Category Archives: Transportasi

GAJAH OLING

Apakah anda pernah membaca tulisan tersebut? Atau bahkan sering melihat dan membacanya? Atau merasa sering membaca tetapi lupa dimana anda pernah melihatnya?

Ya, “Gajah Oling” memang sering terlihat pada truk pengirim barang, baik bak terbuka maupun tertutup. Konon kabarnya dua kata tersebut merupakan kode keamanan. Hal ini saya dapat dari informasi salah satu rekan saya. Namun dia tidak menjelaskan lebih lanjut siapa dibelakang semua itu.

Hal ini sangat menggelitik otak saya, siapa di belakang organisasi tersebut? Apakah preman terorganisir atau malah ada “beking” dari oknum tertentu? Kabarnya organisasi ini memungut biaya bulanan dan sebagai bukti akan diberi tulisan “Gajah Oling”. Dengan adanya kode tersebut perjalanan dipastikan aman dari perampokan, bajing loncat dan sebagainya. Sampai sejauh mana kebenaran cerita di atas saya pun tidak tahu pasti, tepatnya saya masih mencari tahu. Melalui blog ini saya pun mencoba mencari tahu dari rekan-rekan yang mungkin lebih paham tentang hal ini.

By: Budy Snake
Social Observer

Malam tadi saya bersama rekan pergi ke Pasar Kramat Jati – Jakarta Timur. Saya membeli sekilo kepiting dan rekan saya membeli beberapa kilo ikan laut. Suasana pasar terlihat normal dan tidak terlalu padat seperti biasanya ketika saya berbelanja.

Dalam perjalanan pulang saya dikagetkan oleh kejadian kecelakaan tunggal sebuah mobil yang menabrak jalur busway di kawasan Slipi. Lokasi dekat dengan Gedung Bisnis Indonesia, tepatnya di seberang Apotik Kimia Farma. Kejadian itu sekitar Pk. 00.30 dini hari.

Posisi mobil melintang di atas jalur busway, padahal jalur busway kan lebih tinggi sekitar 25 cm dari jalur biasa. Kok bisa begitu? Itu yang saya pikir awal kali melihat kejadian tersebut. Rupanya pengemudi mobil menabrak jalur busway sehingga mobil naik ke jalur busway dan menabrak tembok pembatas tol. Dalam peristiwa tersebut tidak ada korban jiwa. Namun mobil rusak cukup parah di bagian bawahnya dan ban sebelah kiri belakang pecah. Sayangnya saya tidak membawa kamera untuk mengabadikan posisi aneh tersebut.

Menurut salah satu karyawan Apotik Kimia Farma yang biasa dinas malam, kejadian kecelakaan hampir tiap malam terjadi. Kecelakaan juga terjadi pada sepeda motor, terkadang sampai ada korban meninggal, bahkan dituturkan juga ketika malam takbir ada 6 orang tewas. Hal itu dibenarkan oleh beberapa orang yang berada di sekitar lokasi, bahwa jalur busway yang baru tersebut telah banyak memakan korban.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah betul pembangunan jalur busway membahayakan? Atau para pengguna jalan yang kurang berhati-hati?

By: Budy Snake
Social Observer

Hari ini kota Jakarta mengadakan Pilkada, dan oleh pemerintah hari ini dijadikan hari libur dengan harapan agar semua orang dapat dengan leluasa mengatur waktu untuk melakukan pemilihan di TPS di wilayah masing-masing.

Siang tadi saya keluar rumah dengan mobil padahal sangat jarang saya menggunakan mobil di siang hari. Semua itu saya lakukan karena saya sangat yakin bahwa hari ini situasi lalu lintas akan lengang. Ternyata dugaan saya benar, jalan Tomang Raya yang biasanya padat hari ini relatif sepi sampai rumah rekan saya di daerah jalan Gajah Mada pun sangat lancar.

Tidak beberapa lama saya melanjutkan perjalanan ke RS. Mitra Internasional di Jatinegara. Perjalanan melalui jalan Salemba, jalan Matraman, dan sampai lokasi pun sangat lengang. Saya sangat menikmati kondisi lalu lintas yang seperti ini walau tidak ada yang menemani saya di perjalanan kecuali musik jazz yang selalu saya dengarkan. Kali ini tujuan saya untuk membesuk salah satu saudara saya yang melahirkan anak laki-laki pertamanya. Setelah berbincang selama l.k 1 jam saya pun berpamitan pulang.

Tujuan saya berikutnya adalah Lapangan Banteng yang saat ini sedang diadakan acara Flora dan Fauna Expo 2008. Acara tersebut merupakan acara tahunan yang selalu diadakan di Lapangan Banteng. Ketika saya sampai lokasi saya mengalami kesulitan mencari tempat parkir, rupanya banyak warga Jakarta memanfaatkan liburan Pilkada ini untuk mengunjungi Pameran Flora dan Fauna 2008 ini. Sejak tahun 2005 saya selalu datang ke pameran ini dan selalu ramai dan mendapat sambutan positif dari warga Jakarta.

Saya pun berkeliling lebih kurang 1,5 jam seorang diri melihat-lihat aneka jenis tanaman dan beberapa stan yang menjual binatang seperti kelinci, ular, kura-kura, kadal, ikan arwana, dan lain-lain.

Sampai akhirnya hari menjelang malam dan saya memutuskan untuk kembali ke rumah. Perjalanan pulang saya tempuh dengan sangat nyaman karena lancar sekali. Jakarta hari ini benar-benar menyenangkan ….
Apakah anda mengalaminya juga? Atau anda malah pergi keluar kota?

By: Budy Snake
Social Observer

Ada satu modus yang sedang populer saat ini, sebenarnya tidak bisa dikatakan baru karena sudah ada sejak lama. Modus yang saya akan ceritakan adalah modus dari penebar ranjau paku jalanan di Jakarta.

Yang saat ini populer adalah selain mereka menebar paku yang menjadi ranjau khususnya bagi pengguna sepeda motor, mereka memiliki kerjasama dengan para tukang tambal ban yang berada disekitar lokasi kejadian. Yang kurang ajar lagi adalah mereka tidak segan-segan dengan sengaja melukai ban dalamnya ketika berusaha mengeluarkan ban dalam tersebut. Alhasil mereka akan menyarankan kita untuk mengganti ban dalam yang mereka jual dengan harga yang tinggi. Keuntungan buat meraka dengan berbuat demikian adalah proses lebih mudah karena hanya mengganti ban dalam saja, tidak perlu repot-repot menambal ban dan keuntungan yang didapat lebih besar dibanding menjual jasa menambal ban.

Saya sendiri pernah mengalaminya dua hari lalu dan saya melihat ada yang tidak beres sejak awal. Ada beberapa motor yang datang hampir bersamaan dengan saya dan semuanya mengalami robek ban dalam, sungguh aneh dan tidak masuk akal.

Itulah realita yang terjadi di Jakarta ini, saya tidak tahu bagaimana dengan di kota lain. Yang jelas, saya melihat ini ada suatu pergeseran nilai moral yang terjadi ketika manusia memiliki beban hidup yang merasa berat untuk dihadapi. Sehingga pelaku cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dengan cara yang relatif mudah.

Apakah anda pernah mengalaminya juga? Pesan saya tetaplah waspada apabila berkendara dengan sepeda motor di malam hari, karena mereka beroperasi biasanya di malam hari. Namun tidak menutup kemungkinan siang hari pun bisa terjadi.

By: Budy Snake
Social Observer

Baru dua hari yang lalu saya menulis tentang Honda Jazz yang terjatuh dari lantai 7 Gedung ITC Permata Hijau. Kali ini saya saya menyaksikan sendiri terbakarnya mobil dengan merek yang sama yaitu Honda. Namun kali ini yang mengalami musibah adalah Honda CRV warna silver yang terbakar setelah menabrak trotoar dan menabrak separator busway di Jl. S. Parman, Jakarta Barat.

Saya tiba di lokasi sesaat setelah mobil terbakar pukul 03.00 ib. Mobil tersebut berisi dua orang penumpang yang selamat. Api dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran Jakarta Barat pukul 03.40 wib.

Kronologis pastinya tidak saya dapatkan lengkap, secara sekilas saya dapat informasi bahwa pengemudinya berusaha menghindari taksi. Menurut saya sih pengemudinya setengah membela diri saat diinterogasi oleh petugas kepolisian dan petugas pemadam kebakaran. Mungkin saja benar menghindari taksi, tetapi menurut saya dapat dipastikan mobil tersebut melaju kencang. Sehingga saat tragedi itu terjadi mobil oleng tidak terkendali sehingga menabrak trotoar dan melewati separator busway. Akibatnya tangki bensin bocor dan percikan api menyambar.

Oleh karena itu hati-hatilah ketika kita mengemudi walaupun sudah larut malam yang relatif sepi.

By: Budy Snake

Kemarin malam saya berkeliling bersama rekan saya melalui daerah Kota lalu menuju Jl. Hasyim Ashari untuk mencari makanan. Tanpa sengaja saya menerobos lampu lalu lintas yang saat itu sudah berwarna kuning. Saya mengerti bahwa saya telah melanggar namun kali itu saya lolos dari tilang karena memang tidak ada petugas kepolisian saat itu.:)

Saat itu saya terlintas pikiran saya untuk menulis tentang hal ini karena seringkali menimbulkan kerancuan. Saya beberapa kali mendengar keluhan dari pengguna jalan yang ditindak oleh petugas kepolisian lalu lintas karena dianggap melanggar lampu pengatur lalu lintas. Pihak pengguna jalan merasa benar karena lampu pengatur masih menunjuk warna kuning, namun di pihak polisi tetap pada pendiriannya dan tidak mau mengerti.

Sebenarnya permasalahannya dimana? Menurut saya undang-undang peraturan lalu lintas memang terkadang kurang dipahami oleh pengendara. Oleh karena itu perlu saya tegaskan bahwa lampu warna kuning itu artinya berhati-hati dan bersiap untuk berhenti. Apabila sebelum garis batas lampu sudah berwarna kuning dan pengendara tetap memacu kendaraannnya dapat dipastikan bahwa hal itu melanggar.

Memang saya mengerti bahwa terkadang oknum polisi seringkali mengambil celah hukum dalam permasalahan seperti ini. Menurut saya lebih baik kita mengambil langkah-langkah preventif dalam menghadapi persoalan ini. Langkah preventif dengan cara menjalankan aturan seperti yang telah saya paparkan diatas. Sebab apabila kita sudah terlanjur ditindak oleh polisi, kecil kemungkinan kita lolos dari sanksi hukum. Kalau sudah begitu hanya ada dua pilihan, yaitu: ditilang atau meminta kebijaksanaan petugas polisi untuk berdamai. Seperti diketahui bersama bahwa kemungkinan kedua sangat jarang terjadi. :)

Idealnya memang setiap lampu pengatur lalu lintas diberi papan petunjuk digital yang menampilkan hitungan mundur dalam satuan detik. Dengan diadakan fasilitas seperti itu diharapkan para pengendara dapat memperhitungkan dan mengambil keputusan dengan tepat dan aman. Papan petunjuk hitungan mundur digital tersebut dapat diatur untuk waktunya, berapa lama untuk merah, dan berapa lama untuk hijau. Papan petunjuk tersebut sangat mempermudah pengendara terutama di kota besar yang sangat padat seperti Jakarta ini.

Papan petunjuk hitungan mundur digital tersebut sudah banyak digunakan di kota besar seperti Kuala Lumpur, Singapura, Bangkok, dll. Sayangnya penggunaan di Jakarta masih sangat terbatas sekali. Entah apa penyebabnya, mungkin dari sisi pendanaan atau dari sisi birokrasi yang berbelit untuk pengadaannya.

By: Budy Snake

Social Observer

 Malam itu, waktu di jam tangan saya tepat menunjuk pukul 10.00 malam. Diiringi hujan gerimis dan sejuknya udara kota Bandung. Bersama rekan saya, singgah di sebuah warung kecil, kami memesan makanan yang merupakan favorit kami. Kami menunggu lama hanya untuk satu porsi makanan, sambil menunggu saya berusaha kontak dengan rekan di Jakarta untuk memantau kondisi kota Jakarta yang statusnya siaga 1 dalam bencana banjir. Namun nada sibuk selalu terdengar walaupun sudah dicoba berkali-kali. Akhirnya saya coba hubungi lewat jalur komunikasi lain dan berhasil kontak dengan rekan saya. Menurut informasi dari rekan saya, situasi saat itu terpantau cerah namun kondisi jalan masih tergenang. Menurutnya selama tidak hujan, maka permukaan air tidak akan naik. Namun informasi yang diterima oleh rekan saya adalah pemadaman listrik kemungkinan besar akan dilakukan oleh pihak PLN.
Bingung!
Itu yang kami rasakan, belum lagi lapar yang semakin menjadi. Hati kecil saya tetap ingin ke Jakarta walaupun kondisinya kurang kondusif. Pertimbangan saya apabila air di jalan mulai naik maka akan saya pindahkan mobil saya ke tempat yang lebih tinggi, aman. Tetapi bagaimana dengan listrik yang kemungkinan akan dipadamkan apabila air terus naik dan membanjiri gardu listrik? Tidak ada aliran listrik berarti tidak ada air karena kebutuhan air kami sementara ini hanya bergantung kepada pompa air listrik. PDAM pun sudah menghentikan aliran airnya sejak 3 hari sebelum banjir menyerang Jakarta.
Benar saja dugaan saya, kurang lebih pukul 10:30 rekan saya memberi informasi bahwa hujan mulai mengguyur lagi walaupun tidak lebat. Belum sampai 10 menit rekan saya mengirimkan SMS yang isinya menyatakan bahwa listrik baru saja dipadamkan. Berarti kondisi akan gelap gulita dan tidak ada air!

Dalam situasi sambil menunggu makanan kami saling terdiam. Saya berdoa, bertanya pada Yesus apa yang harus saya lakukan? Apakah benar kata suara hati saya yang mengatakan akan aman apabila tetap pulang ke Jakarta?

Setelah menunggu selama 45 menit sambil terus berpikir akhirnya makanan yang kami pesan pun dihidangkan, kami pun makan dengan santai dan tetap berdiskusi tentang apa dan bagaimana menghadapi persoalan ini.

Selesai makan kami pun bergegas pergi untuk mencoba mencari ransum yang akan kami bawa apabila kami tetap ke Jakarta. Namun, karena sudah malam, toko yang kami tuju sudah tutup. Saya pun bingung, sembari terus menjalankan mobil saya secara perlahan mengelilingi salah satu sudut kota Bandung Barat.
Sampai dengan pukul 12:00 tengah malam blm ada keputusan pasti, akhirnya saya pun memacu mobil saya menuju tol, sesaat sebelum persimpangan antara Cileunyi dan Padalarang. Saya bertanya salah satu rekan saya, “Jadi, kemana kita akan pergi?” lalu secara spontan rekan saya menjawab, “Terserah, kemana pun kamu pergi saya ikut.” Detik itu pula saya putuskan untuk mengikuti kata hati yang sejak tiga jam lalu berkata untuk pergi ke Jakarta dengan segala risikonya.

Perjalanan menuju ke Jakarta melalui Tol Cipularang sangat lancar dengan waktu tempuh 1 jam 25 menit walaupun hujan lebat sempat menyertai perjalanan kami. Kami masuk Kota Jakarta tepat pukul 1.30 kondisi jalan masih basah namun tidak ada hujan. Mobil saya tetap melaju perlahan sambil terus melihat situasi setiap sudut yang saya lewati. Saya mulai mendekat ke area tempat tinggal saya, jalan utama yang menghubungi ke rumah saya masih ditutup oleh polisi, pertanda ada genangan air yang dalam dan tidak bisa dilalui kendaraan. Saya pilih jalan lain dengan melawan arus, terus melaju perlahan, makin dekat dengan komplek tempat tinggal saya. Ternyata di dekat komplek pun ada genangan air sedalam 25cm yang terpaksa harus dilalui. Perlahan saya lewati genangan sejauh 100meter tersebut, aman. Tepat pukul 1.45 saya sampai di depan rumah dan segera mermarkirkan mobil saya.

Kondisi gelap gulita sehingga agak menyulitkan pemindahan barang dari mobil menuju kamar. Saat itu pun kami bertemu dengan seorang rekan yang bertugas di PT. Telkom, dari beliau saya mendapat informasi bahwa kantor telkom yang berada di Jl. Gatot Subroto terendam banjir sehingga sentralnya mengalami kerusakan. Ah, pantas saja saya mengalami kesulitan ketika menghubungi rekan dari Bandung malam tadi.

