di depan rumah dan segera mermarkirkan mobil saya.

Kondisi gelap gulita sehingga agak menyulitkan pemindahan barang dari mobil menuju kamar. Saat itu pun kami bertemu dengan seorang rekan yang bertugas di PT. Telkom, dari beliau saya mendapat informasi bahwa kantor telkom yang berada di Jl. Gatot Subroto terendam banjir sehingga sentralnya mengalami kerusakan. Ah, pantas saja saya mengalami kesulitan ketika menghubungi rekan dari Bandung malam tadi.

Malam itu saya lalui hanya dengan temaramnya api lilin kecil, saya berusaha merasakan penderitaan para masyarakat Jakarta yang mengalami musibah banjir sehingga kehilangan segalanya, hidup di pengungsian yang susah makan, sulit air bersih, serta sanitasi yang buruk.
Saya bersyukur sekali karena saya tidak mengalami hal itu, saya masih bisa bersantai walaupun di kegelapan tanpa lampu, tanpa music, tanpa komputer, apalagi koneksi internet yang belakangan menemani saya.

Inti sari dari kisah saya ini adalah kita sebagai manusia harus berani mengambil keputusan dengan segala risikonya, tentunya dengan pertimbangan suara hati dan pikiran yang logis. Yang lebih penting adalah tetap bersyukur atas segala hal dalam kondisi apapun.

By: Budy Snake

Social Observer

Posted on Blogspot Sunday, February 18, 2007

Awal bulan Desember 2006 ada peraturan baru yang dikeluarkan oleh Ditlantas Polda Metro Jaya khusus untuk sepeda motor. Peraturan tersebut adalah mewajibkan pengendara sepeda motor untuk menghidupkan lampu di siang hari. Aturan tersebut diberlakukan karena menurut pihak kepolisian tingkat kecelakaan sepeda motor dengan mobil di Jakarta tergolong tinggi. Diharapkan dengan adanya lampu motor yang dinyalakan, maka keberadaan motor akan lebih mudah terdeteksi oleh pengemudi mobil atau bus di depannya. Pro maupun kontra pun bermunculan di berbagai media sampe pembicaraan di warung kopi. Namun, aturan tersebut tetap diberlakukan kepada para pengendara sepeda motor.

Belum juga habis masa hebohnya, sebuah peraturan baru kembali dikeluarkan oleh Ditlantas Polda Metro Jaya yaitu mulai bulan Januari 2007 disosialisasikan peraturan yang mewajibkan sepeda motor menggunakan jalur kiri. Aturan ini diberlakukan dengan dasar untuk mengurangi tingkat kemacetan di Jakarta. Aturan yang baru ini pun kembali menuai protes dari para pengendara sepeda motor. Namun lagi-lagi para pemilik sepeda motor harus tetap mengalah dan mengikuti aturan tersebut. Sampai akhirnya mulai bulan Februari 2007 diberlakukan dengan tegas, artinya yang melanggar langsung terkena tilang. Berbeda dengan masa sosialisasi yang hanya ditegur dan dihimbau saja.

Kedua peraturan baru yang telah saya jelaskan sekilas diatas membuat saya bertanya-tanya. Apakah betul selama ini tingkat kecelakaan sepeda motor karena pengendaranya tidak terlihat oleh pengemudi di depan?

Bukankah kecelakaan seringnya disebabkan oleh ulah pengemudi sepeda motor tersebut yang kurang berhati-hati? Bukankah sering terjadi kecelakaan sepeda motor karena kondisi dan sarana jalan yang tidak memadai?

Apakah betul selama ini Jakarta macet karena sepeda motor yang tidak selalu menggunakan jalur kiri? Apakah dengan diberlakukannya aturan tersebut dapat mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas Jakarta? Buktinya tidak, karena jalur sepeda motor terganggu dengan bus umum yang berhenti di sembarang tempat sehingga efeknya malah cenderung lebih macet. Silakan dibuktikan.

Bukankah kemacetan Jakarta karena tidak tertibnya kendaraan umum dalam mengambil penumpang atau menurunkan penumpang? Bukankah kemacetan Jakarta karena kurangnya jalan baru atau jalan layang di Jakarta? Bukankah kemacetan Jakarta disebabkan oleh proyek-proyek pemda DKI yang tidak kunjung beres dan terkesan sengaja diperlambat? Sebagai contoh, lihatlah proyek jembatan di depan ITC Roxy Mas yang menyebabkan macet sepanjang hari. Belum lagi dengan adanya proyek pembangunan busway di jalan-jalan protokol Jakarta yang pengerjaan sangat lambat, hal itu sangat mengganggu kelancaran kendaraan. Ditambah lagi ada beberapa daerah yang terdapat proyek monorel yang terkesan berhenti beroperasi.

Terkesan sekali bahwa pihak kepolisian kewalahan dalam mengatur lalu lintas, sehingga dalam hal ini yang dikambinghitamkan adalah banyaknya jumlah sepeda motor. Mungkin saja benar sepeda motor salah satu penyebab kemacetan, tapi tentunya bukan penyebab utama sehingga diberlakukan aturan yang aneh-aneh semacam itu.

Saya mengerti maksud dan dasar pemikiran yang diambil oleh pihak kepolisian dalam hal ini Ditlantas Polda Metro Jaya. Namun dalam hal ini secara pribadi saya tidak setuju dengan aturan baru tersebut karena tidak akan menyelesaikan masalah. Bahkan cenderung memberi kesempatan untuk oknum polisi mencari uang tambahan saja dengan menindak kepada para pengendara sepeda motor yang menggunakan jalur tengah. Mengapa? Karena para pengendara biasanya akan menempuh jalur damai dengan imbalan sejumlah uang yang diberikan kepada oknum polisi tersebut.

Simpulan dari kondisi tersebut diatas adalah:

*Tidak tertibnya pengguna jalan.

*Sangat tingginya populasi kendaraan pribadi terutama sepeda motor yang fantastis jumlahnya.

*Proyek-proyek dari pemda DKI yang sangat lambat dan mengganggu lalu lintas.

Selain berkomentar dan memberikan simpulan yang sudah dipaparkan diatas, saya pun ada beberapa solusi atau saran untuk mengatasi hal tersebut, yaitu:

1. Pajak pembelian kendaraan bermotor khususnya sepeda motor ditingkatkan termasuk Pajak Kendaraan Bermotor yang dipungut tiap tahun pun ditingkatkan sampai 200% atau lebih. Dengan diberlakukannya aturan ini diharapkan dapat mengimbangi mudahnya kredit kendaraan khususnya sepeda motor yang sangat mudah. Tujuan akhirnya agar para pembeli sepeda motor agar tidak terlalu konsumtif dalam membeli sepeda motor, sehingga jumlah sepeda motor di Jakarta terkendali.

2. Adanya koordinasi yang baik antara kepolisian dan pihak DLLAJ untuk menertibkan para pengemudi di jalan raya yang tidak mengikuti aturan dengan tindakan tegas / tilang. Dalam hal ini harus betul-betul tegas, misalnya: berikan surat larangan untuk beroperasi kepada kendaraan umum yang menghentikan kendaraan bukan di halte.

3. Koordinasi yang baik antara pemda DKI dengan para kontraktor yang membangun proyek-proyek milik pemda. Hal ini untuk mengontrol waktu kerja sehingga semua proyek dapat terselesaikan dengan cepat dan tepat, artinya bukan berarti asal-asalan. Harus betul-betul dipikirkan untuk efisiensi waktu pengerjaan khususnya proyek busway dan monorel yang sangat mengganggu kelancaran berlalu lintas.

Demikian paparan saya mengenai pemberlakuan aturan baru bagi sepeda motor dan kemacetan Jakarta. Hal tersebut saya analisis karena rasa kepedulian saya sebagai warga Jakarta dan rasa prihatin terhadap Jakarta yang setiap hari berkutat dengan masalah kemacetan lalu lintas.

By: Mr. Budy Snake

Social Observer

Posted on blogspot Tuesday, February 20, 2007

Dalam sebuah blog yang saya baca beberapa saat lalu, saya membaca sebuah topik yang menarik mengenai Dilema Menulis Kata Serapan yang tepat sesuai kaidah tata bahasa Indonesia. Pada artikel yang ditulis oleh Sdr. Tedy Tirtawidjaja tersebut, saya mencoba memberikan komentar dan pendapat tentang kaidah yang benar sesuai kaidah bahasa Indonesia. Isi dari pendapat tersebut saya coba bicarakan ulang pada tulisan kali ini.

Intinya adalah apabila kita sebagai penulis ingin mengikuti kaidah tata bahasa Indonesia, maka lebih dianjurkan untuk menggunakan istilah yang telah disepakati oleh Pusat Bahasa.
Contoh:

• Apartemen : rumah pangsa
• Cash flow : arus kas
• branch office : kantor cabang
• boarding pass : pas naik
• power steering : kemudi daya
• developer : pengembang
• food court : pusat jajan

Untuk lebih jelasnya kita bisa mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia. Memang ada beberapa istilah yang akan terlihat aneh dan janggal karena masih dalam masa sosialisasi. Saya berpendapat apabila tetap ingin menggunakan istilah dalam bahasa Indonesia, maka di awal atau di akhir buku dibuat semacam daftar istilah yang baru tersebut. Dapat pula anda tuliskan keterangan menggunakan catatan kaki, akan lebih efektif menurut saya yaitu menggunakan kedua metode tersebut. Untuk kasus ini sepenuhnya bergantung kepada penulis ingin menggunakan metode yang mana, tidak ada aturan yang baku.

Akan tetapi apabila kata tersebut memang belum lazim dan disinyalir akan menimbulkan kerancuan atau bahkan belum ada istilah yang baku dalam bahasa Indonesia, maka bisa menggunakan kata aslinya. Untuk penulisan kata dalam bahasa aslinya harus italic / cetak miring pada setiap kali penulisannya, bukan hanya pada awal-awal kalimat saja. Karena tidak ada aturan bahwa pembaca harus membaca memulai dari awal buku dan itu mutlak dalam aturan kaidah bahasa Indonesia.

Jadi saya pikir hal ini sudah jelas dan tidak perlu diperdebatkan lagi karena memang aturannya sudah ada dan kita tinggal mengikuti saja. Apabila dirasa aneh atau janggal, itu hanya karena belum terbiasa saja. Kita tinggal mengikuti saja ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Pusat Bahasa. Tentunya dalam hal ini kita harus open minded (berpikiran terbuka) dalam menerima suatu hal yang baru.

Demikian paparan dan pendapat dari saya mengenai penulisan kata serapan. Mungkin ada yang ingin menanggapi atau ingin berbagi pendapat silakan.

Oleh: Budy Snake
Pengamat Bahasa Indonesia

Hari ini saya baru bisa membeli barang yang dipesan oleh ayah saya setelah dua hari tertunda karena barang yang tidak tersedia. Setelah barang didapatkan maka ada hal lain yang membuat saya bingung, yaitu jasa pengiriman apa yang bisa digunakan agar besok dapat segera digunakan namun juga harus murah. Mengapa? Karena barang yang akan saya kirim berupa paku ulir seberat 60 kg. Bisa dibayangkan berapa biaya yg harus dikeluarkan apabila menggunakan jasa pengiriman kilat seperti CV. Tiki atau sejenisnya.

Saya teringat dengan salah satu rekan saya yang bergerak di bidang ekspedisi. Saya pun bergegas pulang ke rumah dahulu untuk mencari nomor teleponnya. Selain itu juga saya berpikiran untuk segera sampai rumah dahulu karena saya membawa barang tersebut menggunakan sepeda motor, sangat sulit, sampai kaki terasa kram. Setelah sampai rumah saya cari nomor yang bisa dikontak tetapi nihil. Saya mencoba tanya kepada rekan saya, dan akhirnya saya mendapat tiga nomor. Tetapi tidak satu pun nomor tersebut valid, bahkan diantaranya ada yang salah sambung. Saya benar-benar bingung, mengingat hari ini harus dikirim agar bisa digunakan besok pagi.

Waktu sudah menunjuk pukul 6.00 sore, adzan maghrib pun sudah berkumandang, belum ada solusi. Sampai akhirnya terpikir untuk menggunakan jasa ekspedisi menggunakan kereta api. Saya putuskan untuk berangkat ke stasiun Kota bersama seorang rekan menggunakan mobil, karena kuatir hujan :)

Sesampainya di stasiun kami akhirnya berhasil menemui seorang pegawai salah satu jasa ekspedisi. Bapak tersebut menawarkan jasa pengiriman ke Cirebon dengan biaya Rp 1.000,00 per kg. Barang akan dibawa besok pagi menggunakan Kereta Api Taksaka. Setelah setuju dengan biaya yang diberikan maka saya turunkan barang tersebut dan membuat tanda terima. Selain biaya pengiriman saya pun memberika sedikit tips untuk kuli angkat yang membantu kami sebesar Rp. 10.000,00. Total pengeluaran Rp 70.000,00 ditambah uang parkir Rp 2.000,00 :)

Lega rasanya tugas telah selesai dan barang sudah diserahkan kepada jasa pengiriman. Sekarang tinggal menunggu proses pengiriman dan berharap semoga barang bisa tiba dengan selamat di Cirebon.

Apakah ada yang memiliki pengalaman serupa? Apakah ada alternatif lain untuk pengiriman barang dari Jakarta menuju daerah timur seperti Cirebon?

By: Budy Snake
Social Observer

Secara umum tidak suka dengan lingkungan yang tingkat kelembapannya tinggi. Untuk itu perlu diperhatikan kondisi kelembapan terariumnya.

Ular peliharaan sangat berisiko terserang cacingan yang biasanya menyerang di bawah kulit. Untuk penanganan kasus benjolan seperti itu tahap awal adalah pemberian obat antibiotik jenis amoxicilin (nama generiknya) atau merek lain dengan dengan jenis yang sama. Pemberian melalui oral saja, bisa dimasukan ke dalam pakannya. Kalau saya pribadi biasanya memasukan antibiotiknya ke dalam mulut bebek, tikus atau burung sebelum diberikan ke ular.

Setelah benjolan tersebut sembuh baru bisa diberikan obat cacing yang juga diberikan secara oral melalui pakan yang diberikan.

Biarpun ular kita nampak sehat, saran saya tetap berikan obat cacing secara teratur, misalnya setahun dua kali berikan obat cacingnya kepada demua peliharan kita secara serentak. Kondisi air minum atau bak rendaman harus bersih dan hal ini mutlak.

Informasi lanjutan tentang ular bisa ditanyakan via email: mertanus@cbn.net.id

By: Budy Snake

Magician & Snake Charmer

Kecelakaan Kereta Api beberapa bulan belakangan sering terjadi. Mulai dari yang paling sering seperti anjlok dari rel sampai terguling seperti yang dua hari lalu terjadi pada KA Citra Jaya. Bahkan beberapa jam setelah kejadian tergulingnya KA Citra Jaya, terjadi kecelakaan pula pada KA Argo Lawu yang anjlok di daerah Purwokerto – Jawa Tengah.

Kecelakaan anjlok dari rel merupakan hal yang paling sering dan lokasinya belakangan ini terjadi di daerah Purwokerto dan Banyumas. Mengapa hal ini bisa terus terjadi? Apakah memang PT Kereta Api Indonesia tidak konsen dalam membenahi infrastruktur rel yang makin tua usianya?

Selalu saja yang disalahkan adalah sang Menteri Perhubungan. Saya bukan pendukung Bapak Hatta Radjasa, saya pun tidak membela beliau. Hanya saja saya ingin kita melihat persoalan ini secara menyeluruh. Siapapun menterinya yang ditempatkan di Departemen Perhubungan tetapi apabila Sumber Daya Manusia yang ada di dalamnya bermental kerupuk, ya percuma dan sia-sia!

Di tingkat petinggi Dephub semua memang mungkin sudah bagus, mulai dari regulasi dan segala macam sanksi yang diberlakukan apabila ada yang melanggar. Namun kembali lagi pada pelaksanaan di lapangan yang seringkali tidak sesuai regulasi. Banyak oknum di Dephub yang melakukan pungutan liar. Hal tersebut juga sama dilakukan pada oknum di PT KAI yang juga tidak tegas dalam menjalankan aturan. Misal: Menerima pungutan liar dari penumpang yang tidak memiliki tiket. Dari hal-hal tersebut secara langsung akan mempengaruhi keuntungan PT KAI. Belum lagi oknum yang diduga korupsi di dalam perusahaan. Semua menjadi lingkaran setan tak terputus yang menyebabkan kinerja PT KAI terlihat dan terkesan sangat buruk. Misal: perawatan rel tidak dilakukan dengan baik, gaji pegawai PT KAI seperti penjaga perlintasan dan perawatan rel sangat kecil padahal tanggung jawab mereka besar.

Saya tidak berharap menteri Perhubungan dicopot, tetapi saya berharap pak menteri bisa bertindak tegas dalam menindak anggotanya yang nakal. Harus berani, karena yang melanggar itu dari tingkat atas sampai bawah. Harus berani mengambil suatu langkah terobosan besar untuk membenahi sistem transportasi di Indonesia.

By: Budy Snake
Social Observer