Belakangan ini saya sering mendengar suatu percakapan yang menggunakan kata “secara” sebagai pengganti kata “karena” Misalnya: “Saya lebih memilih Joni dibanding Anto, secara Joni lebih baik dalam berperilaku dan memiliki senyum yang menawan.”

Saya tidak tahu sejak kapan muncul istilah yang menurut saya baru dan tidak baku dalam tata bahasa Indonesia. Kata “secara” dalam tata bahasa Indonesia yang baku ada 4 definisi, seperti yang tertulis di Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu:
1. Berarti “sebagai” atau “selaku” misalnya: “Hendaknya kamu bertindak secara laki-laki.”
2. Berarti “menurut” dalam hal ini berhubungan dengan adat dan kebiasaan, misalnya: “Perkawinan Togar akan dilaksanakan secara adat di Medan.”
3. Berarti “dengan cara”, misalnya: “Kasus pembunuhan itu akan diselesaikan secara hukum.”
4. Berarti “dengan”, misalnya: “Tema itu diuraikan secara ringkas oleh Pak Tedy.”

Nah, tapi yang sering saya dengar belakangan kata “secara” memiliki arti yang bergeser dari keempat definisi di atas, yaitu memiliki definisi “karena”. Ya mungkin inilah yang disebut bahasa gaul, biar tidak merasa ketinggalan zaman kadang orang ikut-ikutan sok gaul. Budaya kita ini kan selalu niru-niru, ironisnya asal mengikuti tanpa mengerti maknanya sesungguhnya.

Pernahkah anda mendengarnya juga? Anda bisa berbagi juga apabila pernah mendengarnya. Bagi yang belum pernah mendengar, anda bisa coba amati percakapan yang ada di sekitar anda atau di radio juga sering terdengar penggunaan kalimat tersebut.

By: Budy Snake

Indonesian Language Observer

19 Comments

  1. ah masa sih Pak ada orang yang menggunakan kata “secara” dengan arti baru seperti itu? belum pernah dengar sih, mungkin karena saya kurang gaul…tapi kalau iya banyak yang menggunakannya berarti banyak ya ketololan yang dianggap sebagai sesuatu yang “gaul”…ha..ha..ha… :D

  2. wah, ini dia yang saya cari, sudah beberapa minggu saya mengamati penggunaan kata “secara” ini, bahkan sebelum membaca postingan ini saya masih bingung apa maksud/arti penggunaan kata “secara” ini.

    kalau semakin banyak perubahan makna seperti ini, lama2 kita pasti akan semakin bingung dalam menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar.

    kalau mau “gaul”, saya lebih setuju/senang pembuatan “kata baru” atau jargon, dibanding dengan mengubah makna kata seperti ini, karena efeknya jadi memperparah makna ganda atau ambigu yg ada pada bahasa kita. betul kan?

  3. To Tedytirta: Coba anda mulai perhatikan apabila ada orang yang ngobrol misal di radio atau televisi. Bahkan saya dengar dari adik saya bahkan kata”secara” yang bermakna “karena” sering digunakan di beberapa acara televisi. Untuk hal ini saya belum menyaksikan sendiri, andaikan benar ini merupakan sinyalemen yang buruk.

    To Anker: Saya juga sependapat dengan anda, hal ini dapat merusak bahasa Indonesia. Seharusnya kita berbangga menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, bukan malah merusak. Saya angkat topik ini karena saya ikut prihatin dengan penggunaan bahasa yang terkadang tidak tepat.

  4. iya, saya juga bingung tujuh keliling dengan kata-kata itu, saya pikir sebelumnya orang tersebut salah ketik tapi kok salah ketik berulang-ulang, ooo ternyata artinya seperti itu yah

  5. Ya artinya memang seperti itu.Tapi penggunaan itu tidak sesuai dengan kaidah berbahasa yang baik dan benar. Menurut saya ada kecenderungan merusak bahasa. Sayangnya ada beberapa penyiar radio yang menggunakannya dalam siaran.

  6. Kata “secara” ini juga pernah masuk di rubrik Bahasa! majalah Tempo. Kalo di sana sih dijelaskan arti kata “secara” yang dimaksud remaja saat ini adalah “mengingat”. Mungkin saya bisa beri contoh : “Secara kita semua adalah orang Indonesia…” itu sama artinya dengan “Mengingat kita semua adalah orang Indonesia …”

    Kalo saya sih sama sekali nggak setuju penggunaan bahasa gaul di media massa cetak, seperti majalah remaja. Soalnya kasih guru bahasa Indonesia, mereka harus bersusah payah untuk mengajarkan anak didiknya bagaimana menulis yang baik dan benar. Apalagi kalau karya tulis ilmiah, masih mending kalo cuma cerpen. Nah, kalo pas ujian mereka pake bahasa gaul, bisa berabe…
    Lagi pula bahasa gaul kan identik dengan bahasa pergaulan, bahasa tutur, agaknya sangat tidak sesuai apabila digunakan dalam bahasa tulis. Bukan begitu?

  7. secara saya juga binun ^_~
    Waktu liat ulasan ttg pedagang kopi di Trans 7
    diwawancarailah seorang tukang ojeg yg betawi banget dah ngomongnya
    Eh dia ngomong ‘Secara kl malem2……’ dan seterusnya dgn logat betawi yg kental…. sow, ’secara’ berasal dari betawi?

    http://1sty.multiply.com/ mengatakan
    ngomongin kata ’secara’ ini, aku dengernya mulai tahun 2005 awal gitu, Fan.. temenku, reporter TV7 (dulu masih TV7 kan, belum trans 7) yg pertama ngomong begitu. belakangan jadi marak omongan kayak gitu, termasuk dipopulerin ama Indi Barends. yaaa, secara Indi penyiar radio dan pembawa acara ceriwis gitu.. *pake ’secara’ juga ya aku*

  8. To Ratih: Terima kasih atas tanggapannya yang detil dan dukungannya dalam mencintai bahasa Indonesia.
    To Sikathabis: Saya tidak tahu persis dari mana asal mula istilah ini muncul. Memang peran penyiar radio sangat besar dalam penyebaran istilah “ngawur” ini.

  9. wahaha.. ini dia nih.. saya ketemu lagi satu weblog yang membahasa tentang bahasa Indonesia. Sudah pernah mampir ke indonesiasaram.wordpress.com? Isinya kira-kira serupa dengan weblog Anda. Mungkin Anda bisa saling bertukar pengetahuan melalui weblog maupun e-mail.

  10. Hai, apakabar? Sudah makan?

    Sorry, mungkin beda pendapat atau pandangan nih.

    Menurut saya, bahasa itu hidup. Mungkin yang saat ini terasa ‘merusak’, suatu saat kalau bisa diterima oleh khalayak ramai, akhirnya menjadi resmi juga. Lha, bahasa itu untuk komunikasi massa, jeh!

    Contoh: ‘permasalahan’ – ini jelas salah, sebab kata ‘masalah’ sudah merupakan kata benda, tidak perlu diberi imbuhan ‘per’ dan ‘an’ lagi seperti ‘buat’ (kata kerja) menjadi ‘perbuatan’ (kata benda). Tapi, sekarang ‘permasalahan’ sudah menjadi satu kata yang bisa diterima.

    Begitu juga dengan susunan yang menyalahi hukum DM: ‘Gramedia Toko Buku’, alih-alih ‘Toko Buku Gramedia’ (DM), akhirnya bisa diterima juga. Dalihnya adalah sebab ada banyak jenis usaha Gramedia, ada toko buku, ada majalah, ada penerbitan. Tapi, yang lebih penting adalah penerimaan oleh masyarakat umum. Kalau sudah diterima, walau mungkin secara tata bahasa salah, ya sudah. Kita juga harus berlapang dada menerimanya.

    Sebaliknya, singkatan ‘BBWI’ (bagian barat waktu Indonesia) yang coba diperkenalkan oleh satu stasiun teve, untuk menggantikan WIB–waktu Indonesia (bagian) barat–, ternyata tidak diterima, ya akhirnya menghilang dengan sendirinya.

    Kata ‘canggih’ semula berarti rumit, tapi sekarang menjadi ‘teknologi tinggi, baru, hebat’. Begitu juga kata ‘rekayasa’ yang sebenarnya berarti identik dengan ‘engineering’, bersifat netral, tidak positip maupun negatip konotasinya, tapi dalam perkembangannya, kata ‘rekayasa’ terasa berkonotasi negatip. Direkayasa = dibuat-buat.

    Anda bisa bedakan ‘rasa’ bahasa untuk kata-kata: ‘kolusi’, ‘koalisi’, ‘kolaborasi’? Ketiganya mempunyai arti yang sama: bergabung, gabungan, campuran, tapi dalam pemakaiannya mengandung konotasi yang berbeda-beda, bukan?

    Kembali ke ’secara’, saya lihat memang pemakain arti lain itu membingungkan. Sebabnya belum umum dipergunakan. Tapi, saya lihat kata ’secara’ bisalah diidentikkan dengan kata ’since’ dalam bahasa Inggris.