Malam itu saya lalui hanya dengan temaramnya api lilin kecil, saya berusaha merasakan penderitaan para masyarakat Jakarta yang mengalami musibah banjir sehingga kehilangan segalanya, hidup di pengungsian yang susah makan, sulit air bersih, serta sanitasi yang buruk.
Saya bersyukur sekali karena saya tidak mengalami hal itu, saya masih bisa bersantai walaupun di kegelapan tanpa lampu, tanpa music, tanpa komputer, apalagi koneksi internet yang belakangan menemani saya.

Inti sari dari kisah saya ini adalah kita sebagai manusia harus berani mengambil keputusan dengan segala risikonya, tentunya dengan pertimbangan suara hati dan pikiran yang logis. Yang lebih penting adalah tetap bersyukur atas segala hal dalam kondisi apapun.

By: Budy Snake

Social Observer

Posted on Blogspot Sunday, February 18, 2007

Awal bulan Desember 2006 ada peraturan baru yang dikeluarkan oleh Ditlantas Polda Metro Jaya khusus untuk sepeda motor. Peraturan tersebut adalah mewajibkan pengendara sepeda motor untuk menghidupkan lampu di siang hari. Aturan tersebut diberlakukan karena menurut pihak kepolisian tingkat kecelakaan sepeda motor dengan mobil di Jakarta tergolong tinggi. Diharapkan dengan adanya lampu motor yang dinyalakan, maka keberadaan motor akan lebih mudah terdeteksi oleh pengemudi mobil atau bus di depannya. Pro maupun kontra pun bermunculan di berbagai media sampe pembicaraan di warung kopi. Namun, aturan tersebut tetap diberlakukan kepada para pengendara sepeda motor.

Belum juga habis masa hebohnya, sebuah peraturan baru kembali dikeluarkan oleh Ditlantas Polda Metro Jaya yaitu mulai bulan Januari 2007 disosialisasikan peraturan yang mewajibkan sepeda motor menggunakan jalur kiri. Aturan ini diberlakukan dengan dasar untuk mengurangi tingkat kemacetan di Jakarta. Aturan yang baru ini pun kembali menuai protes dari para pengendara sepeda motor. Namun lagi-lagi para pemilik sepeda motor harus tetap mengalah dan mengikuti aturan tersebut. Sampai akhirnya mulai bulan Februari 2007 diberlakukan dengan tegas, artinya yang melanggar langsung terkena tilang. Berbeda dengan masa sosialisasi yang hanya ditegur dan dihimbau saja.

Kedua peraturan baru yang telah saya jelaskan sekilas diatas membuat saya bertanya-tanya. Apakah betul selama ini tingkat kecelakaan sepeda motor karena pengendaranya tidak terlihat oleh pengemudi di depan?

Bukankah kecelakaan seringnya disebabkan oleh ulah pengemudi sepeda motor tersebut yang kurang berhati-hati? Bukankah sering terjadi kecelakaan sepeda motor karena kondisi dan sarana jalan yang tidak memadai?

Apakah betul selama ini Jakarta macet karena sepeda motor yang tidak selalu menggunakan jalur kiri? Apakah dengan diberlakukannya aturan tersebut dapat mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas Jakarta? Buktinya tidak, karena jalur sepeda motor terganggu dengan bus umum yang berhenti di sembarang tempat sehingga efeknya malah cenderung lebih macet. Silakan dibuktikan.

Bukankah kemacetan Jakarta karena tidak tertibnya kendaraan umum dalam mengambil penumpang atau menurunkan penumpang? Bukankah kemacetan Jakarta karena kurangnya jalan baru atau jalan layang di Jakarta? Bukankah kemacetan Jakarta disebabkan oleh proyek-proyek pemda DKI yang tidak kunjung beres dan terkesan sengaja diperlambat? Sebagai contoh, lihatlah proyek jembatan di depan ITC Roxy Mas yang menyebabkan macet sepanjang hari. Belum lagi dengan adanya proyek pembangunan busway di jalan-jalan protokol Jakarta yang pengerjaan sangat lambat, hal itu sangat mengganggu kelancaran kendaraan. Ditambah lagi ada beberapa daerah yang terdapat proyek monorel yang terkesan berhenti beroperasi.

Terkesan sekali bahwa pihak kepolisian kewalahan dalam mengatur lalu lintas, sehingga dalam hal ini yang dikambinghitamkan adalah banyaknya jumlah sepeda motor. Mungkin saja benar sepeda motor salah satu penyebab kemacetan, tapi tentunya bukan penyebab utama sehingga diberlakukan aturan yang aneh-aneh semacam itu.

Saya mengerti maksud dan dasar pemikiran yang diambil oleh pihak kepolisian dalam hal ini Ditlantas Polda Metro Jaya. Namun dalam hal ini secara pribadi saya tidak setuju dengan aturan baru tersebut karena tidak akan menyelesaikan masalah. Bahkan cenderung memberi kesempatan untuk oknum polisi mencari uang tambahan saja dengan menindak kepada para pengendara sepeda motor yang menggunakan jalur tengah. Mengapa? Karena para pengendara biasanya akan menempuh jalur damai dengan imbalan sejumlah uang yang diberikan kepada oknum polisi tersebut.

Simpulan dari kondisi tersebut diatas adalah:

*Tidak tertibnya pengguna jalan.

*Sangat tingginya populasi kendaraan pribadi terutama sepeda motor yang fantastis jumlahnya.

*Proyek-proyek dari pemda DKI yang sangat lambat dan mengganggu lalu lintas.

Selain berkomentar dan memberikan simpulan yang sudah dipaparkan diatas, saya pun ada beberapa solusi atau saran untuk mengatasi hal tersebut, yaitu:

1. Pajak pembelian kendaraan bermotor khususnya sepeda motor ditingkatkan termasuk Pajak Kendaraan Bermotor yang dipungut tiap tahun pun ditingkatkan sampai 200% atau lebih. Dengan diberlakukannya aturan ini diharapkan dapat mengimbangi mudahnya kredit kendaraan khususnya sepeda motor yang sangat mudah. Tujuan akhirnya agar para pembeli sepeda motor agar tidak terlalu konsumtif dalam membeli sepeda motor, sehingga jumlah sepeda motor di Jakarta terkendali.

2. Adanya koordinasi yang baik antara kepolisian dan pihak DLLAJ untuk menertibkan para pengemudi di jalan raya yang tidak mengikuti aturan dengan tindakan tegas / tilang. Dalam hal ini harus betul-betul tegas, misalnya: berikan surat larangan untuk beroperasi kepada kendaraan umum yang menghentikan kendaraan bukan di halte.

3. Koordinasi yang baik antara pemda DKI dengan para kontraktor yang membangun proyek-proyek milik pemda. Hal ini untuk mengontrol waktu kerja sehingga semua proyek dapat terselesaikan dengan cepat dan tepat, artinya bukan berarti asal-asalan. Harus betul-betul dipikirkan untuk efisiensi waktu pengerjaan khususnya proyek busway dan monorel yang sangat mengganggu kelancaran berlalu lintas.

Demikian paparan saya mengenai pemberlakuan aturan baru bagi sepeda motor dan kemacetan Jakarta. Hal tersebut saya analisis karena rasa kepedulian saya sebagai warga Jakarta dan rasa prihatin terhadap Jakarta yang setiap hari berkutat dengan masalah kemacetan lalu lintas.

By: Mr. Budy Snake

Social Observer

Posted on blogspot Tuesday, February 20, 2007

Hari ini saya baru bisa membeli barang yang dipesan oleh ayah saya setelah dua hari tertunda karena barang yang tidak tersedia. Setelah barang didapatkan maka ada hal lain yang membuat saya bingung, yaitu jasa pengiriman apa yang bisa digunakan agar besok dapat segera digunakan namun juga harus murah. Mengapa? Karena barang yang akan saya kirim berupa paku ulir seberat 60 kg. Bisa dibayangkan berapa biaya yg harus dikeluarkan apabila menggunakan jasa pengiriman kilat seperti CV. Tiki atau sejenisnya.

Saya teringat dengan salah satu rekan saya yang bergerak di bidang ekspedisi. Saya pun bergegas pulang ke rumah dahulu untuk mencari nomor teleponnya. Selain itu juga saya berpikiran untuk segera sampai rumah dahulu karena saya membawa barang tersebut menggunakan sepeda motor, sangat sulit, sampai kaki terasa kram. Setelah sampai rumah saya cari nomor yang bisa dikontak tetapi nihil. Saya mencoba tanya kepada rekan saya, dan akhirnya saya mendapat tiga nomor. Tetapi tidak satu pun nomor tersebut valid, bahkan diantaranya ada yang salah sambung. Saya benar-benar bingung, mengingat hari ini harus dikirim agar bisa digunakan besok pagi.

