//
you're reading...
Curah Pikiran, Sosial Budaya

Polisi Menembak Istri – Depresikah?

Kemarin, tanggal 1 Mei 2007 dini hari diberitakan bahwa seorang anggota Reserse Narkoba Polres Surabaya Utara, Briptu Deni Bagus Hariyono, menembak istrinya Vita Puspita. Persoalannya adalah pelaku marah dan tersinggung karena dituduh selingkuh oleh istrinya. Meskipun tidak sampai mengakibatkan kematian tetapi luka yang diderita korban tergolong parah sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Citra dari Kepolisian Republik Indonesia kali ini kembali tercoreng akibat ulah oknum polisi tersebut. Lagi-lagi diberitakan bahwa sang oknum terkenal baik, taat dalam tugas dan cenderung pendiam. Apakah pendiam berarti jaminan seseorang tidak bisa berbuat kasar? Tidak ada hubungannya menurut saya. Jadi belum tentu pendiam berarti baik atau sebaliknya. Semua kembali kepada karakter masing-masing orang. Ada yang berpendapat bahwa penyalahgunaan senjata api berhubungan dengan tes psikologi yang belum diperbaharui. Hal ini pun menurut saya tidak sepenuhnya benar. Lulus tes psikologi belum tentu benar-benar bisa mengendalikan diri, dan tes itu hanya berlaku pada saat dilakukan tes. Sedangkan seringkali mood seseorang bisa berubah setiap saat tergantung keadaan. Jadi menurut saya, yang paling penting adalah pengendalian diri dan mengontrol emosi dalam menghadapi persoalan.

Anda mungkin masih ingat dengan kejadian seorang perwira polisi di Semarang yang ditembak mati oleh anak buahnya sendiri. Penembakan yang dilakukan oleh Briptu Hance kepada atasannya sendiri yaitu AKBP Lilik Purwanto selaku Wakapolwiltabes. Pelaku yang diduga kecewa atas keputusan yang dirasa tidak adil yaitu dimutasi ke daerah lain. Hal tersebut menyulut kemarahan pelaku sehingga menembak dan menyebabkan kematian korban yang menjabat sebagai wakapolwiltabes Semarang.

Apa sebenarnya yang terjadi pada si pelaku? Apakah hanya karena hal yang terkesan sepele itu yang membuat pelaku begitu marah dan kesal sehingga melakukan penembakan? Hal ini yang pernah saya ulas dalam tulisan saya sebelumnya yang berjudul Depresi di Kepolisian Indonesia. Dalam tulisan tersebut, saya menduga bahwa para pelaku mengalami depresi berat. Saya juga menduga bahwa banyak anggota Polri terutama di level bawah yang mengalami depresi. Hal-hal apa yang sekiranya membuat mereka depresi sehingga sampai melakukan penembakan tersebut perlu diselidiki lebih mendalam. Apakah faktor ekonomi yang menjadi penyebab? Bisa saja itu penyebabnya. Tetapi saya berpendapat bahwa Polri sebaiknya segera mengambil langkah cepat dan meneliti lebih mendalam untuk mengetahui apa akar permasalahannya.

Walaupun kasus seperti ini persentasenya tergolong sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah personel polisi yang dipersenjatai di Indonesia tetapi tentunya hal ini tidak bisa disepelekan begitu saja. Harus ada langkah-langkah nyata dan cepat dari divisi Propam Polri.

Tetapi jangan pula Polri menyikapinya dengan berlebihan dan terkesan panik. Hasil pengamatan saya secara sekilas di media massa tentang langkah Polri pasca penembakan yang dilakukan oleh Briptu Hance kepada atasannya AKBP Lilik Purwanto tersebut sangat terkesan bahwa Polri panik. Kalau boleh saya dianalogikan, ibarat ingin membunuh tikus di sebuah rumah bukan tikus diracun / ditembak tetapi malah membakar rumah tersebut.

Hal yang menurut saya berlebihan adalah penarikan senjata dalam waktu yang hampir serentak oleh Polda Jateng. Hal ini pun diikuti oleh beberapa Polda di Indonesia termasuk Polda Jabar. Saya tidak tahu persis apakah memang ada instruksi dari Kapolri selaku pimpinan tertinggi atau tidak. Yang jelas hal ini menurut saya sangat berlebihan dan tidak masuk akal. Apabila ingin membenahi hal ini saya rasa tidak perlu dilakukan secara serentak dan berlebihan, bisa dilakukan bertahap dan mengikuti prosedur baku yang sudah ada. Apabila hanya masalah surat izin memegang senjata yang sudah kadaluarsa, saya kira itu bukan permasalahan sulit, bisa langsung diperpanjang. Kecuali ada beberapa anggota yang oleh atasan dianggap perlu untuk melakukan tes ulang itu adalah kasus yang berbeda.

Saya berpendapat seperti ini bukan tanpa alasan, tentunya saya memiliki alasan tersendiri. Mengingat ucapan bang napi di berita kriminal Sergap di RCTI bahwa “kejahatan bukan hanya karena ada niat pelakunya melainkan ada kesempatan” Nah berhubungan konteks tersebut saya berpendapat bahwa langkah Polri yang terkesan panik dengan menarik sejumlah besar senjata api dari anggotanya bisa saja dianggap sebagai kesempatan oleh para pelaku kejahatan. Para pelaku berpikir bahwa ini adalah kesempatan atau momentum yang tepat untuk beraksi, karena meraka tahu persis bahwa saat ini sebagian anggota Polri tidak dilengkapi senjata api.

Apabila boleh saya berikan contoh di sini yaitu kasus perampokan toko emas ABC di jalan Pasirkoja Bandung. Kasus yang membuat heboh kota Bandung ini sangat relevan sekali apabila dihubungkan dengan adanya “kesempatan” tadi. Pada saat kasus perampokan tersebut terjadi sebenarnya anggota Polsek Astana Anyar sudah berhasil mengepung lokasi kejadian. Namun dari lima belas personel polisi yang datang hanya dua orang yang membawa senjata api. Hal ini dikarenakan adanya perintah penarikan senjata oleh atasan mereka. Bagaimana mungkin dua personel polisi bersenjatakan pistol revolver dengan peluru yang terbatas dapat melumpuhkan empat perampok bersenjata otomatis? Akhirnya sudah bisa diduga, sang pelaku perampokan bisa kabur dengan bebas, dan belum tertangkap hingga kini. Sebaliknya banyak korban luka dari masyarakat dan anggota polisi yang bertugas. Bahkan dua orang pria tewas di tempat yaitu pemilik toko dan salah satu pembeli di toko emas tersebut. Saya pikir hal ini sudah diperhitungkan matang oleh para pelaku dan mereka tahu betul bagaimana memanfaatkan kesempatan ini.

Jadi menurut saya langkah berlebihan Polri dengan menarik senjata dari semua kesatuan dengan waktu yang hampir bersamaan tersebut tidak tepat dan bukan cara yang efektif. Apabila sampai sekarang masih dilakukan, seyogyanya perlu dikaji ulang.

Mungkin saya bisa memberikan solusi bahwa yang perlu dilakukan adalah penertiban administrasi bagi anggota yang memegang senjata api, misal memeriksa tiap anggota yang lisensi memegang senjata apinya sudah kadaluarsa dan bila perlu dilakukan tes ulang kepada anggota yang sekiranya memang perlu dites ulang. Pada saat proses ini sekaligus dilakukan pengecekan fisik senjata dan jumlah peluru yang dijatahkan. Dengan kata lain, segala sesuatunya dilakukan berdasar skala prioritas, bertahap dan yang penting juga adalah kerahasian yang harus dijaga dari pelaksanaan prosedur ini. Karena yang terjadi dari langkah berlebihan Polri yang dilakukan saat ini dengan menarik sejumlah besar senjata dari anggotanya, dilakukan sangat terbuka, beredar di kalangan wartawan dan tersebar di media massa.

By: Budy Snake
Social Observer

About mertanus

I am a magician and snakes charmer.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: