//
you're reading...
Curah Hati

Garra Rufa Mati

image

Hari Minggu sore kemarin kira kira satu jam sebelum tiba di rumah. Saya mendapat SMS yang berbunyi kurang lebih, “Pak maaf, tadi kolam dekat meja makan saya kuras, ikannya banyak yang mati”

Saya sambil nyetir berusaha tetap tenang. Walaupun saya tahu persis bahwa yang di deket meja makan itu adalah ikan Garra Rufa kesayangan saya. Ikan yang saya pelihara sejak bayi. Usianya sudah hampir dua tahun. Berarti sudah hampir dua tahun saya merawatnya.

Saya sempat berpikir bahwa karena ikan banyak mati maka dia kuras. Saya pun SMS lagi untuk memastikan.
“Wah kok bisa mati, kenapa ya? Yang mati berapa ekor?” tanya saya.
“Ga tau Pak, tadi pagi sebelum dikuras masih hidup semua. Setelah dikuras mati lemas satu per satu,” jawabnya.
Saya tanya lagi, “Berapa ekor yang mati?”
Jawabnya, “Banyak Pak, yang hidup tinggal seperempat”

Waduh….. Pengen teriak rasanya!!!

Ada beberapa hal yang membuat saya kesal, marah, dan tak habis pikir.

Pertama, saya tidak minta dia untuk menguras kolamnya. Itu inisiatif dia. Untuk hal ini ok, saya masih bisa mengerti.

Kedua, dia menguras kolam. Lalu setelahnya dia tahu persis ikan-ikan itu lemas dan akhirnya mati dari per satu sampai tinggal seperempatnya! Tetapi kok dia tidak telepon saya? Saya tahu persis bahwa penyebab ikan itu mati lemas adalah karena air baru. Dan itu hanya perlu tambahan garam ikan untuk mempercepat proses stabilnya kondisi air. Apakah dia berpikir bahwa nyawa hewan iri itu tidak berharga? Sehingga dia begitu menyepelekan?

Banyak pertanyaan yang ada di benak saya. Ingin cepat sampai saja rasanya saat itu. Saya nyetir agak kencang saat itu. Tidak sabar ingin cepat sampai rumah.

Begitu sampai rumah saya dihadapkan kenyataan yang begitu menyedihkan. Saya melihat puluhan ekor Garra Rufa asal Turki tersebut mati di dalam ember. Foto di atas adalah foto ikan mati yang saya potret dari atas. Yang nampak itu adalah perut-perut ikannya.

Segera saya ambil sekop kecil. Saya gali tanah dan saya kuburkan di halaman rumah. Sedih sekali rasanya. Sudah hampir dua tahun saya rawat. Sekarang mati massal dengan cara yang tragis. Pembunuhan karena kelalaian pembantu di rumah.

Perasaan saya saat itu sangat sedih, kesal, dan marah menjadi satu. Tetapi saya hanya diam, diam, dan diam. Terkadang dalam hidup kita menghadapi kenyataan seperti contoh di atas. Kita tak berdaya oleh suatu kondisi.

Saya hanya tanya pada dia kronologisnya dan memberi penjelasan mengapa ikan-ikan itu mati. Sehingga dia tau titik kelirunya.

Saya tetap tenang dan sabar. Berusaha menerima kenyataan. Akhirnya saya pun menang. Tidak terbawa emosi. Saya anggap ini pembelajaran positif.

Toh saya marah pun ikannya tidak hidup kembali kan?🙂

By: Budy Snake

About mertanus

I am a magician and snakes charmer.

Discussion

5 thoughts on “Garra Rufa Mati

  1. apa itu Garra Rufa?

    Posted by tedytirta | 29 May 2013, 9:25 am
  2. lho Ted ko nda tau Garra Rufa….

    Posted by Agus Tj | 2 June 2013, 11:43 pm
  3. saluuuut bt bpk. Jrang2 org bs nerima hewan ksyngnnya mti mendadak

    Posted by betty | 5 June 2013, 5:16 pm
    • Terima kasih. Ini pelajaran dalam hidup. Pelajaran untuk menerima kenyataan hidup yang tidak bisa kita tolak. Belajar untuk tetap sabar dan positif.

      Posted by mertanus | 6 June 2013, 10:17 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: