//
you're reading...
Kesehatan

Penggunaan Obat Generik

Baru saja saya mendengarkan acara Talk Show di Radio Sonora yang membahas mengenai obat generik. Tamu yang diundang adalah Dr. Marius Widjajarta SE, Ketua dari Yayasan Pemberdayaan Konsumen Indonesia dan Ibu Rini dari Tabloid Gaya Hidup Sehat. Dialog tersebut membahas seputar kurangnya sosialisasi tentang penggunaan obat generik. Dari dialog tersebut saya jadi semakin yakin dan dapat disimpulkan bahwa obat generik itu memiliki kandungan kimia yang sama dengan obat bermerek. Proses pembuatan obat generik pun harus mengikuti standar internasional. Hanya saja yang menjadi permasalahan di Indonesia adalah regulasi mengenai harga untuk obat bermerek yang tidak diatur ketat alias bebas. Sehingga para produsen dapat memberikan harga yang sangat mahal dan cenderung lebih menjual merek atau brand dibanding menjual obat itu sendiri.

Saya sangat setuju bahwa konsumen Indonesia memang saat ini seringkali dibodohi dengan pendapat bahwa kandungan kimia yang terdapat di dalam obat generik tidak sama dengan yang terkandung di obat bermerek. Di Indonesia sudah terbentuk imaji di masyarakatnya bahwa obat generik adalah obat murah yang kurang manjur. Memang murah karena harganya lebih murah jika dibandingkan dengan obat bermerek. Saya sangat terkejut ketika dr. Marius memberikan pernyataan bahwa perbedaan harga antara obat bermerek dengan obat generik mencapai 40 kali, 80 kali, bahkan ada yang 200 kali lebih mahal.

Obat generik sampai sekarang memang kurang populer atau kurang sosialisasi karena memang dari dokternya sendiri terkadang memang tidak menyarankan konsumen untuk menggunakan obat generik dan selalu menuliskan resepnya dengan obat-obat bermerek. Hal ini pun terjadi pada saya ketika dokter memberikan obat, yang direkomendasikan hampir selalu obat bermerek.

Ya, dokter memang manusia juga kan? Ketika sebuah produsen obat menawarkan bonus tertentu yang biasanya sangat besar, maka oknum dokter tersebut akan menempuh berbagai cara sampai dengan cara menyesatkan yang melanggar undang-undang perlindungan konsumen. Memang ada beberapa oknum dokter yang sengaja menyesatkan konsumen dengan pernyataan bahwa kandungan obat generik itu tidak sama dengan obat bermerek, sehingga efek obat tersebut akan lama dan kurang manjur. Hal ini tentunya sangat merugikan masyarakat, khususnya para pasien yang menjadi konsumennya.

Tentunya dari pihak produsen tidak ada masalah sama sekali dengan pemberian bonus yang besar kepada para oknum-oknum dokter tersebut mengingat keuntungan yang sangat fantastis dari penjualan obatnya yang diproduksi. Sehingga dalam hal ini antara produsen dan dokter akan sama sama mengalami keuntungan secara finansial namun di pihak lain konsumen sangat dirugikan dan disesatkan pola pikirnya terhadap obat generik.

Kita sebagai konsumen berhak untuk meminta kepada dokter untuk diberi resep obat generik. Apabila ada oknum yang mencoba melanggar atau menyesatkan pandangan mengenai obat generik perlu dilaporkan dan dapat dituntut secara hukum. Menurut penuturan dr. Marius pihaknya pernah memenangkan somasi sampai dengan denda 2 milyar rupiah.

Untuk segala macam pelanggaran dapat anda laporkan ke:
Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia
Jl. Senayan 39 Blok S Kebayoran Baru
Jakarta 12180
Telepon: 021 – 7244808

Laporan berupa surat tertulis berisi kronologis lengkap dan ditandatangani diatas materai Rp 6000,00. Pelaporan tersebut GRATIS dan tidak dipungut biaya apapun.

Jadi pertanyaannya:
Apakah anda masih meragukan obat generik?
Apakah anda masih ingin tetap membeli merek?

Mari kita sosialisasikan penggunaan obat generik.

By: Budy Snake
Social Observer

About mertanus

I am a magician and snakes charmer.

Discussion

9 thoughts on “Penggunaan Obat Generik

  1. banyak juga orang yang “alergi” dengan segala sesuatu yang murah-murah. Misalnya ada teman saya yang selalu memilih Amoxan dibandingkan Amoxicilin (keduanya adalah antibiotik, Amoxicilin adalah versi generiknya). Alasannya menurut teman saya itu, Amoxicilin sudah sering dipakai saat dia mengobati hewan peliharannya.
    Tapi wajar lah…orang kaya kan bebas….🙂

    Posted by tedytirta | 23 March 2007, 1:13 pm
  2. Mari kita sosialisasikan obat generik, obat paten itu yang mahal khan mereknya..doang, kandungannya sama dengan obat generik. Memang kita sering salah kaprah, merek bisa menyembuhkan..yang pentingkan kandungan obatnya.. betul khan BOS?..😀

    Posted by disease | 5 April 2010, 4:08 pm
    • Setuju. Kandungan dalam obat generik sama dengan obat bermerek. Yang membedakan adalah cara mengemasnya saja.

