Category Archives: Binatang

Topik ini sudah pernah diulas di artikel sebelumnya, namun kali ini saya akan mencoba untuk menulis lebih detil lagi. Banyaknya email yang masuk dan bertanya kepada saya membuat saya berpikir untuk mengulasnya melalui blog ini.

Seberapa sering ular itu harus dipegang?
Pertanyaan tersebut kerap kali ditanyakan oleh pehobi yang baru mulai memelihara ular. Untuk menjawabnya memang saya agak sulit karena memang tidak ada patokan yang pasti untuk hal ini. Yang jelas, jangan kita terlalu sering menyentuh ular peliharaan kita agar tidak menjadi stres namun juga jangan sampai jarang dipegang atau disentuh sehingga ular peliharaan kita menjadi galak karena tidak terbiasa dipegang. Tentunya hal ini tergantung kepada tiap-tiap ular itu sendiri dan juga tergantung dari jenis ular yg dipelihara. Hal yang perlu diperhatikan adalah jangan menyentuh ular yang baru saja makan, beri waktu beberapa hari setelah ular tersebut makan kenyang sebelum disentuh. Ular yang disentuh atau dipegang setelah makan bisa saja menjadi stres sehingga makanannya dimuntahkan kembali atau ada beberapa ular yang menjadi agresif setelah makan kenyang. Sebaiknya setelah dua atau tiga hari barulah kita pegang ular tersebut, sekali lagi saya tegaskan bahwa hal ini adalah tergantung dari kondisi ularnya. Apabila setelah tiga hari masih ada benjolan di perut ularnya maka belum saatnya untuk dipegang.

Jadwal pemberian makanan
Untuk jadwal pemberian makan pun tergantung dari jenis dan ukuran ular. Pada prinsipnya berikan umpan yang sehat dan bebas penyakit. Usahakan tiap kali makan porsinya cukup dan jadwal pemberian pakan tetap, misal: seminggu sekali atau dua minggu sekali. Untuk jumlah makanannya bisa bervariasi, namun yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai kurang atau terlalu kenyang. Untuk patokannya saya bisa berikan tips disini, yaitu: misalkan ular peliharaan anda mampu memakan 5 ekor bebek dalam satu kali makan, maka berikan cukup 4 ekor saja tiap kali makan. Intinya selalu kurangi dari porsi makan maksimalnya.

Untuk ukuran mangsanya usahakan ukurannya lebih besar sedikit dari kepala ularnya, makin besar makin baik, tentunya tergantung dari kemampuan ularnya. Jangan pula terlalu besar sehingga ularnya mengalami kesulitan atau bahkan tidak mau makan.

Untuk ular ukuran kecil yang ingin diberi makan ular tikus putih (rat), sebaiknya saat pemberian makan tetap terus dipantau, apabila tidak segera dimangsa lebih baik diambil dan diberikan lain waktu sampai ularnya benar-benar siap makan. Kenapa saya jelaskan? Karena tidak jarang justru ular tersebut yang digigit oleh si tikus putih (rat) tersebut. Saya sendiri memiliki pengalaman seperti itu, ular kobra kesayangan saya mati setelah kepalanya digigit oleh tikus rat yang saya berikan.

Bagi yang belum mengerti, bisa saya jelaskan bahwa tikus putih ada dua jenis, yaitu jenis kecil dan besar. Biasanya yang kecil disebut mice, jinak dan ukurannya tidak bisa besar dan yang jenis kedua ukurannya besar disebut rat, jenis ini ukurannya bisa sebesar tikus sawah dan galak.

Untuk artikel lain tentang ular bisa di klik pada bagian kategori “ular” dan tulisan lainnya akan menyusul.

Untuk informasi lebih lanjut tentang ular, bisa hubungi saya melalui: mertanus@cbn.net.id

By: Budy Snake

Magician & Snake Charmer

Kali ini saya menulis tentang flu burung lagi setelah tanggal 6 Juni lalu saya menulis tentang hal yang sama, yaitu fakta yang perlu diketahui tentang flu burung. Saya memutuskan menulis lagi karena siang ini saya mendapat offline message di Yahoo Messenger yang mengatakan:

“Dear All, pg ini diktr i ada teleconfrence utk pembahasan birdflu dan yg concern mslh ini adl perush2 Amrik. Di indo kita sdh mencapai tahap 2 dan ini perlu diwaspadai krn pmrth tdk terlalu mengembar gemborkan mslh ini ttp sebenarnya sdh byk korbannya. Birdflu ini bs terjangkit dr binatang ke manusia tp akan bs dr manusia ke manusia apabila sdh sampai tahap ini mk kt perlu waspadai. Seringkali kt berpikir telur ayam kampung lbh baik dr ayam negri itu salah krn justru kematian byk di temukan disekitar peternakan ayam kampung. Kurangi mkn telur ayam kampung. Knp ayam biasa lbh gemuk krn ada suntikan vitaminnya. Pokoknya hindari hal-hal yang berhubungan dgn ayam,burung smtr jgn terlalu dekat2 dl. Telur rebus better than yg di goreng. Pls be attantion tp ya lbh dr itu doa aja.”

Pesan tersebut tidak saya tambah, tidak saya ubah, dan hanya menghilangkan nama si pengirim. Dalam pesan tersebut terkesan isinya adalah berita yang benar dan menakutkan sekali. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah hal tersebut mencerminkan bahwa masyarakat Indonesia sudah terkena efek pembodohan yang dilakukan oleh pemerintah. Mengapa demikian? Karena sudah jelas bahwa sampai saat ini (tahun 2007) tidak atau belum ditemukan bukti ilmiah bahwa virus H5N1 dapat menular dari unggas ke manusia.

Lalu ada pesan disitu yang mengatakan untuk mengurangi mengkonsumsi telur ayam kampung dan menghindari ayam dan burung untuk sementara ini. Ini sangat tidak rasional, toh yang kita konsumsi pun adalah telur yang matang dan sudah melalui proses pemanasan dengan cara direbus dan digoreng. Apabila ada virus H5N1 di telur tersebut tentunya sudah mati karena virus H5N1 akan mati dengan pemanasan 80 derajat celsius selama 1 menit atau pemanasan dengan suhu 70 derajat celsius selama 3 menit. Maka simpulannya, daging ayam, telur dan semua produk yang berasal dari unggas, sangat aman untuk dikonsumsi oleh manusia jika produk tersebut telah direbus/dimasak dengan pemanasan 80 derajat celsius.

Artikel ini saya tulis karena berhubungan dengan artikel saya yang berjudul “Apakah Virus Flu Burung H5N1 Dapat Menyerang Manusia?”. Mungkin untuk lebih jelasnya anda dapat pula membaca tulisan saya tersebut, silakan anda klik pada judul tersebut.

By: Budy Snake
Social Observer

Pertanyaan itu selalu menghantui pikiran saya kurang lebih sejak dua tahun lalu. Kita sering mendengar berita bahwa virus H5N1 bisa menyerang manusia. Pemerintah pun terkesan panik dalam menanganinya, sampai-sampai Pemda DKI melakukan pemusnahan unggas secara serentak dan besar-besaran. Burung dengan harga ratusan ribu bahkan jutaan rupiah pun harus dimusnahkan dengan biaya pengganti yang sangat tidak manusiawi.

Menurut saya itu adalah tindakan yang panik dan tidak masuk akal. Karena saya sendiri tidak yakin dengan hasil temuan yang ada selama ini. Karena sampai saat ini belum ada bukti ilmiah bahwa virus H5N1 bisa menular kepada manusia. Seorang rekan saya seorang dokter hewan berpendapat bahwa:

“Jika H5N1 dapat menular ke manusia maka dokter hewan dan pegawai laboratorium yang mengisolasi virus tersebut akan menjadi korban pertama, demikian juga dengan pekerja di kandang ayam, pemotong ayam, penjual ayam, pemelihara burung dan semua orang yang kontak dengan unggas. Laporan positif H5N1 pada manusia oleh WHO, DEPKES dan dokter sangat tidak masuk akal, tetapi telah diterima oleh masyarakat akibat pemberitaan yang sudah diatur secara terus menerus. Virus dari ayam tidak bisa menular ke manusia karena adanya perbedaan suhu yang mencolok antara suhu manusia (36 C) dan unggas (42 C). Tidak mungkin virus yang biasa hidup pada suhu 42C bisa langsung hidup pada manusia yang mempunyai suhu 36C. Mustahil!!! selain itu reseptor virus H5N1 pada unggas adalah alfa 2,3 sialic acid, sedangkan resptor pada manusia
adalah alfa 2,6 sialic acid.”

Saya sangat setuju dengan pendapat beliau, sangat masuk diakal penjelasannya. Karena memang begitulah kondisinya apabila virus H5N1 bisa menular kepada manusia.

Saya berpendapat bahwa ini merupakan pembodohan masyarakat Indonesia yang sebagian besar adalah orang yang kurang pendidikan dan mudah dibodohi. Ketika ada pasien yang sakit demam tinggi lalu tidak tertolong dan meninggal makan dengan mudahnya diklaim bahwa pasien tersebut terserang virus flu burung.

Apakah anda tahu bahwa jumlah rata-rata korban meninggal karena penyakit demam berdarah di Indonesia berjumlah ratusan orang jika kita bandingkan dengan jumlah korban yang “diduga” terserang virus H5N1 yang berjumlah 22 orang (data tahun 2006), sungguh perbedaan yang kontras bukan?

Lalu mengapa kasus Flu Burung lebih menghantui pemerintah Indonesia dibanding penyakit Demam Berdarah?

Ada apa dibalik semua ini?

Mengapa pemerintah begitu panik dan terkesan tidak masuk akal dalam penanganan flu burung?

By: Budy Snake

Social Observer 

Ular Welang yang memiliki nama latin bungarus fasciatus merupakan ular yang sangat mematikan di daratan ini. Ular yang memiliki jenis racun neurotoksin ini akan menyerang pusat syaraf.

Jenis racun yang dimiliki oleh ular Welang sangat mematikan karena dilihat dari jumlah korban yang lebih banyak meninggal dan tidak dapat tertolong. Mengapa tidak tertolong? Jawabannya adalah karena korban yang meninggal biasanya tidak menyadari bahwa telah tergigit, begitu terasa sesak nafas dan jantung melemah baru mereka menyadari bahwa telah tergigit. Saat itu racun telah menyebar keseluruh tubuh dan korban sudah tidak berdaya. Satu hal lagi yang biasanya terjadi adalah korban berada jauh dari rumah sakit yang menyediakan serum. Akibatnya korban biasanya meninggal dunia.

Ular Welang aktif dimalam hari dan sangat sulit dikenali karena corak warnanya yang berbelang-belang hitam dan putih. Di siang hari ular ini memilih untuk diam di sarangnya yang biasanya di pinggir sungai dan pematangs awah yang kering. Jenis ular Welang tidak agresif seperti Kobra apalagi di dalam kandang dan siang hari. Apabila disentuh pun ular ini cenderung pemalu dengan menutupi bagian kepala dibalik badannya. Biarpun demikian bukan berarti anda bisa menyentuhnya, hal ini tidak saya sarankan apabila tidak dilakukan oleh seorang ahli. Apabila untuk darurat bisa menggunakan tongkat untuk mengusirnya.

Untuk artikel lain tentang ular bisa di klik pada bagian kategori “ular” dan tulisan lainnya akan menyusul.

Untuk informasi lebih lanjut tentang ular Welang, bisa hubungi saya melalui: mertanus@cbn.net.id

By: Budy Snake
Magician & Snake Charmer

Ular Kobra atau dalam bahasa Inggris disebut Cobra Snake memiliki nama latin naja sputatrix. Ular jenis ini merupakan ular yang memiliki racun jenis neurotoksin dan hemotoksin. Apabila menggigit mangsanya ular jenis ini menyuntikkan bisa / racun melalui taring racunnya ke dalam pembuluh darah mangsanya.

Akibat terkandungnya jenis racun hemotoksin maka apabila tergigit akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, akan terasa panas seperti terbakar. Oleh karenanya hal ini bisa dianggap membantu sebagai sinyalemen dan pertolongan dapat segera dilakukan. Berbeda dengan ular yang hanya memiliki jenis racun neurotoksin, korban tidak akan merasa sakit sama sekali, dan bahkan seringkali korban tidak merasa tergigit. Oleh karena itu biasanya korban gigitan ular Kobra masih bisa tertolong karena cepatnya penanganan.

Ular Kobra penyebarannya sangat luas, mulai semak-semak, ladang, hingga persawahan, dan bahkan sampai masuk ke dalam rumah. Biasanya jenis ular Kobra bersarang di dalam lubang tikus yang sudah tidak terpakai lagi atau setelah tikusnya dimangsa oleh mereka. Di dalam sarang tersebut induk Kobra bertelur dan menjaganya sampai menetas.

Makanan yang biasa dimangsa selain tikus adalah katak, ikan, burung, anak ayam, kadal, dan lain-lain. Ular Kobra akan menyemburkan bisanya untuk melumpuhkan jenis unggas lalu menggigitnya untuk menyuntikkan racun melalui gigi taringnya. Namun racun yang disemprotkan/disemburkan tidak sekuat dengan racun yang disuntikkan langsung ke pembuluh darah.

Ular Kobra akan mengembangkan leher dan menegakkan badannya apabila merasa terancam dan siap menyemprotkan bisanya. Sasaran semprotnya selalu menuju mata korbannya. Bisa atau racun yang terkena mata manusia akan menimbulkan kebutaan sementara dan bisa sembuh dengan sendirinya apabila dibasuh dengan air mengalir.

Ular Kobra juga banyak dimanfaatkan oleh ahli pengobatan dari Cina untuk digunakan sebagai obat. Untuk darah dan empedunya biasa digunakan sebagai ramuan obat berbagai macam penyakit dalam. Khusus untuk bagian dagingnya biasa digunakan untuk terapi pengobatan penyakit kulit yang sulit disembuhkan seperti eksim. Biasanya daging ular disajikan dalam bentuk abon ular yang rasanya sangat gurih dan enak.

Untuk informasi lebih lanjut tentang ular Kobra dan kegunaannya dalam pengobatan bisa hubungi saya melalui: mertanus@cbn.net.id

By: Budy Snake

Magician & Snake Charmer

Apa sih bedanya Python dan Boa selain coraknya?

Seringkali orang bertanya pada saya karena bentuknya sepintas sama saja. Maka kali ini saya akan coba jelaskan perbedaan secara umum. Python biasa disebut juga ular piton atau ular sanca oleh masyarakat Indonesia. Timbul nama tersebut karena memang jenis Phython terdapat pula di Indonesia. Berbeda dengan jenis Boa yang tidak ada di Indonesia, maka tidak dikenal nama lokalnya, orang tetap menyebut dengan sebutan ular Boa sesuai nama aslinya.

Perbedaan yang sangat mendasar adalah dari cara berkembang biaknya. Python adalah jenis ular yang termasuk ovipar. Ovipar yaitu jenis hewan yang setelah proses perkawinan menghasilkan telur dan dikeluarkan untuk disimpan disarang. Berbeda dengan ular Phyton, ular Boa termasuk dalam jenis ovovivipar. Ovovivipar adalah sebutan untuk hewan yang bertelur dan beranak, dalam arti setelah proses perkawinan maka telur yang dihasilkan tidak dikeluarkan melainkan tumbuh, berkembang, dan menetas didalam tubuh. Sehingga pada saat waktunya tiba akan keluar bayi-bayi ular seolah-olah ular tersebut melahirkan anak seperti halnya mamalia.

Perbedaan berikutnya adalah wilayah penyebarannya. Untuk jenis python penyebarannya sebagian besar di Benua Asia. Berbeda dengan ular Boa yang penyebarannya sebagian besar di Amerika Selatan.

Untuk artikel lain tentang ular bisa di klik pada bagian kategori “ular” dan tulisan lainnya akan menyusul.

Informasi lanjutan tentang ular bisa ditanyakan via email: mertanus@cbn.net.id

By: Budy Snake

Magician & Snake Charmer

Terarium adalah sebuah tempat seperti akuarium namun didalamnya tidak ada air. Hanya ada air sebagian kecil saja hanya untuk mengatur kelembapan udara dan untuk air minum binatang yang menghuninya.

Prinsip utama yang harus diketahui dari terarium adalah harus dibuat semirip mungkin dengan habitat aslinya. Tentunya tiap jenis ular memiliki habitat yang berbeda, untuk itu bentuk dan model terarium harus disesuaikan dengan jenis ular. Terarium untuk ular darat, tentunya berbeda dengan jenis ular air, dan berbeda pula untuk jenis ular pohon. Yang sama adalah perlengkapan yang ada di dalamnya, untuk hal ini hampir sama saja.

Selain jenis ular air, secara umum ular tidak menyukai kelembapan tinggi. Yang disukai adalah dingin namun tidak lembap. Dingin tidak berarti lembap, ini seringkali menjadi salah paham dikalangan pemelihara ular. Seringkali orang membuat terarium terlalu lembap karena dipikir ular akan betah, padahal yang terjadi sebaliknya. Maka yang harus diperhatikan adalah tingkat kelembapan udara di terarium. Jangan pula terlalu kering sehingga mengganggu proses pergantian kulit dari ular itu sendiri.

Dalam kesempatan ini saya ingin membahas tentang terarium untuk ular. Apa saja yang harus ada di dalam terarium tersebut? Baiklah kita lihat penjelasan saya di bawah ini, yang harus ada yaitu:

1. Tempat air minum
Dapat menggunakan asbak atau sejenis mangkuk yang ukurannya tidak terlalu kecil dan harus disesuaikan dengan ukuran ular karena selain untuk minum, pada saat-saat tertentu ular akan berendam juga untuk mengatur suhu tubuhnya. Apabila ukuran terarium besar maka disarankan untuk dibuatkan kolam kecil karena selain sebagai tempat minum dan berendam, kolam juga berfungsi untuk menjaga kelembapan udara di dalam kandang. Kondisi air juga harus selalu bersih dan harus terisi penuh.
2. Ranting Pohon
Diperlukan terutama untuk ular yang habitatnya di pohon, karena sesuai naluri ular akan selalu melilit di pohon / ranting.
3. Lampu
Lampu sebagai penerang dan juga sebagai sumber sinar UV, hal ini sangat diperlukan terutama untuk terarium yang di dalam rumah dan tidak terjangkau sinar matahari.
4. Tempat bersembunyi
Sesuai naluri ular menyukai tempat yang agak tertutup sehingga kita perlu buatkan semacam gua kecil sebagai tempat sembunyi.

Informasi lanjutan tentang ular bisa ditanyakan via email: mertanus@cbn.net.id

By: Budy Snake
Magican & Snake Charmer

Menjaga kesehatan ular peliharaan kita sangatlah penting. Dalam berbagai buku yang pernah saya baca pun hampir semuanya membahas bagaimana cara perawatannya. Jangan asal beli, namun tidak memikirkan bagaimana perawatannya.

Agar ular peliharaan kita senantiasa sehat ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dilakukan, diantaranya yaitu:
1. Memandikan ular.
Sebaiknya ular peliharaan dimandikan 2 minggu satu kali dengan menggunakan sabun bayi atau larutan antiseptik untuk membunuh kutu yang berada di sisik ular selain itu untuk menjaga kebersihan kulit dan sisiknya.
2. Menjemur ular.
Untuk menjaga kesehatan ular maka 3 hari satu kali di pagi hari antara 5-15 menit ular dijemur pada pagi hari.
3. Memberi suplemen tambahan (vitamin)
Untuk ini sangat perlu diberi Vitamin E atau bahkan Multivitamin 2 bulan sekali dan diberikan melalui makanan yang diberikan.
4. Memberi obat cacing.
Tidak kalah penting adalah pemberian obat cacing 6 bulan sekali dan diberikan melalui makanannya.

Untuk artikel lain tentang ular bisa di klik pada bagian kategori “ular” dan tulisan lainnya akan menyusul.

Informasi lanjutan tentang ular bisa ditanyakan via email: mertanus@cbn.net.id

By: Budy Snake

Magician & Snake Charmer

Saya memiliki empat ekor Anjing Gembala Jerman (AGJ) atau biasa disebut Herder, seekor Golden Retriever dan seekor lagi jenis Herkam alias herder kampung, hehe…

Hari ini saya menjadwalkan untuk memandikan anjing-anjing peliharaan saya. Satu per satu saya rapikan bulu-bulunya dengan cara digunting dan disisir. Setelah proses tersebut selesai lalu dilanjutkan dengan memandikan anjing tersebut dengan dibantu oleh seorang asisten saya.

Satu ekor anjing memakan waktu lebih kurang 45 menit, memang saya melakukan dengan cermat dan tidak mau terburu-buru. Tidak terasa waktu 3 jam berlalu dan empat ekor anjing telah bersih. Ketika tiba giliran saya memandikan anjing golden, tiba-tiba salah satu erder betina saya berbuat ulah. Herder tersebut terus menggonggong ingin bergabung bersama kami. Tetapi tetap saja saya ikat di sebuah tiang karena sudah pasti akan mengganggu kami. Tapi herder tersebut terus saja menggonggong bahkan ketika saya tegur sekalipun. Ketika saya hampiri dia diam saja, begitu saya berbalik arah dia mulai menggonggong lagi. Terus menerus seperti itu seolah mempermainkan saya.

Hingga tiba saatnya kesabaran saya mulai habis, saya hampiri dia lalu saya pukul dia. Saya tahu sebenarnya itu tidak boleh dilakukan karena dapat berdampak buruk untuk mentalnya. Tetapi saat itu saya lakukan bahkan berkali-kali. Apa yang terjadi?… Dia tetap tidak berubah. Akhirnya saya mengalah,saya pindahkan dia ke tempat lain agar dia tidak melihat aktivitas kami yang sedang memandikan si Golden. Setelah itu saya tinggalkan dan kembali memandikan si Golden di lain tempat yang tidak terlihat oleh si Herder. Dia pun tenang, tak bersuara lagi.

Dari hal tersebut, saya semakin mengerti bahwa sebenarnya terjadi adalah keinginan si Herder untuk bergabung bersama saya, rasa ingin bergabung begitu besar, ingin sekali lepas dari tali untuk bermain bersama saya. Saya pun berpikir bahwa inilah hidup, terkadang kita menghadapi tingkah laku orang yang menyebalkan seperti layaknya saya menghadapi anjing Herder saya tersebut. Saat-saat kesabaran kita diuji dan saat dimana kita harus mengalah untuk menang, saat dimana kita harus bisa untuk memahami perasaan orang lain. Hal penting ini saya dapat dari pengalaman saya memandikan anjing. Walaupun hal ini sudah saya alami berkali-kali tetapi kejadian tadi berkesan untuk saya.

Ada satu hal lagi, yaitu saya kembali si Herder begitu antusiasnya menyambut saya bahkan terus mengikuti saya ketika tali dilepas. Padahal baru setengah jam yang lalu saya pukul dia berkali-kali. Tiada dendam, tiada amarah, tiada pula kebencian kepada saya. Ah rupanya dia mengerti bahwa saya tetap pemiliknya, saya tetap menyayangiya, dia tetap mengerti bahwa saya adalah yang merawatnya sejak kecil walau tidak secara langsung.
Saya mendapat pelajaran berharga lagi dari seekor anjing. Herder tadi memberikan pelajaran bahwa kita harus tetap saling sayang, loyalitas, dan tetap bersatu. Anjing tadi walau dipukul berkali-kali ketika dia salah, tetap mendekat bila dipanggil dan tetap setia pada sang empunya.

Terkadang kita sebagai manusia harus mengakui bahwa apabila ditegur atasan, rekan kerja, sahabat atau orang tua kita menanggapi dengan rasa kesal, benci, bahkan kadang kala dendam. Seringkali respon negatif kita berikan kepada orang menegur kita, padahal sudah jelas kita yang salah. Saya tidak menyamakan manusia dengan anjing. Tapi faktanya seringkali kita tanpa sadar melakukan itu.

Mungkin inilah sepenggal kisah yang membuat kita bisa lebih memahami hukum cinta kasih, mau mengakui kesalahan kita dan bukan mencari kambing hitam apalagi sampai timbul dendam. Kita bisa belajar dari banyak hal di dunia ini walaupun kepada anjing yang memiliki sifat setia dan tidak pendendam.

By: Budy Snake
Social Observer

Hanya ada beberapa jenis saja ular yang berbisa. Oleh karenanya perlu rekan-rekan ketahui jenis-jenis yang tergolong berbisa tingkat tinggi. Hal ini perlu diketahui agar kita tidak mengalami rasa takut yang berlebihan apabila menjumpainya di alam liar. Ular yang ditemukan di alam janganlah dibunuh, tetapi hindarilah. Apabila ular sudah masuk ke dalam rumah pun sebaiknya diusir atau ditangkap untuk dipindah ke habitat aslinya yang jauh dari perumahan penduduk. Toh tidak semua ular berbahaya atau berbisa.

Kali ini yang akan bahas adalah mengenai ular berbisa. Ular-ular jenis ini mempunyai racun / venom yang sangat berbahaya. Di habitat aslinya racun tersebut digunakan untuk melumpuhkan mangsanya sebelum ditelan. Racun tersebut disuntikan melalui gigi taringnya langsung ke pembuluh darah mangsanya, taring tersebut memiliki bentuk mirip dengan jarum suntik namun sangat runcing / tajam. Sebagian besar jenis racun ular berbisa menyerang sistem saraf dan pernafasan sehingga biasanya korban akan segera lumpuh bahkan dapat menyebabkan kematian.

Adapun beberapa ciri-ciri ular yang bisa saya sebutkan dibawah ini, namun semua itu tidak mutlak, artinya itu semua hanya ciri secara umum saja biasanya yang ada pada ular berbisa, yaitu:
1. Bentuk kepala pipih dan berpola huruf ‘V’
2. Ukuran relatif kecil atau pendek, kecuali King Cobra yang bisa mencapai 5 meter
3. Warna biasanya cerah, namun hal ini pun tidak mutlak.

Contoh ular-ular berbisa di Indonesia, yaitu:
1. Kobra / Cobra ( Naya Sputatrix)
2. King Cobra ( Ophiapagus Hannah)
3. Welang ( Bungarus Fasciatus)
4. Weling ( Bungarus Candidus)
5. Hijau Pucuk ( Trimeresurus Albolabris)

Masih ada beberapa jenis lagi yang termasuk ular berbisa seperti ular taliwangsa (belang hitam-kuning), ular tanah (coklat tua dengan taring panjang, sangat mematikan), dan lain-lain.

Ular-ular seperti contoh di atas sangat tidak disarankan untuk dipelihara oleh para pemula karena racunnya sangat berbahaya dan biasanya sulit dijinakkan.

Info lebih lanjut bisa hubungi saya melalui email: mertanus@cbn.net.id

Untuk artikel saya tentang ular bisa di klik pada bagian kategori “ular” dan tulisan lainnya akan menyusul.

By: Budy Snake

Magician & Snake Charmer