Sekarang lagi heboh permen berfomalin, saya pun mengetahui melalui www.detik.com dan mengikuti perkembangannya sejak beberapa hari lalu. Hari ini saya membaca berita bahwa permen White Rabbit ternyata salah satu dari permen yang mengandung formalin. Saya tidak menyangka akal hal ini karena permen itu sudah beredar sejak lama di Indonesia dan merupakan permen favorit saya ketika saya kecil.
Ketika itu saya selalu menyebutnya permen susu, karena memang rasanya seperti susu. Permen ini sangat unik karena selain bungkus kertas di bagian luarnya ada lagi selaput di dalamnya yang bisa langsung dimakan karena terbuat dari agar-agar yang dibuat seperti kertas minyak.
Saya tidak mengerti mengapa hal ini baru terungkap setelah berpuluh-puluh tahun lalu. Andaikan saja benar, saya akan pertanyakan tentang cara kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam hal ini. Bagaimana sebuah produk yang mengandung formalin bisa masuk pasar Indonesia dan menyebar hampir semua daerah? Ataukah memang yang belakangan ini beredar adalah produk permen White Rabbit yang palsu?
Tentunya hal ini harus segera diluruskan dan dijelaskan kepada masyarakat. Apabila ternyata memang ditemukan bukti adanya produk palsu, maka pihak distributor resmi dari permen White Rabbit yang asli harus melakukan penjelasan kepada masyarakat dan melaporkannya kepada pihak kepolisian agar sindikat pengedarnya dijatuhi hukuman yang berlaku di Indonesia.
Update:
Ternyata hari ini (28 Juli 2007) saya membaca di liputan6.com bahwa Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Husniah memastikan permen White Rabbit produksi bebas formalin.
Jadi bagi pencinta permen jenis ini untuk tidak ragu untuk kembali mengkonsumsinya.
By: Budy Snake
Social Observer