    Saya sendiri pernah coba menyindir pemakaian kata ’secara’ ini (sejujurnya membingungkan saya juga) di satu milis lingkungan, sengaja saya pasang kata ’secara’ berulang-ulang yang akan terasa memusingkan dan membingungkan. Tapi kemudian ada reaksi aneh, atau persisnya unik, dari seorang anggota milis tsb. yang kemudian secara diam-diam mengirimkan posting ttg ’secara’ itu ke blog satu orang anggota kelompoknya untuk dicopy paste dan kemudian dijadikan…. bahan tertawaan! Lucu, tapi dengan konotasi yang bagaimana begitu-lah.

    Begitulah. Memang bahasa itu hidup, jeh!

  11. ahhaaahahaa…

    akhirnya… trnyta bnyk orng juga yg pusing memikirkan peran baru dari kata ’secara’.. [bkn cmn saia.. hix.. hehe]

    hmm.. memang unik Indonesia ni.. dinamika bahasa memang lebih mencuat beberapa tahun terakhir ini dibandingkan 10 tahun lalu.. mungkin krna bangsa kita tambah hari tambah gaul.. hehe..

    hmm.. pertama kali saya mulai memperhatikan peran baru kata ’secara’ ini ialah lewat iklan sebuah produk susu di TV yg berslogan “secara.. tumbuh itu ke atas, bukan ke samping”..

    nah,.. dari situ muncul rasa penasaran dengan sejarah peran yang bergeser ini.. karena dari percakapan orang2 di TV, percakapan teman2 saya, dan banyak orang lain yang saya dengar kerap kali menggunakan kata ’secara’ ini, saya menangkap pengertian baru ttg peran kata ini.
    ..dan hasil olahan pikiran saya, datang pada pengertian bahwa peran kata ’secara’ itu bukan hanya menyamai peran kata ‘karena’ yang memaknai sebab, tetapi juga nampaknya menyamai peran kata-kata sbagai berikut:

    1. pada dasarnya
    2. ikhwalnya
    3. pastinya
    4. tak perlu diragukan lagi
    5. memang iya

    dn mungkin msih banyak lagi..

    &peran kata ’secara’ yg baru ini, nampaknya membuat dirinya sejajar dengan translasi bhsa Inggris ‘NO WONDER’, ‘NO DOUBT’.. yang artinya benar2 berbeda dengan arti kata ’secara’ dalam kamus besar bhasa indonesia

    waahhh…

    yang menjadi perhatian saya ialah.. dinamika bahasa itu memang terkadang indah, terkadang lucu, terkadang misterius.. namun apakah gejala fleksibilitas merdeka yang nampak pada masyarakat sekarang ini akan lebih berpengaruh daripada gejala bahasa baku dan akhirnya mengacaukan masa depan bahasa Indonesia kita?

    ..mhon pndapat

  12. FUCK OFF semua orang yg pake kata ’secara’ dalam bhs gaul,gw pernah caci maki temen gua yang pake kata ’secara’ dalam bhs gaul,njing ! ngomong yang bener,tai lo bikin gua empet aja dengernya.

    kalo ada yang ga terima dengan gua silahkan berdebat ’secara’ jantan

    ^
    ^
    ^
    kalimat diatas menurut gua adalah salah satu penggunaan kata ’secara’ yang pada tempatnya

  13. Kalau dalam bhs inggris gimana ya penjelasannya?

  14. makanya jgn gaul ama seleb2 banci.. bahasanya kampungan.

  15. Omong-omong soal “secara”, saya telah melakukan penelitian bahasa pada kata tersebut. Kata secara yang bermakna “dengan cara” dirancukan dengan makna baru “soalnya (bentuk kasual kata penghubung sebab-akibat)” karena terdapat hubungan asosiatif antara kata dasar yang membentuk kedua kata tersebut; “soal” dan “cara”. Untuk lebih jelasnya, silakan kunjungi blog saya di http://perubahanmakna-katasecara.blogspot.com/ (bisa langsung masuk ke bagian “Pembahasan” untuk menghemat waktu baca “]).

  16. mnurut aq seh ga papa bwt bhsa gaul..
    ttapi jgn mmperparah bahasa yg mmbuat org lain mlah ga ngerti…

  17. gapapa sih…
    asal yg diajak ngobrol pake bahasa gaul nya ngerti..

  18. “Secara” itu “berhubung”.
    Simple kan?! Yang memulai namanya Anggi di tahun 2001 dari salah satu SMA swasta di Jakarta.

    • Ya memang itulah kekeliruannya… Yang saya bahas adalah itu tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang tepat.


2 Trackbacks/Pingbacks

  1. [...] yang menggunakan kata secara dengan cara yang aneh ini. Suatu kali saya pernah membaca tulisan Sdr.Mertanus tentang hal ini, tapi saya belum ngeh kalau ada orang yang sering menggunakan kata ini. Gara-gara [...]

Post a Comment

*
*