Category Archives: Fotografi

DSC_20800001

By: Budy Snake

Pehobi Motret

tokina_11-16mm_for_nikon

TOKINA AF 11-16mm f/2.8 PRO DX

Siang tadi saya membeli lensa ultra wide Tokina 11-16 mm dengan bukaan maksimal f /2,8. Sudah lama saya ingin memiliki lensa ultra wide ini hanya saja memang baru kali ini saya benar-benar memutuskan untuk membelinya.

Lensa ini merupakam jenis lensa ultra wide yang juga lensa berkecepatan tinggi yaitu dengan f/2,8 yang memungkinkan mengambil gambar di kondisi cahaya yang lemah. Bukaan besar inilah yang menjadi daya tarik saya untuk membeli lensa ultra wide Tokina ini.

Untuk review menyusul…

By: Budy Snake

Pehobi Motret!

Kali ini saya akan memaparkan tentang Monopod Slik 350 yang baru saja saya beli. Saya membeli monopod beserta head ball-nya dengan tipe SBH 100. Monopod ini saya beli karena saya sangat membutuhkan terutama untuk memotret makro. Disamping itu pula dapat digunakan ketika sedang berburu foto saat bepergian. Fotonya seperti ini:

SLIK-MONOPOD350

Walau saya belum menggunkannya untuk memotret dan baru mencoba di kamar :) namun saya merasa puas dengan produk ini. Ada beberapa keunggulan yang saya bisa paparkan di sini adalah:

  1. Kokoh. Bahannya terbuat dari Magnesium, Alumunium, dan Titanium.
  2. Ringan. Karena bahan-bahan yang memang berkualitas selain kuat juga terasa ringan. Sangat cocok untuk penggunaan yang aktif atau sedang bepergian.
  3. Memiliki 4 bagian pipa dengan pengunci yang cepat dan praktis, sangat mudah pengoprasiannya.
  4. Memiliki handel yang dilapisi busa. Hal ini berguna agar cengkeraman tangan menjadi lebih mantap dan nyaman.

Tinggi maksimal: 160cm
Panjang: 51cm
Berat: 300 gr

Untuk menambah kenyamanan dan kemudahan dalam mengambil gambar maka saya membeli tambahan perangkat yaitu: head ball SBH 100.

41uuqZBqR-L._SL500_AA280_

Dengan tambahan head ball ini maka pergerakan kamera dapat diatur dengan mudahnya. bentuk yang kecil mungil ini memiliki kekuatan yang besar untuk menahan bobot kamera DSLR. Ya selain kuat harganya pun “kuat” alias mahal, hehe. Lebih mahal dari harga monopodnya itu sendiri, mantap kan? :)


By: Budy Snake

Pehobi Motret!

DSC_30100001

Kali ini si Semut Merah yang saya potret dengan lensa makro Nikon 105 mm.

Semut Merah sedang berjalan di dahan pohon Mangga sengaja saya potret secara makro. Tujuan saya adalah untuk kepuasan batin sebagai pehobi motret. Selain itu juga bagi yang membutuhkan struktur tubuh semut bisa melihat fot yang saya buat ini.

Salam makro!

By: Budy Snake

Pehobi Motret

Hari Jumat lalu saya membeli kamera saku digital merek BenQ dengan tipe DC 850. Kamera baru tersebut saya beli untuk menggantikan kamera saku digital yang sebelumnya yaitu tipe DC 740i. Untuk ulasan DC 740i dahulu saya pernah tuliskan di blog, anda bisa baca juga di sini.

Kamera saku digital ini memiliki ukuran maksimal 8 mp dan memiliki fitur “smile catch” yaitu fitur yang dapat mengabadikan objek model yang tersenyum, lucunya ketika saya tes hal itu memang benar! Kamera benar-benar tidak bisa menangkap objek yang tidak tersenyum, namun begitu si model tersenyum maka dia akan otomatis mengabadikannya.

Teknologi ini sudah ada sejak beberapa tahun lalu yang diawali oleh pabrikan Sony. Namun sekarang sudah diaplikasi oleh BenQ dan sangat menarik memang fitur ini. Walaupun dalam kenyataanya kamera saku ini hanya sebagai back up DSLR saya namun saya sangat puas selama menggunakan merek BenQ sejak tahun 2007 lalu. Apalagi dengan kamera saku yang baru ini lebih baik kualitasnya dari sisi ketajaman, tingginya ISO, dan juga fitur tambahan yang ditawarkan tadi.

Untuk baterai saya tetap konsisten untuk menggunakan merek Eneloop yang menurut saya masih menjadi yang terbaik sampai saat ini. Hasil tesnya pernah saya ulas di sini.

Bagi yang ingin membeli kamera saku digital yang bagus dengan harga yang tidak membuat kantong “sakit” bolehlah anda pertimbangkan kamera BenQ ini. Untuk tipe mungkin anda bisa pilih sendiri sesuai selera dan dana tentunya J Kalau saya pribadi sih dengan tipe DC 850 ini saja sudah cukup puas.

Salam Jepret!

By: Budy Snake

Pehobi Motret

DSC_22180001

Gambar di atas adalah foto makro (dengan perbesaran 1:1) semut hitam dengan ukuran panjang sebenarnya 7 mm yang sedang bermain-main sambil menghisap sari bunga Euphorbia milli di halaman Roemah Boenga Nursery.


Sore tadi sekitar pukul 15.00 mengambil kamera DSLR Nikon D80, tripod Velbon dan lensa makro Nikon 105 mm yang merupakan andalan saya dalam memotret makro. Ya, sore tadi memang saya sedang mood banget untuk motret, kali ini saya ingin berburu foto makro. Target saya adalah belalang atau serangga yang biasanya bermain di sekitar tanaman atau bunga-bunga.

Tidak begitu sulit untuk menemukan serangga atau binatang sejenis untuk difoto makro, hanya memang butuh kesabaran untuk menemukan komposisi dan saat yang tepat untuk melepas tombol rana. Maklumlah serangga kan tidak bisa diminta untuk diam dan berpose :) Tapi itulah seni memotret makro! Kalau hasilnya lumayan atau bahkan memuaskan maka kepuasannnya pun tidak ternilai.

Selain foto di atas ada beberapa foto lagi yang saya ambil, diantaranya lalat di atas daun, kumbang hitam, belalang, laba-laba kebun, dan bahkan kutu bunga Adenium yang berukuran 2 mm (kecil sekali) nah kalau yang kutu bunga Adenium itu selain kecil warnanya juga kuning, maka ketika difoto makro maka hasilnya seperti boneka Pokemon. :) Untuk hasil lainnya dapat dilihat di halaman Facebook saya.

Saya hanya menghabiskan waktu 1,5 jam untuk memotret dengan mengelilingi halaman yang penuh dengan bunga, waktu yang singkat memang, tetapi buat saya sudah cukup untuk sore tadi. Setelah itu saya menghabiskan waktu untuk melakukan proses editing di kamar tercinta.

Ada beberapa tips yang mungkin perlu diketahui untuk orang yang baru atau ingin mencoba foto makro, yaitu:

1. Usahakan menggunakan tripod agar tidak out of focus, mengingat ruang tajam pada lensa makro cenderung sangat sempit, geser 1 mm saja efeknya sudah nyata.

2. Gunakan lampu kilat, agar hasil yang didapat memuaskan, mengingat dalam foto makro kita cenderung menggunakan bukaan diagfrahma kecil agar ruang tajam bisa lebih luas.

3. Pemilihan waktu yang tepat untuk memotret serangga, yaitu pagi hari atau sore hari. Lebih disarankan pagi hari agar serangga belum terlalu aktif berterbangan dan kita mudah untuk memotretnya. dalam hal ini kita akan lebih bebas dalam eksplorasi komposisi.

4. Gunakan lensa khusus makro untuk hasil terbaik dan tajam sehingga kualitas foto benar-benar makro! :)

Yah itu saja tips dari saya semoga bisa menambah sedikit wawasan dari para pemula yag belum mengetahui dunia foto makro.Kalau saya sih memang dari dahulu suka banget sama dunia fotografi makro, hanya saja saya masih belum belajar secara serius dan masih jarang hunting :)

Salam jepret,

By: Budy Snake

Fotografer

sb600

Dua tahun sudah saya menggunakan D-SLR Kamera tanpa menggunakan external speedlight. Awalnya karena memang saya merasa tidak perlu, karena menurut saya speedlight standar bawaan sudah cukup. Awalnya memang hanya sebatas menggunakan speedlight standar saja sudah cukup, wong paling juga buat sekedar fill-in saja kok :)

Nah kira-kira beberapa waktu silam ketika saya membuat foto liputan Acara Bedah Buku “Wartawan He..He..He..” karya Sofyan Lubis di Bandung, saya merasakan begitu pentingnya speedlight untuk acara dalam ruangan yang hanya mengandalkan cahaya dari lampu neon. Untungnya saat itu saya mendapat pinjaman SB-800 dari rekan saya Frans (pemilik dari FFF Photography)

Sejak acara tersebut saya berpikir untuk mempertimbangkan pembelian speedlight. Rencana awal sempat terpikir untuk membeli SB-800 namun ternyata barang sudah kosong dan dugaan saya tipe tersebut sudah diganti dengan tipe SB-900 yang harganya menurut saya tergolong tinggi. Oleh karena pertimbangan beberapa hal maka saya akhirnya memilih SB-600 sebagai speedlight pertama saya :)

Ketika barang diterima saya langsung antusias untuk mencobanya. Hasilnya tidak jauh berbeda dengan SB-800 yang pernah saya pinjam. Saya pun mencoba beberapa pengambilan gambar di dalam ruangan kamar saya. Yah karena kesibukan saya belakangan ini jadi saya sendiri belum coba lebih jauh lagi. Tetapi kesimpulan saya sementara ini adalah puas dengan SB-600.

Acara terdekat yang bakalan menggunakan SB-600 adalah acara pernikahan saudara sepupu saya di Kaliurang, Yogyakarta. Acaranya kan di dalam ruangan, nah kesempatan untuk menjajal kebolehan SB-600 ini.

Nah moment itu juga akan saya manfaatkan untuk hunting foto di Kota Gudeg ini. Kalau ada waktu saya ingin juga ke Magelang juga untuk mampir ke Candi Borobudur.

By: Budy Snake

Pehobi Motret

Malam kemarin saya membuka kemasan baterai Energizer Rechargeable yang saya beli beberapa bulan lalu. Segera saya lakukan pengisian selama 8 jam. Tadi pagi saya lakukan pengetesan di kamera saku BENQ C740i. Tes yang saya lakukan dengan melakukan video shooting secara terus menerus.

Hasilnya:

Baterai Eneloop dengan kapasitas 2000 mAh dapat bertahan selama 2,5  jam atau 150 menit. eneloop4

sedangkan

Baterai Energizer Rechargeable dengan kapasitas yang lebih besar (2500 mAh) hanya dapat bertahan selama 3/4 jam atau 45 menit.

energizer

Kesimpulannya:

Eneloop memang berkualitas tinggi alias yahud banget untuk kamera saku atau perangkat elektronik lain. Saya sudah menggunakan Baterai Eneloop sejak memiliki kamera saku digital BENQ C740i tahun 2007 lalu dan sampai sekarang hasilnya memuaskan.

Bagi yang memerlukan baterai rechargeable saya merekomendasikan Beterai Eneloop ini yang memiliki daya tahan tinggi. Sekedar informasi Eneloop merupakan produksi Sanyo – Jepang.

By: Budy Snake

Pehobi Motret

img_02310001

Monumen Nasional yang disebut Monas ini saya potret sore hari menjelang Magrib dari stasiun Gambir. Saya menggunakan kamera saku BENQ DC 740i yang selalu saya bawa hampir setiap saya pergi.

“Saat Saya di Jakarta” merupakan judul  yang saya pilih. Mengapa? Karena seringkali orang memotret objek-objek yang berada di luar Jakarta atau bahkan luar negri dan memamerkan fotonya dengan mengatakan: “Ini loh waktu saya di Paris/Bali/Bandung/Jerman dll” tetapi objek yang disekitar kita malah jarang diperhatikan apalagi minat untuk memotretnya.

Padahal objek di sekitar kita banyak yang menarik namun luput dari perhatian kita. Sebagai contoh Monas, ya ini adalah lambang dari Kota Jakarta dan bisa dikatakan ikon dari Jakarta.

Cobalah untuk lebih jeli lagi mencari objek menarik di sekitar kita. Atau ada rekan-rekan yang punya ide untuk objek pemotretan?

By: Budy Snake

Sejak tulisan pertama tentang kamera saku yang saya beri judul “Kamera Saku Digital C740i Sebagai Back-Up SLR” saya rilis sampai sekarang saya belum membuat review nya, padahal sesuai dengan janji saya pada alinea terakhir adalah akan segera di tulis hasil uji cobanya. Kamera tersebut saya beli pada bulan Oktober 2007, tepatnya tanggal 27 malam.

Saya teringat untuk membuat tulisan ini saya buat karena terinspirasi teman saya yang kemarin sore baru saja membeli kamera saku merek Nikon dengan tipe L14. Setelah kamera dibuka dan dicek segala kelengkapannya kami berdua mulai mencoba-coba dan membandingkan hasilnya. Sesuai dengan judul di atas, kamera saku saya adalah BenQ C740i.

Kurang lebih 2 jam teman saya mencoba-coba berbagai feature pada Nikon L14 miliknya. Sesekali kami pun membandingkan diantara keduanya karena memang bisa dibilang kamera tersebut berada satu kelas, yaitu: sama-sama memiliki resolution 7M pixel.

Saya tidak akan membandingkan kedua jenis kamera tersebut di sini karena kali ini saya hanya akan menulis tentang kamera saku BenQ DC740i yang saya miliki sesuai dengan judul di atas dan sesuai dengan janji saya pada artikel sebelumnya. Dan saya pun tidak akan menuliskan tentang spesifikasi dari kamera saku ini. Spesifikasi BenQ DC740i anda dapat lihat di sini.

Saya beli kamera ini karena saya merasa perlu kamera untuk back-up kamera SLR saya. Untuk itu saya memiliki kriteria tersendiri yaitu kamera yang akan saya pilih harus simpel, multiguna, dan canggih. BenQ DC740i menurut saya sudah dapat memenuhi ketiga kriteria utama tersebut.
Simpel, karena memang modelnya sangat sederhana, ukuran kecil, dan mudah dibawa-bawa ketika saya tidak memungkinkan bawa SLR. Paling tidak saya selalu siap untuk mengabadikan segala momen yang sekiranya menarik.
Multiguna, karena di dalam kamera BenQ DC 740i yang saya miliki ini memiliki 15 menu pilihan, yaitu: Auto, Movie, Shake-Free, Landscape, Backlight, Night Scene, Snow, Fireworks, Building, Hi ISO Portrait, Food, Text, Kids, Sunset, Voice Recorder. Diantara 15 belas menu tadi yang menurut saya sangat penting hanyalah 3, dan akan saya jelaskan di bawah ini:

  • Auto (P-A-S-M) Program – Aperture Priority – Speed Priority – Manual. Untuk menu ini adalah yang paling menarik untuk saya. Karena bisa dikatakan hanya BenQ yang menawarkan feature ini pada kamera saku di kelas 7Mp dan dengan harga yang relatif murah.
  • Movie. Menu ini memungkinkan saya untuk merekam gambar (30 frame per second) bergerak beserta suara. BenQ memberikan 4 pilihan kualitas gambar, saya tinggal pilih sesuai kebutuhan saya. Tentunya hal ini sangat berpengaruh pada konsumsi memori SD yang saya miliki.
  • Voice Recorder. Melalui menu ini memungkinkan untuk saya merekam segala macam percakapan yang memang perlu direkam untuk dokumentasi. Terkadang saya pun menggunakannya sebagai media rekam ketika saya sedang berlatih berbicara di depan umum. Dengan begitu saya bisa mendengar ulang apa yang telah saya katakan dan saya bisa mengoreksi apabila saya ada penggunaan kata, intonasi, dan artikulasi yang kurang tepat.

Tentunya masih banyak kegunaan dari ketiga menu di atas, dan itu tergantung kepada setiap orang. Buat saya pribadi ketiga hal tersebut sudah baik dan cukup untuk penggunaan saya selama ini. Untuk kualitas gambar pun sudah baik, hal ini didukung oleh lensa produksi Pentax dengan focal length 6,2mm – 18,8mm (pada film 35mm, ekuivalen dengan 37,5mm – 112,5 mm) sudah cukup OK kan? Walaupun ada zoom digital, tetapi saya tidak pernah menggunakannya.

Baterai tidak menggunakan rechargeable battery, namun menggunakan jenis AA, yang menurut saya sangat tepat sekali apabila dibuat sebagai back-up kamera. Sehingga pada saat darurat, saya bisa dengan mudah mendapatkannya. Kecuali warungnya kehabisan stok baterai yah :) Untuk itu saya sangat menyarankan untuk tetap membawa baterai cadangan kemanapun pergi, bila perlu membawa baterai cadangan lebih. Karena harga baterai cadangan tidak sebanding dengan hilangnya momen yang terlewat, bukankah demikian?

Untuk menu Anti Shake itu bukanlah teknologi tinggi seperti VR (image stabilization) yang biasa terdapat pada kamera atau lensa berteknologi tinggi. Anti Shake yang dijanjikan sebenarnya hanya main-main saja kalau menurut saya. Namun apakah hasilnya benar-benar tidak blur? Jawabnya betul, karena sebenarnya yang terjadi adalah saat dipilih menu Anti Shake, secara otomatis ISO di set pada angka tertinggi (1000). Jelas saja akan mengurangi blur (bahkan freeze) karena apabila ISO di set pada angka tinggi maka otomatis kecepatan rana pun akan meningkat pada kondisi cahaya yang normal tentunya.

Untuk konsumsi baterai, sampai saat ini saya tidak pernah mengukur secara benar, tetapi menurut saya selama ini termasuk hemat dan wajar walau pemakaian saya terkadang menggunakan lampu kilat. Selama ini saya menggunakan baterai AA type 2000 mAh merek Eneloop (baterai kualitas terbaik produksi SANYO Electric Co., Ltd di Jepang). Saya sangat puas dengan kemampuan baterai ini, tetapi di suhu normal loh ya :) Kalau di suhu dingin saya belum pernah coba soalnya, hehe. Tapi yang jelas, baterai apapun itu kalu di suhu yang sangat dingin sudah pasti akan turun drastis kemampuannya walaupun anda sudah charge penuh.

Sejauh ini saya merekomendasikan kamera saku BenQ DC 740i kepada yang berminat membeli kamera saku yang bagus dengan dana yang tidak banyak.
Sampai di sini dahulu review saya kali ini, nanti kalau ada tambahan saya akan update tentunya.

By: Budy Snake