Waktu sudah menunjuk pukul 6.00 sore, adzan maghrib pun sudah berkumandang, belum ada solusi. Sampai akhirnya terpikir untuk menggunakan jasa ekspedisi menggunakan kereta api. Saya putuskan untuk berangkat ke stasiun Kota bersama seorang rekan menggunakan mobil, karena kuatir hujan :)

Sesampainya di stasiun kami akhirnya berhasil menemui seorang pegawai salah satu jasa ekspedisi. Bapak tersebut menawarkan jasa pengiriman ke Cirebon dengan biaya Rp 1.000,00 per kg. Barang akan dibawa besok pagi menggunakan Kereta Api Taksaka. Setelah setuju dengan biaya yang diberikan maka saya turunkan barang tersebut dan membuat tanda terima. Selain biaya pengiriman saya pun memberika sedikit tips untuk kuli angkat yang membantu kami sebesar Rp. 10.000,00. Total pengeluaran Rp 70.000,00 ditambah uang parkir Rp 2.000,00 :)

Lega rasanya tugas telah selesai dan barang sudah diserahkan kepada jasa pengiriman. Sekarang tinggal menunggu proses pengiriman dan berharap semoga barang bisa tiba dengan selamat di Cirebon.

Apakah ada yang memiliki pengalaman serupa? Apakah ada alternatif lain untuk pengiriman barang dari Jakarta menuju daerah timur seperti Cirebon?

By: Budy Snake
Social Observer

Kecelakaan Kereta Api beberapa bulan belakangan sering terjadi. Mulai dari yang paling sering seperti anjlok dari rel sampai terguling seperti yang dua hari lalu terjadi pada KA Citra Jaya. Bahkan beberapa jam setelah kejadian tergulingnya KA Citra Jaya, terjadi kecelakaan pula pada KA Argo Lawu yang anjlok di daerah Purwokerto – Jawa Tengah.

Kecelakaan anjlok dari rel merupakan hal yang paling sering dan lokasinya belakangan ini terjadi di daerah Purwokerto dan Banyumas. Mengapa hal ini bisa terus terjadi? Apakah memang PT Kereta Api Indonesia tidak konsen dalam membenahi infrastruktur rel yang makin tua usianya?

Selalu saja yang disalahkan adalah sang Menteri Perhubungan. Saya bukan pendukung Bapak Hatta Radjasa, saya pun tidak membela beliau. Hanya saja saya ingin kita melihat persoalan ini secara menyeluruh. Siapapun menterinya yang ditempatkan di Departemen Perhubungan tetapi apabila Sumber Daya Manusia yang ada di dalamnya bermental kerupuk, ya percuma dan sia-sia!

Di tingkat petinggi Dephub semua memang mungkin sudah bagus, mulai dari regulasi dan segala macam sanksi yang diberlakukan apabila ada yang melanggar. Namun kembali lagi pada pelaksanaan di lapangan yang seringkali tidak sesuai regulasi. Banyak oknum di Dephub yang melakukan pungutan liar. Hal tersebut juga sama dilakukan pada oknum di PT KAI yang juga tidak tegas dalam menjalankan aturan. Misal: Menerima pungutan liar dari penumpang yang tidak memiliki tiket. Dari hal-hal tersebut secara langsung akan mempengaruhi keuntungan PT KAI. Belum lagi oknum yang diduga korupsi di dalam perusahaan. Semua menjadi lingkaran setan tak terputus yang menyebabkan kinerja PT KAI terlihat dan terkesan sangat buruk. Misal: perawatan rel tidak dilakukan dengan baik, gaji pegawai PT KAI seperti penjaga perlintasan dan perawatan rel sangat kecil padahal tanggung jawab mereka besar.

Saya tidak berharap menteri Perhubungan dicopot, tetapi saya berharap pak menteri bisa bertindak tegas dalam menindak anggotanya yang nakal. Harus berani, karena yang melanggar itu dari tingkat atas sampai bawah. Harus berani mengambil suatu langkah terobosan besar untuk membenahi sistem transportasi di Indonesia.

By: Budy Snake
Social Observer