
Kemarin pagi saya mengunjungi Palabuhan Ratu. Berangkat dari Jakarta pukul 06:00 sampai di Sukabumi pukul 08:40. Karena padatnya jalur dari Ciawi menuju Sukabumi yang berjarak 60 km maka waktu tempuhnya 1,5 jam. Sangat menyebalkan memang, angkutan kota dan sepeda motor mengambil jalur arah sebaliknya. Mereka sepertinya tidak mengerti etika mengemudi yang baik.
Dari Sukabumi saya kembali melanjutkan perjalanan menuju Palabuhan Ratu, yaitu daerah pantai yang terletak di selatan Jawa Barat yang minggu lalu diberitakan terkena musibah ombak besar sehingga mengakibatkan kerusakan puluhan rumah di pinggir pantai.
Pukul 11:00 siang saya sudah tiba di Palabuhan Ratu, setelah sata melihat keadaan sekitar saya pun bertanya-tanya, “Bagian mana yang terkena musibah?” karena yang diberitakan begitu heboh. Akhirnya saya pun lapar dan saya mampir ke sebuah warung kecil yang sepi, seorang Ibu menyambut saya dengan ramah seperti orang Sunda pada umumnya. Saya mencoba berkomunikasi dengan Ibu tersebut untuk menanyakan tentang musibah yang terjadi minggu lalu. Jawaban Ibu tersebut begitu tenang dengan bahasa Indonesia campur bahasa Sunda,”Ah, gak apa apah, udah biasa begitu mah tiap taun juga ada ombak besar. Ngan eta di berita teh sok dileuwih-leuwihkeun” Tapi memang dengan adanya ombak besar tersebut banyak pelancong serentak meninggalkan lokasi karena mereka kuatir datangnya musibah Tsunami.
Masih menurut si Ibu, bahwa ombak minggu kemarin memang besar sampai mendekati jalan raya dan menghanyutkan beberapa warung kecil yang terletak persis di tepi pantai. Akibat ombak besar tersebut pula warung si Ibu rupanya menjadi sepi. Saya pun melihat pantai Palabuhan Ratu begitu sepi dan hanya penduduk lokal saja ada beberapa yang memancing dan pengunjung yang menikmati keindahan pantai, namun jumlahnya sedikit.
Secara umum saya pribadi terkesan dengan keindahan pantai Palabuhan Ratu. Lebih menarik jika dibandingkan dengan pantai Pangandaran. Lebih bersih dan ombaknya lebih besar. Selain itu pula memang lokasi yang dekat dengan perbukitan memiliki keindahan tersendiri.
Setelah saya selesai makan siang dan melakukan sedikit pembicaraan dengan si Ibu maka saya melanjutkan perjalanan menuju Cisolok-Sukabumi. Apakah anda inget sesuatu setelah membaca Cisolok? Ya, Cisolok merupakan daerah tempat asalnya Mak Erot, yang konon katanya dapat memperbesar alat vital. Ada kejadian menarik ketika mobil saya mulai memasuki jalan kecil menuju Cisolok. Saya diikuti oleh 3 orang yang masing-masing mengendarai sepeda motor. Setelah saya amati ternyata mereka adalah calo dari Mak Erot. Saya pun segera menolak tawaran mereka sambil membuka kaca mobil saya, namun mereka sangat gigih dan tidak puas dengan tanggapan saya. Mereka terus mengikuti mobil saya sampai saya sampai di pantai Bayah. Luar biasa! Itu kesan saya melihat mereka. Ketika saya turun dari mobil, salah satu dari mereka mendekati saya dan mulai berbasa basi, akhirnya sudah bisa ditebak menawarkan jasa Mak Erot. Mereka bilang,”Sekalian pak, nyoba ke Mak Erot, ini yang asli, langsung ama emaknya” lalu saya jawab dengan senyuman tanpa menanggapi lebih lanjut.
Perjalanan saya lanjutkan kembali ke Malingping lalu lanjut lagi ke Muarabinuangeun. Disana saya menyempatkan melihat pantainya dan mampir ke sebuah hotel untuk menanyakan tarifnya. Hotelnya sangat sepi karena tidak ada satu kamar pun yang disewa. Hal ini dikarenakan para tamu tidak ada yang berani untuk berkunjung, kuatir ada Tsunami. Memang musibah minggu lalu akibatnya sangat terasa, hotel sepi, warung di pinggir pantai pun sepi, perekonomian yang tidak maju bisa makin terpuruk. Karena sejauh yang saya amati, perekonomian masyarakat di sana sangat bergantung pada wisatawan yang berkunjung.
Lalu saya putuskan untuk balik lagi ke arah Palabuhan Ratu setelah saya mencoba menikmati minum di sebuah warung di pinggir pantai. Perjalanan menuju Palabuhan Ratu disaat matahari mulai terbenam di ufuk barat. Pukul 19:00 saya tiba di sebuah warung di Palabuhan Ratu, saya pun mencoba sate kambing yang ditawarkan, setelah kenyang saya langsung pulang menuju Jakarta.
Melelahkan sekaligus menyenangkan. Sayangnya perjalanan saya tidak ditemani wanita yang tentunya akan lebih menyenangkan hehehe…Suatu saat saya akan membawa teman saya ke Palabuhan Ratu. Oh ya, bagi pencinta fotografi, tempat yang saya kunjungi tadi sangat bagus untuk memotret pemandangan dan akan lebih menarik kalau ada modelnya, model yang cantik lho ya…
By: Budy Snake
Social Observer