Pagi ini saya banyak menghabiskan waktu dengan senapan-senapan koleksi saya. Begitu bangun tidur pukul 08.00 pagi, saya langsung menuju kamar mandi untuk cuci muka. Setelah minum satu botol air  dilanjutkan dengan mengambil senapan Weihrauch HW 30 untuk dibersihkan. Juga tidak ketinggalan Weihrauch HW 77 yang kemarin malam baru beres dirakit lagi setelah saya lepas dari popornya.

Setelah itu saya mengambil kamera DSLR Nikon saya untuk sesi foto. Karena sejak beli saya belum mengabadikan koleksi saya ini. Saya coba beberapa posisi dengan lensa makro. Namun karena cahaya dalam kamar saya tidak stabil maka hasil foto kurang maksimal, mungkin lain waktu dicoba lagi sambil menunggu mood-nya tepat :)

Siang setelah makan siang sekitar pukul 13.30 saya menuju halaman belakang untuk dengan membawa dua senapan, yaitu Sharp Ace dan Weihrauch HW 77. Saya gabung dalam satu tas senapan, lumayan juga ternyata beratnya. Keduanya memiliki total berat 7,5 kg. Weihrauch HW 77 sendiri memiliki berat sekitar 4 kg, cukup berat untuk ukuran senapan, karena memang bahannya yang terbuat dari baja berkualitas tinggi.

Tujuan saya adalah mencoba membandingkan diantara kedua senapan itu. Saya coba pada jarak 50 meter. Saya mencoba beberpa kali tembak pada jarak 50 meter secara bergantian.

Untuk senapan Weihrauch HW 77 saya coba terlebih dahulu. Hasilnya memang mantap, dengan sumber tenaga menggunakan per atau pegas mampu meleu kaliber 4,5 mm dengan cepat, dan akurasi yang bagus. Dalam jarak 50 meter masih sanggup melubangi lembaran seng alumunium dengan sempurna. Diatas kertas tercatat bahwa Weihrauch HW 77 memiliki kecepatan peluru 290 meter / detik  atau 950 fps (frame per second)

Nah, saatnya saya mencoba membandingkan dengan Sharp Ace buatan Jepang yang sumber tenaganya adalah dari udara yang dimampatkan dengan pompa. Hal yang ingin saya tahu adalah berapa kali pompa yang diperlukan untuk menyamai tenaga yang dihasilkan oleh Weihrauch HW 77. Setelah saya mencoba beberapa kali tembak ternyata didapatkan hasil bahwa saya perlu memompa 8 kali pada Sharp Ace untuk menyamai kekuatan Weihrauch HW 77.

Setelah itu saya lanjutkan dengan latihan menembak dengan Weihrauch HW 77. Senapan ini saya sengaja tidak pasangkan teleskop karena memang tujuannya adalah untuk berlatih menembak target. Ada kenikmatan tersendiri ketika berlatih menembak dengan Weihrauch HW 77 yang tidak menggunakan teleskop dan yang paling terasa beda adalah recoil atau hentakan ke belakang yang terasa ketika picu ditarik. Itulah keasikan tersendiri yang ditimbulkan, serasa menembak dengan senjata api.

Setelah saya menghabiskan banyak peluru maka saya putuskan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati jus sayur Tipco. Setelah itu saya kembali lagi untuk berlatih menembak target dengan jarak 10 meter. Namun kali ini senapan yang saya gunakan adalah Weihrauch HW 30. Latihan kali ini saya pun menghabiskan banyak peluru. Hampir setengah kaleng peluru Beeman Silver Bear saya habiskan untuk berlatih menembak target maupun tes menembak. Boros memang, tetapi saya merasa puas sekali dengan latihan hari ini. Total waktu hampir 5 jam saya habiskan untuk menembak.

Setelah latihan selesai pada menjelang maghrib saya pun bergegas untuk membersihkan ketiga senapan yang baru saja digunakan untuk berlatih. Saya menggunakan prinsip bahwa membersihkan senapan sesegera mungkin setelah berlatih atau menggunakannya adalah wajib. Hal ini untuk memastikan bahwa senapan kita selalu dalam keadaan bersih dan bebas dari karat atau korosi karena bekas keringat di tangan kita.

Sekarang semua senapan telah tersimpan rapi di tempatnya masing-masing dan saya lanjutkan dengan menulis tulisan ini sesaat sebelum saya beristirahat untuk bersiap aktivitas di hari esok.

Selamat malam, selamat beristirahat…

Budy Snake

About these ads