      Posted by mertanus | 22 April 2010, 10:39 pm
      • Sebenarnya kemasannya sih gitu2 juga Bro, paling ada hologram keaslian, beda warna, dll. Yang paling menentukan harga sih “yang mengemasnya”. Ada yang dikemas oleh artis/aktor terkenal(yang diklankan). Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa ada fee untuk pihak dokter dan ada komisi yang cukup besar untuk si sales marketing sesuai omset obat merk tersebut yang dibeli atas resep si dokter. Memang tidak salah jika dokter mendapatkan sedikit imbal balik dari resep yang dibuatnya, tapi yang membuat saya geram adalah jika dokter tersebut memang mencari keuntungan sampingan disitu dengan memaksa secara halus para pasiennya memakai obat yang dia tentukan.

        Posted by niki rendi | 23 May 2013, 5:53 pm
    • Benar Bro, Amoxicilin sangat murah tapi lihat hasilnya ketika akhiran katanya diganti dengan ‘san’, amox+san. Begitupula parasetamol sangat murah dan berubah harga ketika menjadi para+mex atau menjadi mahal ketika awalan kata diganti dengan ‘san’, san+mol.

      Posted by niki rendi | 23 May 2013, 6:11 pm
      • San itu mahal karena identik dengan Sanbe hehe. Ya namanya juga obat bermerek. Itulah hebatnya kemasan. Bisa bikin mahal.hehe

        Posted by mertanus | 23 May 2013, 8:34 pm
  3. Minggu kemarin telapak kaki saya tertusuk paku besar, dalam, dan berkarat, alhasil setelah 3jam mulai bengkak sampai sulit memakai sendal. Saya sendiri tidak ambil pusing dan menunggu sembuh, tetapi mantan pacar saya, eh maksudnya istri saya sangat khawatir dan memaksa saya ke R.S Kebon Jati untuk suntik anti Tetanus. Lalu saya pun berangkat untuk bertemu dokterlangganan yang selalu memberi obat generik tanpa diminta sekalipun. Sayangnya kali itu Sang dokter hanya merujuk saya untuk ke UGD. Lalu saya ke UGD dan bertemu seorang dokter(karena hanya dia dokter yang bertugas di UGD saat itu) yang terkenal paling anti dengan obat generik.
    Langsung saja saya dan istri ditakut-takuti dengan cerita naas pasien-pasien yang tidak mengikuti prosedur pengobatan. Dan dengan jujur saya bilang uang saya hanya bawa seratus ribu lebih(maksudnya tak sampai dua ratus ribu). Suster-suster pun saling tertawa kecil dan tersenyum. Prosedur yang ditawari dokter tersebut adalah operasi membuka luka dengan sayatan yang besar untuk mengeluarkan kotoran jika ada terdapat didalamnya, yang tentu saja memerlukan sekian dosis obat bius, lalu diobati dan disuntik anti Tetanussenilai 350ribu rupiah, yang langsung saja saya tolak mentah-mentah. Saya langsung berpikir bahwa obat bius dan lain-lain pasti bermerk semua karena bisa sampai harga segitu di sebuah rumah sakit yang notabene dikunjungi warga kelas menengah kebawah. Lalu dijalanilah pengobatan sederhana seperti yang saya minta senilai 150 ribu rupiah, dan tentu saja ada resep berobat jalan.
    Lagi-lagi seperti yang saya duga, harga obat2an tersebut sangat fantastis, sebuah resep penahan rasa sakit(analgesik) dan antibiotik seharga 150 ribu lebih. Sebenarnya dari bungkusnya yang berwarna hijau pun saya sudah tahu nama merk obat tersebut memang terkenal mahal. Lalu kami pun curhat dengan si apoteker dan si apoteker memang bilang dokter tersebut akan marah jika kita meminta obat generik padanya, dan dia bersedia menggantinya dengan obat generik dari Kimia Farma seharga 18ribu rupiah saja. Seraya saya berkata ‘generik saja Bu, kita gak mau beli merk’.
    Untung saja! pikirku, tadinya kami sudah berencana berjalan ke ATM di depan.
    Masih ada lagi!
    Ternyata si dokter membuatkan 2 buah resep, dan ketika saya serahkan pada apoteker resep yang satunya lagi saya pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Si apoteker menyebutkan bahwa obat yang ada di resep kedua adalah obat suntik yang bernilai 450 ribu rupiah. Banyak hal yang saya pikirkan saat itu, salah satunya ‘Apakah si dokter menyuruh saya membeli obatnya dahulu yang seharga 450ribu rupiah baru dia bersedia menyuntikannya?’ mungkin dia takut saya tak sanggup bayar. Untuk resep yang satu ini saya sudah memutuskan untuk tidak menebusnya. Saya tak habis pikir hanya karena kaki tertusuk paku bisa menghabiskan biaya berobat 950ribu rupiah menurut aturan dokter UGD tersebut.
    Ada sebuah cerita tambahan lagi, disaat kami di UGD ada pasien lain yang ibunya membeli obat dan berpapasan dengan kami di apoteker, biaya obat dia tak kalah hebatnya yaitu 450 ribu rupiah. Si Ibu tersebut membelinya dengan wajah lesu dan lemas karena dari busana yang dipakainya pun bukan pakaian mahal dan sekali lagi rumah sakit tersebut hampir semua pengunjungnya adalah kelas ekonomi menengah kebawah, dan kami berdua pun hanya bisa iba kepada ibu tersebut dari jauh, sambil berkata ‘benar-benar dokter tega’.

    Posted by niki rendi | 23 May 2013, 5:39 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Mengapa Obat Generik Sangat Murah « Blog Punya Mertanus - Budy Snake - 30 March 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: