Monthly Archives: June 2007

Setelah saya lihat di blog statistik WordPress banyak yang mencari di Google tentang memilih kepiting. Maka saya pikir ada baiknya saya posting lagi tentang metode saya dalam memilih kepiting. Sekedar tips dari saya untuk para penggemar kepiting yang ingin memasak sendiri dan membeli di pasar tradisional.

1. Pilihlah kepiting yang bagian belakangnya keras apabila ditekan dengan jari, itu menandakan kepiting sehat dan gemuk, sampai saat ini saya tidak pernah salah pilih.
2. Setelah memilih, jangan lupa untuk memastikan kepitingnya dalam keadaan hidup dengan menekan matanya, apabila aktif (segera keluar setelah kita tekan ke dalam) kita berarti kepiting masih hidup. Kepiting yang telah mati apabila dimasak akan menjadi tidak enak, tekstur dagingnya pun hancur.
3. Agar kepiting yang kita beli tidak mudah mati, kalau saya akan segera melepaskan tali pengikatnya segera setelah sampai di rumah. Letakkan dalam ember yang diberi sedikit air, hati-hati jangan sampai terlepas dan juga jangan sampai terjepit oleh capitnya. Dengan cara seperti itu kepiting akan lebih sehat dan kita bisa pantau kondisinya, apabila agak lemas sebaiknya dimasak terlebih dahulu sebelum mati.

Itulah beberapa tips yang bisa berguna bagi penikmat kepiting yang ingin membeli kepiting hidup di pasar tradisional.

By: Budy Snake

dsc_00970001_1.JPG

The reticulated python is the longest snake in the world. It can reach lengths of up to 9 meters in nature like a Sumatera Islands or Kalimantan – Indonesia. Such a huge snake is exceedingly rare, however most adult Reticulated Python top out at between 6 meters until 7,5 meters. This snake is a semiaquatic snake found in Asia include Indonesia. The most reticulated python are temperamental and wild behavior. This is the only snake in the world that is reliably confirmed to have killed and eaten human. For example is real tragedy in Borneo Island, a children killed by Reticulated Python from Borneo Island or Kalimantan Island- Indonesia.

The largest snake ever on display in Indonesia was a female Reticulated Python measuring 7 meters, kept by The Gembira Loka Zoo, Yogyakarta – Indonesia and then Rimba Reptil, Bali – Indonesia. But for now, I am not sure about the snake condition in Gembira Loka-Yogyakarta and Rimba Reptil-Bali.

For furher information about all of snakes, please contact: mertanus@cbn.net.id

By: Budy Snake

Magician & Snake Charmer 

Ada satu modus yang sedang populer saat ini, sebenarnya tidak bisa dikatakan baru karena sudah ada sejak lama. Modus yang saya akan ceritakan adalah modus dari penebar ranjau paku jalanan di Jakarta.

Yang saat ini populer adalah selain mereka menebar paku yang menjadi ranjau khususnya bagi pengguna sepeda motor, mereka memiliki kerjasama dengan para tukang tambal ban yang berada disekitar lokasi kejadian. Yang kurang ajar lagi adalah mereka tidak segan-segan dengan sengaja melukai ban dalamnya ketika berusaha mengeluarkan ban dalam tersebut. Alhasil mereka akan menyarankan kita untuk mengganti ban dalam yang mereka jual dengan harga yang tinggi. Keuntungan buat meraka dengan berbuat demikian adalah proses lebih mudah karena hanya mengganti ban dalam saja, tidak perlu repot-repot menambal ban dan keuntungan yang didapat lebih besar dibanding menjual jasa menambal ban.

Saya sendiri pernah mengalaminya dua hari lalu dan saya melihat ada yang tidak beres sejak awal. Ada beberapa motor yang datang hampir bersamaan dengan saya dan semuanya mengalami robek ban dalam, sungguh aneh dan tidak masuk akal.

Itulah realita yang terjadi di Jakarta ini, saya tidak tahu bagaimana dengan di kota lain. Yang jelas, saya melihat ini ada suatu pergeseran nilai moral yang terjadi ketika manusia memiliki beban hidup yang merasa berat untuk dihadapi. Sehingga pelaku cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dengan cara yang relatif mudah.

Apakah anda pernah mengalaminya juga? Pesan saya tetaplah waspada apabila berkendara dengan sepeda motor di malam hari, karena mereka beroperasi biasanya di malam hari. Namun tidak menutup kemungkinan siang hari pun bisa terjadi.

By: Budy Snake
Social Observer

Salah satu makanan kesukaan saya adalah ikan bakar seperti Gurame bakar, Bawal bakar, Kakap bakar, dan Baronang bakar. Yang paling sering saya pilih adalah Gurame bakar dan Bawal bakar. Untuk Baronang saya sudah menghindarinya karena saya pernah baca di salah satu selebaran dari pencinta laut bahwa Baronang termasuk jenis yang harus dihindari karena sebagian besar ditangkap dengan menggunakan racun kimiawi. Karena saya tidak tahu persis bagaimana proses penangkapannya maka saya hindari, kecuali di salah satu restoran di Denpasar – Bali yang menyediakan ikan-ikannya dalam keadaan hidup, maka saat saya berkunjung saya tidak ragu untuk memesan Baronang bakar.

Dua minggu lalu saya mencoba salah satu warung makan yang memiliki spesialisasi ikan bakar, yaitu Ikan Bakar Pak Tarjo yang terletak di Jl. Tentara Pelajar (Arteri Permata Hijau). Kunjungan saya kali ini adalah pertama kali karena diajak oleh seorang rekan. Sebelumnya saya menikmati Ikan Bakar Babe Lili, namun kali ini saya ingin mencoba dengan suasana yang berbeda. Di tempat ini kita dapat memilih sendiri ikan yang akan kita nikmati, harganya pun bervariasi dan relatif murah dibanding tempat lain seperti di Babe Lili. Sebagai perbandingan, untuk harga Rp 35.000,00 saya mendapat kan ikan Bawal yang 1,5 kali lebih besar dibanding dengan ukuran standar di Babe Lili. Untuk bumbu yang digunakan agak berbeda pula, untuk rasa saya tidak bisa membandingkan karena antara keduanya sama-sama enak dan memiliki rasa yang berbeda, kembali ke selera masing-masing.

Secara umum tempat ini baik dari sisi kecepatan penyajian, dan rasa yang OK pula. Hanya saja untuk tempat tidak besar, agak sulit apabila datang beramai-ramai mungkin tempatnya tidak cukup. Bagi yang berminat dengan ikan bakar anda layak mencobanya. Apabila ada yang suka ikan bakar, anda pun bisa berbagi pengalaman dengan saya, tidak terbatas di Jakarta saja, saya tunggu informasinya.

By: Budy Snake

Hari Sabtu dan Minggu kemarin saya berkunjung ke Grand Indonesia untuk mengikuti workshop fotografi yang disponsori oleh Olympus bersamaan launching new D-SLR, berita lengkapnya di sini.

Namun baru hari minggu saya menyempatkan berjalan-jalan mengelilingi Grand Indonesia yang tergolong sangat baru dan masih banyak tempat yang belum disewa. Yang sudah buka dan merupakan main tenant adalah Seibu, selain itu bisa dikatakan hanya toko-toko biasa yang ukuran luasnya pun standar.

Kesan awal saya terhadap Grand Indonesia adalah high class dan memiliki desain interior yang unik. Mulai dari tempat parkir basement yang dingin (saya tidak tahu pasti mengenai hal ini, apakah memang dirancang demikian?) Parkiran motornya pun luas dan dingin, berbeda dengan pusat perbelanjaan lain yang panas. Pendingin udara bekerja dengan baik, mungkin karena masih baru dan belum banyak pengunjung. Karena secara umum pengunjung yang datang langsung naik lift ke lantai 8 yaitu Blitz Megaplex. Saya melihat Blitz Megaplex memiliki daya tarik tersendiri untuk Grand Indonesia.

Selain itu adalah Seibu yang merupakan main tenant di sini yang menawarkan berbagai jenis barang mulai busana, perlengkapan rumah tangga hingga barang elektronik yang hampir seluruhnya bermerek dan harganya relatif mahal. Seibu memiliki target konsumen kelas atas yang menawarkan pelayanan yang baik dan barang bermerek dengan harga yang relatif mahal tentunya.

Grand Indonesia saat ini memang belum sempurna karena masih banyak yang belum buka dan di beberapa lantai masih dalam proses penyelesaian pembangunannya namun saya memprediksikan bahwa Grand Indonesia akan memiliki prospek yang cerah di tahun depan. Grand Indonesia yang terletak di dekat Bundaran HI akan dibangun pula Hotel Grand Indonesia Kempinski dan juga apartemen dalam satu lokasi yang berdekatan. Hotel Grand Indonesia Kempinski merupakan pengganti Hotel Indonesia yang dipugar ini sedang dalam proses pembangunan.

Secara umum Grand Indonesia sangat asyik buat berjalan-jalan dan tempat yang nyaman buat berbelanja dan juga dengan adanya Blitz Megaplex menambah kelengkapan dalam dunia hiburan keluarga.

By: Budy Snake

Social Observer 

e510press0001.JPG

Acara launching new D-SLR E-510 tanggal 22 Juni 2007 s.d 24 Juni 2007 di Grand Indonesia, tepatnya di cafe Blitz Megaplex. Keunggulan yang ditawarkan E-510 adalah adanya stabiliser di body kamera dan live view (seperti yang terdapat di kamera prosumer atau semi SLR). Ukuran sensor yang kecil (18,00 mm X 13,50 mm) dibanding D-SLR merek lain malah dijadikan suatu kelebihan, karena akan menambah kemampuan lensa terutama untuk tele, sebagai perbandingan: apabila menggunakan lensa tele 150 mm maka akan ekivalen dengan 200 mm atau bahkan lebih. Saya pribadi hanya melihat itu saja yang bisa dijadikan kelebihan. Oh ya ada satu lagi yang bisa dijadikan suatu kelebihan yaitu bentuk yang lumayan kecil bila dibandingkan dengan D-SLR lain, hal ini menguntungkan untuk foto human interest dan juga relatif ringan. Walaupun buat saya pribadi mengenai ringan dan kecil malah suatu kekurangan, karena tidak nyaman digenggaman dan mudah goyang terutama untuk penggunaan lensa tele. Itu hanya pendapat pribadi loh…

Saya tidak mengikuti acara utama di hari pertama, hanya menghadiri workshop di hari kedua tentang pre wedding dan hari ketiga tentang Human Interest oleh fotografer senior dari Kompas yaitu Bapak Arbain Rambey. Pada hari pertama saya datang sedikit terlambat dan hanya mengikuti sampai pemotretan model sesi pertama, setelah itu pulang. Acara hari kedua ini membahas tentang tips dan trik untuk foto pre wedding dan tentang pencahanyaan pun dibahas sedikit.

Hari ketiga yaitu hari minggu 24 Juni 2007 masih di tempat yang sama saat itu pembicaranya Bapak Arbain Rambey. Beliau juga memberikan tips dan trik dalam dunia fotografi khususnya Human Interest. Selain itu juga ada presentasi foto dari karya beliau yang pernah dimuat di media, juga beberapa koleksi saat bertugas ke Afganistan dan Aceh dalam masa GAM. Akhir acara juga diadakan sesi pemotretan dengan model cantik dengan tiga sesi dengan tiga warna kostum berbeda. Kali ini acara saya ikuti sampai selesai karena memang saya sangat menyukai bidang Human Interest. Acara berakhir pk 16.00 dan saya segera untuk turun ke lantai satu untuk bertemu rekan saya dan berkeliling Grand Indonesia.

Secara keseluruhan saya puas dengan acara workshop yang disponsori oleh Olympus. Berguna sekali terutama buat saya yang masih terus belajar dalam bidang fotografi. Apabila ada yang tahu tentang acara workshop fotografi kabar kabari yah…

By: Budy Snake

Malam kemarin saya bersama seorang rekan berangkat ke Pasar Kramat Jati di Jakarta Timur. Tujuan saya ingin membeli udang dan rekan saya ingin membeli ikan laut segar dengan harga yang pantas alias murah :) . Perjalanan kurang lebih menempuh 15 Km dari tempat tinggal saya, karena malam hari pk 21.45 maka lalu lintas sudah agak sepi dan lancar. Namun perjalanan kami terganggu karena ban sepeda motor kami kempes terkena ranjau paku jalanan. Kisah selanjutnya mengenai ban kempes akan diceritakan di sini.

Kurang lebih pk 23.00 kami tiba di Pasar Kramat Jati. Setelah melihat-lihat sekilas kami pun langsung mendatangi satu salah satu penjual ikan dan udang, memang harganya relatif murah untuk ukuran Jakarta tentunya. Pasar tradisional yang terletak di jalan raya Bogor ini menawarkan berbagai macam jenis hasil laut, seperti kepiting, udang, kerang, dan aneka jenis ikan laut segar dari ukuran kecil sampai besar. Berdasarkan pengamatan saya hampir semua penjualnya berasal dari Madura (mohon koreksi kalau salah). Dari beberapa lapak yang saya kunjungi mereka berasal dari Madura, saya mendengar dari bahasa mereka. Saya belum tahu pasti sejarahnya kenapa banyak penjual di sana berasal dari Madura. Mungkin ada yang tahu?…

Tidak sampai 15 menit saya sudah mendapatkan jenis udang yang saya mau dengan harga Rp 25.000,00 per kilogram. Rekan saya pun membeli ikan Baronang dan ikan Kepala Merah dengan ukuran besar yaitu 3,5 kg saya tidak ingat harga Rp 15.000,00 per kg (kalau tidak salah ingat yah…) Saya pun tidak lupa membeli kepiting, saya keluarkan kemampuan saya untuk memilih kepiting yang gemuk dan banyak dagingnya agar tidak tertipu dengan penampilan display yang menarik. Karena pedagang juga tidak mau rugi yaitu dengan memajang kepiting dengan ukuran besar yang sebenarnya ada beberapa yang kurus alias dagingnya sedikit.

Sekedar tips dari saya, untuk penggemar kepiting; pilihlah kepiting yang bagian belakangnya keras apabila ditekan dengan jari, itu menandakan kepiting sehat dan gemuk, sampai saat ini saya tidak pernah salah pilih. Setelah memilih, jangan lupa untuk memastikan kepitingnya dalam keadaan hidup dengan menekan matanya, apabila aktif berarti kepiting masih hidup. Kepiting yang telah mati apabila dimasak akan menjadi tidak enak, tekstur dagingnya pun hancur. Untuk menghindari itu, kalau saya akan segera melepaskan tali pengikatnya segera setelah sampai di rumah. Letakkan dalam ember yang diberi sedikit air, hati-hati jangan sampai terlepas dan juga jangan sampai terjepit oleh capitnya. Dengan cara seperti itu kepiting akan lebih sehat dan kita bisa pantau kondisinya, apabila agak lemas sebaiknya dimasak terlebih dahulu sebelum mati.

Setelah mendapat semua yang kami ingin beli kami pun segera pulang ke rumah. Segera setelah sampai saya mencuci udang dan memberikan bumbu. Malam itu juga sebagian dari udangnya saya goreng untuk supper alias makan tengah malam yang merupakan kebiasaan saya:)

By: Budy Snake

Sudah dua hari ini Jakarta mendung, saya sangat menikmatinya. Namun siang tadi Jakarta diguyur hujan yang deras disertai angin yang besar. Yang saya tahu persis daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Barat diguyur hujan besar.

Hari ini saya mengendarai sepeda motor sesaat setelah hujan mulai berhenti di sekitar jalanM.H. Thamrin. Walau masih gerimis saya tetap terobos karena mengejar waktu makan siang yang sudah terlambat. Tetapi saya terkejut karena di jalan yang saya lalui tergenang air sedalam 5 m – 8 m. Sungguh memalukan, kota metropolitan sebesar ini digenangi air padahal hujan hanya mengguyur lebih kurang 1 jam. Lubang-lubang pembuangan air yang terdapat disepanjang jalan M.H. Thamrin dari Sarinah menuju Bundaran Hotel Indonesia seakan tidak mampu mengatasi jumlah air yang deras ini sehingga menggenang.

Akhirnya saya bisa melalui itu dengan berbasah-basahan pada bagian celana dan sepatu saya. Aman pikir saya… Namun setelah saya sampai di perempatan jalanBiak saya kembali terkejut karena di tempat itu ternyata digenangi air juga sedalam 20 cm, alhasil sepatu saya benar-benar basah. Saya tetap paksakan sepeda motor yang saya untuk menerobos genangan air yang lumayan dalam itu sambil berharap mesin motor tidak mogok.

Saya pun akhirnya dapat sampai di rumah dengan selamat walau semua celana basah dan sepatu tidak bisa digunakan besok pagi. Pertanyaan yang selalu muncul, kapan Jakarta akan bebas banjir? Bagaimana menurut anda tentang hal ini?

By: Budy Snake
Social Observer

Belakangan ini saya sering mendengar suatu percakapan yang menggunakan kata “secara” sebagai pengganti kata “karena” Misalnya: “Saya lebih memilih Joni dibanding Anto, secara Joni lebih baik dalam berperilaku dan memiliki senyum yang menawan.”

Saya tidak tahu sejak kapan muncul istilah yang menurut saya baru dan tidak baku dalam tata bahasa Indonesia. Kata “secara” dalam tata bahasa Indonesia yang baku ada 4 definisi, seperti yang tertulis di Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu:
1. Berarti “sebagai” atau “selaku” misalnya: “Hendaknya kamu bertindak secara laki-laki.”
2. Berarti “menurut” dalam hal ini berhubungan dengan adat dan kebiasaan, misalnya: “Perkawinan Togar akan dilaksanakan secara adat di Medan.”
3. Berarti “dengan cara”, misalnya: “Kasus pembunuhan itu akan diselesaikan secara hukum.”
4. Berarti “dengan”, misalnya: “Tema itu diuraikan secara ringkas oleh Pak Tedy.”

Nah, tapi yang sering saya dengar belakangan kata “secara” memiliki arti yang bergeser dari keempat definisi di atas, yaitu memiliki definisi “karena”. Ya mungkin inilah yang disebut bahasa gaul, biar tidak merasa ketinggalan zaman kadang orang ikut-ikutan sok gaul. Budaya kita ini kan selalu niru-niru, ironisnya asal mengikuti tanpa mengerti maknanya sesungguhnya.

Pernahkah anda mendengarnya juga? Anda bisa berbagi juga apabila pernah mendengarnya. Bagi yang belum pernah mendengar, anda bisa coba amati percakapan yang ada di sekitar anda atau di radio juga sering terdengar penggunaan kalimat tersebut.

By: Budy Snake

Indonesian Language Observer

Life is a choice…
When we didn’t make a choice, we actually made a choice for not to choose.
Don’t take the wrong choice.
Choose what you think would be the most proper choice
The most important thing is that , we must be responsible to our choice.

By: Budy Snake

Social Observer