//
you're reading...
Curah Pikiran, Transportasi

Suara Hati, Logika Berpikir, dan BERSYUKUR Dalam Segala Keadaan

 Malam itu, waktu di jam tangan saya tepat menunjuk pukul 10.00 malam. Diiringi hujan gerimis dan sejuknya udara kota Bandung. Bersama rekan saya, singgah di sebuah warung kecil, kami memesan makanan yang merupakan favorit kami. Kami menunggu lama hanya untuk satu porsi makanan, sambil menunggu saya berusaha kontak dengan rekan di Jakarta untuk memantau kondisi kota Jakarta yang statusnya siaga 1 dalam bencana banjir. Namun nada sibuk selalu terdengar walaupun sudah dicoba berkali-kali. Akhirnya saya coba hubungi lewat jalur komunikasi lain dan berhasil kontak dengan rekan saya. Menurut informasi dari rekan saya, situasi saat itu terpantau cerah namun kondisi jalan masih tergenang. Menurutnya selama tidak hujan, maka permukaan air tidak akan naik. Namun informasi yang diterima oleh rekan saya adalah pemadaman listrik kemungkinan besar akan dilakukan oleh pihak PLN.
Bingung!
Itu yang kami rasakan, belum lagi lapar yang semakin menjadi. Hati kecil saya tetap ingin ke Jakarta walaupun kondisinya kurang kondusif. Pertimbangan saya apabila air di jalan mulai naik maka akan saya pindahkan mobil saya ke tempat yang lebih tinggi, aman. Tetapi bagaimana dengan listrik yang kemungkinan akan dipadamkan apabila air terus naik dan membanjiri gardu listrik? Tidak ada aliran listrik berarti tidak ada air karena kebutuhan air kami sementara ini hanya bergantung kepada pompa air listrik. PDAM pun sudah menghentikan aliran airnya sejak 3 hari sebelum banjir menyerang Jakarta.
Benar saja dugaan saya, kurang lebih pukul 10:30 rekan saya memberi informasi bahwa hujan mulai mengguyur lagi walaupun tidak lebat. Belum sampai 10 menit rekan saya mengirimkan SMS yang isinya menyatakan bahwa listrik baru saja dipadamkan. Berarti kondisi akan gelap gulita dan tidak ada air!

Dalam situasi sambil menunggu makanan kami saling terdiam. Saya berdoa, bertanya pada Yesus apa yang harus saya lakukan? Apakah benar kata suara hati saya yang mengatakan akan aman apabila tetap pulang ke Jakarta?

Setelah menunggu selama 45 menit sambil terus berpikir akhirnya makanan yang kami pesan pun dihidangkan, kami pun makan dengan santai dan tetap berdiskusi tentang apa dan bagaimana menghadapi persoalan ini.

Selesai makan kami pun bergegas pergi untuk mencoba mencari ransum yang akan kami bawa apabila kami tetap ke Jakarta. Namun, karena sudah malam, toko yang kami tuju sudah tutup. Saya pun bingung, sembari terus menjalankan mobil saya secara perlahan mengelilingi salah satu sudut kota Bandung Barat.
Sampai dengan pukul 12:00 tengah malam blm ada keputusan pasti, akhirnya saya pun memacu mobil saya menuju tol, sesaat sebelum persimpangan antara Cileunyi dan Padalarang. Saya bertanya salah satu rekan saya, “Jadi, kemana kita akan pergi?” lalu secara spontan rekan saya menjawab, “Terserah, kemana pun kamu pergi saya ikut.” Detik itu pula saya putuskan untuk mengikuti kata hati yang sejak tiga jam lalu berkata untuk pergi ke Jakarta dengan segala risikonya.

Perjalanan menuju ke Jakarta melalui Tol Cipularang sangat lancar dengan waktu tempuh 1 jam 25 menit walaupun hujan lebat sempat menyertai perjalanan kami. Kami masuk Kota Jakarta tepat pukul 1.30 kondisi jalan masih basah namun tidak ada hujan. Mobil saya tetap melaju perlahan sambil terus melihat situasi setiap sudut yang saya lewati. Saya mulai mendekat ke area tempat tinggal saya, jalan utama yang menghubungi ke rumah saya masih ditutup oleh polisi, pertanda ada genangan air yang dalam dan tidak bisa dilalui kendaraan. Saya pilih jalan lain dengan melawan arus, terus melaju perlahan, makin dekat dengan komplek tempat tinggal saya. Ternyata di dekat komplek pun ada genangan air sedalam 25cm yang terpaksa harus dilalui. Perlahan saya lewati genangan sejauh 100meter tersebut, aman. Tepat pukul 1.45 saya sampai di depan rumah dan segera mermarkirkan mobil saya.

Kondisi gelap gulita sehingga agak menyulitkan pemindahan barang dari mobil menuju kamar. Saat itu pun kami bertemu dengan seorang rekan yang bertugas di PT. Telkom, dari beliau saya mendapat informasi bahwa kantor telkom yang berada di Jl. Gatot Subroto terendam banjir sehingga sentralnya mengalami kerusakan. Ah, pantas saja saya mengalami kesulitan ketika menghubungi rekan dari Bandung malam tadi.

Malam itu saya lalui hanya dengan temaramnya api lilin kecil, saya berusaha merasakan penderitaan para masyarakat Jakarta yang mengalami musibah banjir sehingga kehilangan segalanya, hidup di pengungsian yang susah makan, sulit air bersih, serta sanitasi yang buruk.
Saya bersyukur sekali karena saya tidak mengalami hal itu, saya masih bisa bersantai walaupun di kegelapan tanpa lampu, tanpa music, tanpa komputer, apalagi koneksi internet yang belakangan menemani saya.

Inti sari dari kisah saya ini adalah kita sebagai manusia harus berani mengambil keputusan dengan segala risikonya, tentunya dengan pertimbangan suara hati dan pikiran yang logis. Yang lebih penting adalah tetap bersyukur atas segala hal dalam kondisi apapun.

By: Budy Snake

Social Observer

Posted on Blogspot Sunday, February 18, 2007

About mertanus

I am a magician and snakes charmer.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: